Rahasia Fatimah Yang Diceritakan Pada Aisyah

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al Jahdari Fudhail bin Husain; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Firas dari ‘Amir dari Masruq dari ‘Aisyah dia berkata;
‘Suatu ketika para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkumpul dan berada di sisi beliau tanpa ada seorang pun yang tidak hadir saat itu. Tak lama kemudian, datanglah Fatimah dengan berjalan kaki yang mana cara jalannya persis -dan tidak berbeda sama sekali- dengan cara jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika melihatnya, maka beliau pun menyambutnya dengan mengucapkan: “Selamat datang hai puteriku yang tercinta!” Setelah itu beliau mempersilahkannya untuk duduk di sebelah kanan atau di sebelah kiri beliau. Lalu beliau bisikkan sesuatu kepadanya hingga ia (Fatimah) menangis tersedu-sedu. Ketika melihat kesedihan hati Fatimah, maka sekali lagi Rasulullah pun membisikkan sesuatu kepadanya hingga ia tersenyum gembira. Lalu saya (Aisyah) bertanya kepada Fatimah; ‘Ya Fatimah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan keistimewaan kepadamu dengan membisikkan suatu rahasia di hadapan para istri beliau hingga kamu menangis sedih.’ Setelah Rasulullah berdiri dan berlalu dari tempat itu, saya pun bertanya kepada Fatimah;
 ‘Hai Fatimah, sebenarnya apa yang dikatakan Rasulullah kepadamu dalam bisikan tersebut? ‘ Fatimah menjawab; “Wahai Ummul mukminin, sungguh saya tidak ingin menyebarkan rahasia yang telah dibisikkan Rasulullah kepada saya.” Aisyah berkata; ‘Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia, saya hampiri Fatimah seraya bertanya kepadanya; ‘Hai Fatimah, saya hanya ingin menanyakan kepadamu tentang apa yang telah dibisikkan Rasulullah kepadamu yang dulu kamu tidak mau menjelaskannya kepada saya.’ Fatimah menjawab; ‘Wahai Ummul mukminin, sekarang -setelah Rasulullah meninggal dunia- saya akan memberitahukannya kepadamu. Dulu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membisikkan sesuatu kepada saya, untuk yang pertama kali, beliau memberitahukan bahwasanya Jibril dan beliau biasanya bertadarus Al Qur’an satu atau dua kali dalam setiap tahun dan kini beliau bertadarus kepadanya (Jibril) sebanyak dua kali. Sungguh aku (Rasulullah) tahu bahwa ajalku telah dekat. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya sebaik-baik pendahulumu adalah aku.’ Fatimah berkata; ‘Mendengar bisikan itu, maka saya pun menangis, seperti yang kamu lihat dulu. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kesedihan saya, maka beliau pun berbisik lagi kepada saya: ‘Hai Fatimah, maukah kamu menjadi pemimpin para istri orang-orang mukmin atau sebaik-baiknya wanita umat ini? Lalu saya pun tertawa seperti yang dulu kamu lihat.”
HR. Muslim

Harta Akan Menjadi Saksi Keserakahan Manusia Di Akhirat Kelak

Telah menceritakan kepadaku Ali bin Hujr telah mengabarkan kepada kami Isma’il bin Ibrahim dari Hisyam, saudaranya Dastawa`i dari Yahya bin Abu Katsir dari Hilal bin Abu Maimunah dari Atha` bin Yasar dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di atas mimbar, sedangkan kami duduk di sekeliling beliau. Kemudian beliau bersabda: “Yang aku khawatirkan terhadap kamu semua sepeninggalku kelak, ialah karunia Allah terhadap kalian berupa harta benda perhiasan dunia.”
Lalu seorang laki-laki bertanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik mendatangkan keburukan, wahai Rasulullah?” Mendengar pertanyaan itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam.
Kemudian dikatakanlah kepada sahabat yang bertanya tadi, “Bagaimana pendapatmu, kamu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun beliau tidak menjawab pertanyaanmu?” Laki-laki itu menjawab, “Aku mengira, mungkin wahyu sedang diturunkan kepada beliau.”
Setelah sadar kembali, beliau menghapus keringat beliau, lalu bersabda: “Sesungguhnya penanya ini (adalah penanya yang cerdas) ” -beliau mengucapkannya dengan sikap seperti memuji-. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kebaikan itu tidak akan mendatangkan keburukan.
Tetapi apa yang ditumbuhkan di musim hujan, kadang-kadang dapat membunuh atau menyakitkan. Kecuali bagi pemakan sayur-sayuran yang memakan hanya sampai kenyang, kemudian dia menghadap ke matahari, lalu buang air besar atau kecil, sesudah itu barulah ia makan kembali. Sesungguhnya harta benda dunia itu kelihatannya hijau dan manis.
Tetapi sebaik-baik harta seorang muslim, ialah yang disedekahkannya kepada orang miskin atau kepada anak yatim atau ibnu sabil (seorang yang sedang melakukan perjalanan).” Atau seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapa yang memperoleh harta dengan tidak halal, maka ia seperti seorang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang (puas). Sedangkan harta itu akan menjadi saksi bagi keserakahannya kelak di hari kiamat.”
HR. Muslim

Saat Pandangan Mata Mengikuti Ruhnya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dari Al ‘Ala` bin Ya’qub ia berkata, telah mengabarkan kepadaku bapakku bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukankah kalian telah menyaksikan bahwa jika seseorang meninggal dunia matanya akan terbelalak?” Para sahabat menjawab, “Ya, kami telah menyaksikan.” Beliau bersabda: “Itu terjadi sa’at pandangan matanya mengikuti ruhnya (yang keluar dari jasad-pent).” Dan telah menceritakannya kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Ad Darawardi dari Al Ala` dengan isnad ini.
HR. Muslim

Yang Dilakukan Rasulullah Ketika Sholat Malam

Yang Dilakukan Rasulullah Ketika Sholat Malam
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Muhammad yaitu anak Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah dari Kuraib dari Ibnu Abbas ia berkata; “Saya bermalan di rumah bibiku, Maimunah. Maka saya pun ingin melihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan shalat malam.
(Maka pada malam itu) beliau bangun dan kencing. Kemudian beliau membasuh wajahnya, kedua tangannya dan tidur kembali. Kemudian beliau bangun dan langsung beranjak menuju qirbah (tempat air). Beliau membuka tutupnya dan menuangkannya ke dalam mangkuk kecil. Kemudian beliau menciduk dengan tangannya dan berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya. Setelah itu beliau shalat, dan saya pun ikut shalat bersama beliau dengan berdiri di sebelah kirinya. Namun beliau memegang dan memindahkanku ke sebelah kanannya. (Pada malam itu) shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sempurna tiga belas raka’at. Sesudah itu beliau tidur hingga mendengku. Dan kami tahu jika tidur beliau mendengkur. Setelah itu, beliau keluar untuk menunaikan shalat Subuh.
Kemudian beliau membaca di dalam shalat atau di dalam sujudnya: “ALLAHUMMAJ’AL FII QALBII NUURAN WA FII SAM’II NUURAN WA FII BASHARII NUURAN WA ‘AN YAMIINII NUURAN WA ‘AN SYIMAALII NUURAN WA AMAAMII NUURAN WA KHALFII NUURAN WA FAUQII NUURAN WA TAHTII NUURAN WAJ’AL LII NUURAN -atau beliau mengatakan- WAJ’ALNII NUURAN (Ya Allah, berilah cahaya pada hatiku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dari sebelah kananku, cahaya dari sebelah kiriku, cahaya dari depanku, cahaya dari belakangku, cahanya dari atasku, cahaya dari bawahku, dan berilah aku cahaya).” Dan telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami An Nadlru bin Syumail telah mengabarkan kepada kami Syu’bah Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Kuhail dari Bukair dari Kuraib dari Ibnu Abbas. Salamah berkata; Saya menjumpai Kuraib maka ia pun berkata, Ibnu Abbas berkata; Saya berada di rumah bibiku, Maimunah kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian ia pun menyebutkan hadits serupa dengan hadits Ghundar, dan ia mengatakan; “WAJ’ALNII NUURAN (Dan berilah aku cahaya).” Tanpa keraguan. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Hannad bin As Sariya keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari Salamah bin Kuhail dari Abu Risydin Maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas ia berkata; Saya bermalam di rumah bibiku, Maimunah. Ia pun mengkisahkan hadits, namun ia tidak menyebutkan Ghaslul Wajh wal Kaffain (membasuh wajah dan kedua telapak tangan). Hanya saja ia mengatakan; “Kemudian beliau mendatangi qirbah dan membuka tutupnya, lalu beliau berwudlu di antara dua wudlu, kemudian beliau beranjak ke tempat tidurnya dan tidur. Setelah itu, beliau bangun kembali, lalu beranjak menuju qirbah (tempat air) lalu membuka tutupnya, kemudian berwudlu.” Kemudian beliau membaca: “A’ZHIM LII NUURA (Ya Allah, perbesarlah cahaya untukku).” Dan ia tidak mengatakan; “WAJ’AlNII NUURA.” Dan telah menceritakan kepadaku Abu Thahir Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Abdurrahman bin Salman Al Hajri dari Uqail bin Khalid bahwa Salamah bin Kuhail telah menceritakan kepadanya bahwa Kuraib telah menceritakan kepadanya bahwa Ibnu Abbas pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak menuju qirbah (tempat air), menuangkan air darinya dan berwudlu dengan tidak banyak menggunakan air, namun beliau juga tidak mengurangi wudlunya. 
Ia pun menyebutkan hadits. Kemudian di dalam hadits itu ia mengatakan; Pada malam itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a dengan sembilan belas kata. Salamah berkata, telah menceritakannya kepadaku Kuraib, dan saya menghafal darinya dua belas kata dan sisanya lupa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a: “ALLAHUMMAJ’AL LII FI QALBII NUURAN WA FII LISAANII NUURAN, WA FII SAM’II NUURAN WA FII BASHARI NUURAN WA MIN FAUQII NUURAN WA MIN TAHTII NUURAN WA ‘AN YAMIINII NUURAN WA ‘AN SYIMAALII NUURAN WA MIN BAINI YADAYYA NUURAN WA MIN KHALFII NUURAN WAJ’AL FII NAFSII NUURAN WA A’ZHIM LII NUURAAN (Ya Allah jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di dalam lisanku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya dari arah kananku, cahaya dari sebelah kiriku, cahaya dari arah depanku, cahaya dari belakangku, dan berilah cahaya di dalam jiwaku dan perbesarlah cahaya untukku).” Dan telah menceritakan kepadaku Abu Bakr bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah mengabarkan kepadaku Syarik bin Abu Namir dari Kuraib dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata; “Saya bermalam di rumah Maimunah, yang saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di rumahnya. Demikian itu, agar saya dapat melihat bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbincang-bincang bersama isterinya sejenak, kemudian beliau tidur.” Ia pun menuturkan hadits. Dan di dalamnya ia mengatakan; “Kemudian beliau bangun lalu berwudlu dan bersiwak.”
HR. Muslim

Doa Sesudah Adzan

Doa Sesudah Adzan • Nasehat Islam
Berikut ini bacaan do’a setelah adzan dalam 2 versi yaitu dalam bahasa arab dan bahasa indonesia.
Do’a tersebut yaitu :
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ سَيِّدَ نَا مُحَمَّدَا ن الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالشَّرَفَ وَالدَّ رَجَةَ العَالِيَةَالرَّفِيعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَّحْمُوْدَاإ الَّذِيْ وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادِ
Latin
” Allahumma rabba haadzihid-da’watit taammah wash-shalaatil-qaa’imah, aati sayyidinaa Muhammadanil-wasiilata wal-fadhiilah wasy-syarofa wad-darojatal-‘aaliyatar-rofii’ah, wab’ atshul-maqaamam-mahmuudanil-ladzii wa’adtah innaka laa tukhliful-mii’aad. ” 
Artinya :
“Ya Allah, penguasa panggilan yang sempurna (adzan dan qomat) dan shalat yang didirikan, berikanlah kepada nabi Muhammad washilah, keanugerahan, kemulyaan, dan derajat yang luhur, keistimewaan dan tempatkanlah di tempat yang mulia yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak (pernah) menyalahi janji. ”

Anjing Hitam Adalah Setan

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Ismail Ibnu Ulayyah dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Yunus dari Humaid bin Hilal dari Abdullah bin ash-Shamit dari Abu Dzarr dia berkata,
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian hendak shalat, sebaiknya kamu membuat sutrah (penghalang) di hadapannya yang berbentuk seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, apabila di hadapannya tidak ada sutrah seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, maka shalatnya akan terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam.’ Aku bertanya, ‘Wahai Abu Dzarr, apa perbedaan anjing hitam dari anjing merah dan kuning? Dia menjawab, ‘Aku pernah pula menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana kamu menanyakannya kepadaku, maka jawab beliau, ‘Anjing hitam itu setan’.” Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin al-Mughirah dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami Bapakku dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Ishaq juga telah mengabarkan kepada kami al-Mu’tamar bin Sulaiman dia berkata, “Saya mendengar Salm bin Abi adz-Dzayyal dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepadaku Yusuf bin Hammad al-Ma’ni telah menceritakan kepada kami Ziyad al-Bakkai dari ‘Ashim al-Ahwal masing-masing meriwayatkan dari Humaid bin Hilal dengan isnad Yunus sebagaimana haditsnya.
HR. Muslim

Pernikahan Fatimah Az-Zahra Dan Ali Bin Abi Thalib

Siti Fatimah Az Zahra r.a mencapai puncak keremajaan dan kecantikannya ketika Islam dibawa Nabi Muhammad SAW sudah maju dan pesat di Madinah dan sekitarnya. Ketika itu Siti Fatimah Az Zahra r.a benar-benar telah menjadi anak gadis remaja. Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pemuda terhormat yang menaruh harapan ingin mempersuntingkan puteri Rasulullah SAW itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Ansar telah berusaha melamarnya. 
Menangani lamaran itu, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahawa baginda sedang menanti datangnya petunjuk dari Allah SWT mengenai puterinya itu. Pada suatu hari Abu Bakar As Siddiq r.a, Umar Ibnul Khattab r.a dan Saad bin Muaz bersama- sama Rasulullah SAW duduk dalam masjid baginda. Pada kesempatan itu diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasulullah SAW. Ketika itu baginda bertanya kepada Abu Bakar As Siddiq r.a, “Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu kepada Ali bin Abi Talib?” Abu Bakar As Siddiq r.a menyatakan kesediaannya. Ia berangkat untuk menghubungi Sayidina Ali r.a. Sewaktu Sayidina Ali r.a melihat datangnya Abu Bakar As Siddiq r.a dengan tergopoh-gapah, ia menyambutnya dengan terperanjat kemudian bertanya, “Anda datang membawa berita apa?” Setelah duduk rehat sejenak, Abu Bakar As Siddiq r.a segera memperjelaskan persoalannya, “Wahai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai lebih keutamaan dibandingkan dengan orang lain. 
Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian juga engkau adalah kerabat Rasulullah SAW. Beberapa orang Sahabat terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada baginda untuk dapat mempersuntingkan puteri baginda. Lamaran itu semuanya baginda tolak. Baginda menyatakan bahawa persoalan puterinya diserahkan kepada Allah SWT. Akan tetapi, wahai Ali, apa sebab hingga sekarang engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri baginda itu dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu.” Mendengar perkataan Abu Bakar r.a itu, mata Sayidina Ali r.a berlinang-linang. Menanggapi kata-kata itu, Sayidina Ali r.a berkata, “Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa.” Abu Bakar r.a terharu mendengar jawapan Sayidina Ali r.a yang menyentuh perasaan itu. Untuk membesarkan dan menguatkan hati Sayidina Ali r.a, Abu Bakar berkata, “Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka!” Setelah berlangsung dialog seterusnya, Abu Bakar r.a berjaya mendorong keberanian Sayidina Ali r.a untuk melamar puteri Rasulullah SAW. Beberapa waktu kemudian, Sayidina Ali r.a datang menghadap Rasulullah SAW yang ketika itu sedang berada di tempat kediaman Ummu Salamah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah yang mengetuk pintu?” Rasulullah menjawab, “Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!” Jawapan Nabi Muhammad SAW itu belum dapat memuaskan hati Ummu Salamah r.a. Ia bertanya lagi, “Ya, tetapi siapakah dia itu?” “Dia saudaraku, orang kesayanganku!” jawab Nabi Muhammad SAW. Tercantum dalam banyak riwayat, bahawa Ummu Salamah di kemudian hari mengisahkan pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Sayidina Ali r.a kepada Nabi Muhammad SAW itu: “Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku terhantuk-hantuk. Setelah pintu kubuka, ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Talib. Aku lalu kembali ke tempatku semula.
 Dia masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasulullah SAW. Ia dipersilakan duduk di depan baginda. Ali bin Abi Talib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai maksud tetapi malu hendak mengutarakannya. Rasulullah mendahului berkata, “Wahai Ali, nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperolehi dariku!” Mendengar kata-kata Rasulullah SAW itu, lahir keberanian Ali bin Abi Talib untuk berkata, “Maafkanlah aku, ya Rasulullah. Engkau tentu ingat bahawa engkau telah mengambil aku dari bapa saudara engkau, Abu Talib dan ibu saudara engkau, Fatimah binti Asad, ketika aku masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa. Sesungguhnya Allah telah memberi hidayah kepadaku melalui engkau juga. Dan engkau, ya Rasulullah, adalah tempat aku bernaung dan engkau jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan Akhirat. Setelah Allah membesarkan aku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga, hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri engkau, Fatimah. Ya Rasulullah, apakah engkau berkenan menyetujui untuk menikahkan diriku dengannya?” Ummu Salamah membuka kisahnya: “Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, “Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kahwin?” “Demi Allah,” jawab Ali bin Abi Talib dengan terus terang, “Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta.” “Tentang pedangmu itu,” kata Rasulullah menanggapi jawapan Ali bin Abi Talib, “Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh.
 Oleh kerana itu aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kahwin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah Azza wa Jalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!” Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a. Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh para Sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya: “Bahawasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas mas kahwin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu.” “Ya Rasulullah, itu kuterima dengan baik,” jawab Ali bin Abi Talib dalam pernikahan itu. Demikianlah berlakunya pernikahan antara dua orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW yakni puterinya, Siti Fatimah dan Sahabat yang jua merupakan sepupu baginda yakni Sayidina Ali. Rasulullah SAW mendoakan keberkahan atas perkahwinan itu. “ Semoga Allah menghimpunkan yang terserak daripada keduanya, memberkati mereka berdua dan semoga Allah meningkatkan darjat keturunan mereka menjadi pembuka rahmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat “

Tasbih Untuk Fatimah Az-Zahra

Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Apakah ingin aku ajarkan pada kalian berdua sesuatu yang baik untuk kalian dan nilainya lebih baik dari seorang pembantu? dan sesuatu itu adalah ketika engkau hendak pergi tidur bacalah tiga puluh empat kali “Allah-u Akbar”dan tiga puluh tiga kali“Subhanallah” dan tiga puluh tiga kali “Alhamdulillah”. Kemudian Fathimah (as) mengangkat kepalanya dan dua kali(dalam riwayat lain tiga kali) berkata: “Aku rela dan senang dari Allah dan RasulNya.”.
Kisah Tentang Tasbih Fathimah Az-Zahra (sa)
Oleh: Sayyid Abd Hannan Yunus Assegaf
Tampak dari sebagian riwayat yang menegaskan bahwa Nabi besar Muhammad (saw) yang mengajarkan tasbih ini kepada putrinya yang tercinta Fathimah Zahra (as), dan setelah diajarkannya pun beliau dengan senantiasa dan terus menerus secara berkesinambungan membaca tasbih ini, sehingga tasbih ini dikenal dengan “Tasbih Fathimah Zahra” (as), dan memiliki keistimewaan tersendiri di sisi para Imam Ma’sum.
Bukti dari pernyataan di atas adalah sebuah riwayat hadits panjang, yang diriwayatkan oleh ketua ulama hadits Syekh Shoduq (ra), dalam kitabnya “Man La yahduruhul Fakih” .
Dinukil dari Amirul Mukminin Ali (as), yang berbunyi : “Telah diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali (as) kepada salah seorang dari kabilah Bani Saad, beliau bersabda:
“Maukah engkau mengetahui sedikit dari keadaan Fathimah (as), ketika beliau berada di rumahku, jika engkau menghendaki akan aku katakan?
Beliau walaupun seorang pribadi yang sangat dicintai oleh Rasulullah (saw), namun beliau masih tetap mengangkat air untuk keluarganya, sehingga tampak berbekas hitam di dadanya, dan begitu seringnya beliau menyapu rumahnya, sehingga banyak debu yang menempel dan melekat di bajunya, dan begitu sering beliau di depan tungku dengan api yang panas menyala, sehingga sebagian baju yang ia pakai berubah warnanya, bak seorang yang jatuh tertimpa musibah.” Aku katakan padanya: “Jika engkau datang menemui ayahmu dan meminta darinya seseorang yang dapat membantu meringankan pekerjaan rumahmu ini, itu akan lebih baik dan sangat bermanfaat.”
Kemudian Fathimah (as), pergi menemui ayahnya, namun ada beberapa orang yang sedang berbicara di sekitar Rasulullah (saw), melihat itu beliau urungkan niat untuk menemuinya dan kembali pulang ke rumahnya. Rasulullah tahu bahwa putri kesayangannya datang menemuinya untuk satu hajat, namun sebelum terpenuhi hajatnya, beliau kembali pulang.
Esok harinya Rasulullah datang ke rumah kami, dan ketika itu aku dan Fathimah masih sedang beristirahat. Nabi sebanyak tiga kali mengucapkan salam, kemudian kami berpikir kalau salam yang ketiga kalinya ini tidak kami jawab, maka beliau akan kembali pulang, karena sudah menjadi tradisi beliau, jika untuk meminta izin masuk, beliau mengucapkan salam sebanyak tiga kali, jika diizinkan masuk, beliau akan masuk dan jika tidak, beliau akan kembali pulang. Dan kami pun menjawabnya:
“Salam atasmu wahai utusan Allah, silakan masuk.” Rasulullah (saw) masuk dan duduk persis di samping kepala kami, kemudian bertanya kepada putrinya: “Wahai Fathimah, kemarin engkau datang menemuiku, katakanlah apa hajatmu.?
Karena malu Fathimah tak menjawab pertanyaan ayahnya. Kemudian aku merasa takut seandainya tidak aku jawab pertanyaan itu maka beliau akan beranjak pulang. Ketika beliau bangun dan berdiri hendak beranjak pergi, dengan cepat aku mengangkat kepalaku dan berkata:
“Wahai utusan Allah, akan aku katakan sesuatu padamu, bahwa sebenarnya Fathimah begitu sering mengangkat air untuk keluarganya, sehingga tampak berbekas hitam di dadanya, dan tak lepas beliau juga selalu menyapu rumahnya, sehingga banyak debu yang menempel dan melekat di bajunya, dan begitu seringnya beliau di depan tungku dengan api yang panas menyala, sehingga sebagian baju yang ia pakai warnanya berubah, bak seorang yang jatuh tertimpa musibah”.Aku katakan padanya:“Jika engkau datang menemui ayahmu dan meminta darinya seseorang yang dapat membantu meringankan pekerjaan rumahmu ini, itu akan lebih baik dan sangat bermanfaat.”
Kemudian Rasulullah (saw) bersabda:
“Apakah ingin aku ajarkan pada kalian berdua sesuatu yang baik untuk kalian dan nilainya lebih baik dari seorang pembantu? dan sesuatu itu adalah ketika engkau hendak pergi tidur bacalah tiga puluh empat kali “Allah-u Akbar” dan tiga puluh tiga kali “Subhanallah” dan tiga puluh tiga kali “Alhamdulillah”. Kemudian Fathimah (as) mengangkat kepalanya dan dua kali(dalam riwayat lain tiga kali) berkata: “Aku rela dan senang dari Allah dan RasulNya.”.(1)
Taklupa juga dikatakan bahwa riwayat di atas juga telah dinukil oleh beberapa ulama besar seperti Syek Baha-i dalam kitabnya “Miftahul Falah” , Alamah Majlisi dalam kitabnya “Biharul Anwar” dan Muhaddits Qummi dalam kitabnya “Baitul Ahzan”. Walaupun dengan sedikit perbedaan dalam beberapa teksnya. Sebagaimana Muhaddits Qummi menyebut zikir “Allah-u Akbar” di akhir bacaan bukan di awalnya. Begitu juga Ibnu Syahr-e Ăsyub dalam kitabnya “Manaqib Ăli Abi Thalib” yang mencantumkan riwayat tentang ajaran Rasul kepada putri kesayangannya Fathimah Zahra (as) secara ringkas, dan kepada para pembaca yang ingin mengkaji lebih dalam bisa merujuk kitab tersebut.(2)
Alamah Majlisi dalam kitab “Biharul Anwar” meriwayatkan dari kitab “Da’aimul Islam” bahwa saiyidina Ali (as) bersabda: “Sebagian raja dari orang-orang ‘azam mengirimkan hadiah para budak mereka untuk Rasulullah (saw), dan aku katakan pada Fathimah pergilah engkau untuk menemui ayahmu, dan mintalah darinya seorang pelayan yang dapat membantu meringankan pekerjaan rumahmu. Dan Fathimah pun menemui dan meminta kepada ayahnya seorang pembantu, kemudian Rasulullah kepadanya bersabda:
“Wahai Fathimah aku berikan sesuatu padamu, yang sesuatu itu nilainya jauh lebih baik dari pembantu yang engkau inginkan. Bahkan lebih baik dunia dan seisinya. Setelah engkau melaksanakan sholat, bacalah “Allah-u Akbar” tiga puluh empat kali, dan “Alhamdulillah” tiga puluh tiga kali dan juga “Subhanallah” tiga puluh tiga kali, dan tutuplah bacaan tadi dengan membaca “La ilaha illallah”(*dalam riwayat lain disebutkan untuk dibaca sebanyak seratus kali). Dan hal ini untukmu lebih baik dari sesuatu yang engkau inginkan, dan juga dari dunia dan seisinya. Maka Fathimah Zahra (as) pun melaksanakan apa yang dinasihatkan ayahnya, yaitu setelah melakukan sholat beliau senantiasa dan tak pernah lupa untuk membaca tasbih ini, sehingga tasbih ini dikenal dengan sebutan “Tasbih Fathimah Zahra as”.
(1) Kitab “Man La Yahdhuruhul Fakih” Jilid 1, hal 211
(2) Kitab “Manaqib Ăli Abi Thalib” Jilid 3, hal 341.

Larangan Ngefans Artis Kafir

..Larangan Ngefans Artis Kafir..
Cintailah Rasulullah, cintailah sahabat, cintailah orang orang saleh. Karena kita akan dikumpulkan bersama orang yang kita cintai di akhirat nanti.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum, namun ia sendiri belum berjumpa dengan mereka. maka beliau menjawab: “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya.”
(HR. Ahmad)

Fatimah Az-Zahra Menjadi Pemimpin Bidadari Surga

Terlalu banyak kemulian dan jasa Fatimah r.ha binti Muhammad yang tidak termampu untuk dinukilkan semuanya. Beliaulah puteri kepada penutup segala Nabi yang banyak mewarisi keindahan akhlak ayahandanya.
Lahirnya Si Puteri Bungsu
Saat Ummul Qura (Makkah) menyaksikan orang-orang Quraisy membaiki Kaabah, lahirlah puteri bongsu Rasulullah SAW. 5 tahun sebelum kenabian. Beliau sangat mirip dengan ayahandanya yang mulia. Disusui sendiri oleh bondanya. Tatkala masyarakat jahiliyah malu besar setiap kali menerima berita lahirnya anak perempuan, namun Rasulullah SAW sangat gembira dengan kelahiran puterinya. Mencintai dan menyayanginya dengan penuh tulus.
Didikan di Rumah Kenabian
Sekolahnya di rumah kenabian. Berguru langsung dengan penghulu segala murabbi, seorang Nabi. Daripada kecil sehinggalah menginjak remaja, beliau sentiasa menjadi yang terbaik. Sumber rujukannya adalah sumber yang terbaik. Ayahnya insan terbaik. Ibunya wanita terbaik. Mengalir daripada asuhan ibu bapa yang agung.
“Ibu Ayahnya”
Ketika masyarakat jahiliyah hidup dalam lumpur kejahatan yang hina, menyembah patung, mabuk arak, membunuh anak perempuan, namun Fatimah menyaksikan ayahnya tetap bersih terpelihara. Fitrah insan bencikan kejahatan. Apabila terbit sinar Islam menerangi tanah Arab dengan terutusnya Nabi akhir zaman, maka Fatimah tidak teragak-agak menyertai ibunya untuk menjadi generasi yang pertama beriman.
Kewafatan bunda tercinta, Khadijah al-Khuwailid, menyebabkan remaja puteri itu berperanan mengambil alih tugas ibunya. Apatah lagi kakak-kakaknya Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kalthum sudah berumah-tangga. Perjuangan ayahnya didokong habis-habisan. Kematangannya terserlah hinggakan para sahabat menggelarkannya, “Ibu ayahnya.” (Rujuk Nisaa ahlil bait, 533-534).
Imam Zarqani berkata, “Sehingga, tidak diperlukan pernyataan khusus untuk membuktikan bahawa mereka adalah generasi pertama yang memeluk Islam, kerana mereka tumbuh dalam bimbingan kedua orang tua yang penuh kasih sayang dan akhlak mulia. Dari ayahnya, Fatimah belajar semua akhlak mulia. Dari ibunya, Fatimah belajar kejernihan fikiran yang tidak dimiliki wanita lain.”
Berani Membela Nabi
Ibnu Ishaq berkata, “Orang-orang Quraisy benar-benar memusuhi Rasulullah dan orang-orang yang memeluk Islam. Mereka tidak henti-henti mendustakan Rasulullah, mengganggu dan melemparinya dengan batu. Mereka juga mengejek baginda sebagai tukang sihir, bomoh dan orang gila. Namun Rasulullah tetap menyebarkan kebenaran.” (Rujuk Sirah Ibnu Hisyam 1/238).
Abdullah bin Umar berkata, “Ketika Rasulullah SAW berada di halaman Kaabah, Uqbah bin Abu Mu’ith mendekati dan menarik bahu Rasullah SAW. Dicekik leher Rasulullah SAW dengan selendangnya. Abu Bakar datang lalu menarik bahu Uqbah supaya ia menjauh daripada Rasulullah SAW.” (Rujuk HR Bukhari, 3856).
Saidina Ali r.a. berkata, “Demi Allah tidak seorang pun dari kami yang berani mendekat kecuali Abu Bakar. Beliau menghalau orang-orang Quraisy itu dan menjauhkan daripada Baginda. (Rujuk Ghafir: 28).
Selain Saidina Abu Bakar r.a., Fatimah r.ha. tidak berpeluk tubuh tatkala melihat ayahnya diganggu dan dianiaya. Suatu kisah menyayat hati diceritakan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud, saat Rasulullah SAW sedang solat berdekatan Kaabah, Abu Jahal dan teman-temannya duduk berhampiran. Mereka saling mencabar,
“Siapa yang berani meletakkan najis unta di punggung Muhammad saat dia sujud?” Maka bergegaslah orang yang paling sengsara di antara mereka iaitu Uqbah bin Abu Mu’ith. (Rujuk Bukhari, 3186 dan Muslim 1794.)
Mereka ketawa berdekah-dekah. Rasulullah SAW tetap bersujud. Tiada siapa berani membela saat itu sehinggalah Fatimah r.ha. dengan beraninya datang membuang najis unta.
Rela Menahan Lapar, Iman Tidak Pudar
Tragedi pemulauan kaum muslimin amat menguji iman. Ketika itu kebencian kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah SAW kian memuncak. Sejarawan Suhaili merekodkan:
Jika ada rombongan pedagang datang ke Kota Makkah, beberapa orang Islam pergi ke pasar Makkah untuk membeli makanan buat ahli keluarga mereka. Namun Abu Lahab berkata dengan suara lantang,
“Wahai para pedagang, jika teman-teman Muhammad ingin membeli sesuatu, berikan harga yang sangat mahal agar mereka tidak dapat membelinya. Jangan takut tidak laku, aku yang akan membeli barang dagangan kalian.”
Lalu para pedagang itu menaikkan harga sangat tinggi. Orang-orang Islam pun tidak mampu membeli. Mereka tidak memperolehi makanan dan pakaian.
3 tahun orang-orang Islam melalui hari-hari yang penuh kelaparan di perbukitan. Fatimah r.ha. sabar dan teguh melalui kesulitan tempoh itu. Namun, parahnya ujian kelaparan membuatkan Fatimah r.ha jatuh sakit. Bondanya juga tenat menahan sakit.
Sakit Fatimah belum pulih, bondanya pula dijemput Ilahi. Kesedihan bertali arus. Gadis tabah itu tidak tenggelam dalam emosi. Beliau menggagahkan diri untuk terus bangkit mendokong perjuangan ayahanda tercinta habis-habisan.
Mengagumi Keberanian Ali r.a.
Penyiksaan demi penyiksaan makin tidak kenal belas kasihan. Selepas beberapa siri penghijrahan, akhirnya Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslimin berhijrah ke Madinah. Baginda menyusul kemudian, ditemani oleh Saidina Abu Bakar r.a. Peristiwa hijrah yang agung itu diatur dengan penuh strategi.
Fatimah r.ha tidak dapat melupakan keberanian Saidina Ali r.a. menggantikan tempat tidur ayahandanya. Peranan yang sangat penting dalam strategi hijrah kerana taruhannya adalah nyawa. Allah SWT juga tidak melupakan keberanian Saidina Ali r.a. menggantikan tempat tidur Nabi hingga menganugerahkan Fatimah r.ha. sebagai teman tidur hidupnya. Alangkah bertuahnya Ali.
Pernikahan yang Barakah
Di dalam buku Raudhatul Muhibbin wanuzhatul Musytaqin, karangan Ibnul Qayyim al-Jauziyah menyebut, puteri Nabi, Fatimah az-Zahra pernah dipinang oleh Saidina Abu Bakar dan Saidina Umar namun kedua-duanya ditolak oleh Rasulullah SAW. Kenapa ya? Rupa-rupanya, Rasulullah SAW tidak mahu semua puterinya dimadukan.
Pada tahun ke-2 hijrah, Saidina Ali r.a. menikahi Fatimah r.ha. Pernikahan barakah ini berlangsung setelah perang Badar. Demi memiliki cinta penghulu bidadari syurga, Saidina Ali r.a. menjual sebahagian barang miliknya termasuk peralatan perang. Semuanya bernilai 480 dirham.
Daripada jumlah itu, Rasulullah menyuruh menggunakan 2/3 daripadanya untuk membeli wangi-wangian dan 1/3 daripadanya untuk membeli pakaian. Rasulullah memasukkan wangi-wangian itu ke dalam bekas mandi dan menyuruh pengantin mandi dengan air itu.
Fatimah r.ha rela malah bahagia dinikahi oleh Saidina Ali r.a. meskipun hidup miskin. Biarpun maharnya rendah, dihadiahkan pula mahar itu kepada suami tercinta. Berpindahlah pengantin baru ke rumah suaminya yang tidak memiliki perabot. Rumah yang sangat sederhana. Hanya terdapat kulit biri-biri sebagai alas tidur, bantal berisi serabut tamar, penggiling gandum, ayakan dan sekantung susu. Letak rumah itu pula jauh daripada rumah Rasulullah SAW. (Rujuk Nisa’ Mubassirat bil Jannah: 209).
Rasulullah SAW berperanan sebagai mentua terbaik apabila memberikan nasihat yang panjang sebelum meninggalkan anak menantunya mengharungi bahtera rumah tangga bersama. Didekatkan pula anak menantu dengan keluarga baginda apabila memindahkan mereka berdekatan dengan rumah baginda iaitu di salah sebuah rumah pemberian Haritsah r.a. (Rujuk Suwar min hayatis sahabah, 40)
Rumah tangga suaminya diuruskan sendiri. Terserlah peribadinya sebagai seorang wanita yang sabar, taat beragama, baik, menjaga kehormatan, qana’ah dan sentiasa bersyukur kepada Allah SWT. (Rujuk al-Siyar: 2/119).
Zikir Fatimah
Kelelahan menguruskan tugas rumah tangga seharian, mendidik anak-anak, ditambah pula dengan tugas-tugas dakwah menyebabkan Fatimah r.ha teringin mempunyai seorang pembantu. Lagipun, kebetulan pada masa itu Islam mempunyai banyak tawanan perang.
Kelelahan Fatimah r.ha. bukan sedikit. Jika pada zaman ini, kita hanya perlu ke kedai untuk membeli sebuku roti namun Fatimah r.ha. perlu menggilingnya daripada biji-biji gandum, mengayak, mengadun dan membakarnya sendiri.
Dipendamkan dahulu niat memiliki pembantu biarpun beberapa kali menziarahi Rasulullah SAW kerana sangat pemalu untuk meminta daripada ayahandanya. Begitu juga suaminya. Namun lantaran berat beban ditanggung, Fatimah r.ha terpaksa meluahkan keperluannya itu pada suatu hari.
Kebetulan, kaum muslimin mempunyai beberapa orang tawanan perang yang boleh dijadikan hamba atau pembantu. Fatimah r.ha memohon salah seorang daripadanya. Permintaan itu tidak dikabulkan oleh Rasulullah.
Hal ini bukan kerana tidak elok memiliki pembantu rumah kerana semua isteri Rasulullahpun mempunyai pembantu rumah. Namun, selaku pemimpin yang adil, Rasulullah SAW lebih mengutamakan untuk memberi makan kepada golongan suffah (golongan merempat yang menumpang tinggal di masjid) dengan duit hasil jualan para tawanan tersebut. Fatimah r.ha. dan suaminya pulang dengan redha.
Tidak lama kemudian, Rasulullah SAW pula datang ke rumah puterinya. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahawa Baginda bersabda,
“Mahukah ayah ajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang diminta? Jika hendak tidur, bacalah takbir 34 kali, tasbih 33 kali, tahmid 33 kali. Ini lebih baik daripada seorang pembantu.” Lalu, zikir ini terus menemani hayat Fatimah r.ha. Beliau dan suaminya memilih hidup zuhud dan sangat sederhana. (Rujuk Nisa’ Ahlil Bait: 550).
Membuktikan Wanita Berhak Mengizinkan atau Minta Dibebaskan Jika Suaminya Ingin Berpoligami
Suatu hari Saidina Ali r.a. dipinang oleh Abu Jahal untuk puterinya. Hal itu amat menyakitkan Fatimah r.ha. Apabila diadukan kepada ayahandanya, ternyata Rasulullah SAW juga terasa disakiti dengan apa yang menyakitkan puterinya. Baginda berdiri lalu berpidato, “Aku telah nikahkan Abu Ash bin Rabi’. Dia berkata kepadaku dengan jujur. Fatimah binti Muhammad adalah sebahagian daripadaku. Aku tidak suka orang-orang menyakitinya. Demi Allah, tidak akan berkumpul puteri utusan Allah dengan puteri musuh Allah pada seorang lelaki.”
Mishwar bin Makhramah pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar, “Bani Hasyim bin Mughirah memintaku merestui pernikahan puteri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Aku tidak izinkan, dan aku tidak izinkan. Kecuali jika Ali menceraikan puteriku dan menikahi puteri mereka. Puteriku adalah bahagian daripadaku. Apa yang membuatnya gelisah juga membuatku gelisah, dan apa yang menyakitinya juga menyakitiku.” (Rujuk HR Muslim, 2449). Maka Ali r.a. 
menolak pinangan Abu Jahal.
Imam Nawawi berkata, dari hadis ini para ulama mengambil kesimpulan, “Tidak boleh menyakiti Rasulullah SAW walaupun pada perkara yang harus. Seperti peristiwa di atas, perkahwinan puteri Abu Jahal dengan Ali sebenarnya harus dilakukan tetapi Rasulullah SAW melarangnya dengan dua alasan: 1. Pernikahan itu akan menyakiti Fatimah, dan itu menyakiti Rasulullah. 2. Khawatir terjadi hal-hal yang tidak baik pada Fatimah yang timbul dari rasa cemburu.” (Rujuk Syarhun Nawawi: 16/4).
Imam Bukhari RA berkata (hadis 5230): Qutaibah meriwayatkan kepada kami dari Laits dari Ibnu Abi Mulaikah dari Miswar ibn Makhramah dia berkata, saya mendengarkan Rasulullah SAW bersabda dari atas mimbar, “Sesungguhnya Bani Hisyam ibn Mughirah meminta izin untuk menikahkan puteri mereka dengan Ali ibn Abu Talib, maka aku tidak mengizinkan, kemudian aku tidak mengizinkan, kemudian aku tidak mengizinkan. Kecuali putera Abu Talib ingin menceraikan puteriku dan menikah dengan puteri mereka. Kerana dia adalah darah dagingku, membuat aku sedih apa yang menyedihkannya dan menyakitiku apa yang menyakitinya.”[1]
Ulama-ulama memberikan beberapa tafsiran terhadap hadis ini sebagaimana dipetik dalam kitab syarah hadis Bukhari yang paling terkenal iaiatu Fathul Bari 86/7, karangan Ibnu Hajar al-Asqalani. Antara tafsirannya ialah:
1. Puteri Abu Jahal tidak layak bersama Fatimah dalam satu darjat sebagai madu.
2. Difahami daripada konteks kisah ini Rasulullah telah mensyaratkan kepada Ali supaya tidak memadukan Fatimah r.ha. Rasulullah SAW menyebut menantunya yang lain telah menunaikan janji mereka. Jelas sekali bahawa menantu yang lain memenuhi satu syarat iaitu tidak memadukan puteri Rasulullah sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Dia berkata kepadaku, dia jujur kepadaku, dia berjanji kepadaku maka dia memenuhi janjinya.” Berkata al-Hafiz Ibnu Hajar, “Dia berkata kepadaku, dia jujur kepadaku.” Ia seperti syarat ke atas dirinya supaya tidak memadukan Zainab. Begitu juga Ali r.ha., jika dia tidak berbuat begitu juga (memenuhi syarat itu) ia mungkin lupa pada syarat itu, maka didatangkanlah dalam khutbah (untuk mengingatkannya). Ataupun mungkin tidak berlaku pun syarat seandainya tidak dijelaskan bahawa itu suatu syarat, tetapi menjadi kemestian ke atasnya meraikan ketetapan ini. Oleh sebab itulah berlakunya cercaan (ke atas kesalahannya supaya dibetulkan).
3. Meraikan hak Fatimah r.ha. Dia ketiadaan ibu dan kakak sebagai tempat bergantung, penghilang kesedihan dan menjadi peneman. Dia kehilangan ibu kemudian kakak-kakaknya seorang demi seorang, dan tidak tinggal seorangpun yang dapat ia bermanja dan dapat menjadi peringan beban masalahnya jika nanti dia cemburu.
Realiti hari ini, masih wujudkah bapa sewibawa Rasulullah SAW dalam memahami dan membela rasa hati puterinya?
Setiap Yang Berhak Boleh Menyuarakan Haknya
Setelah kewafatan ayahandanya, Rasulullah SAW, Fatimah r.ha meminta daripada Abu Bakar r.a. sebahagian harta warisan Nabi. Walaupun Rasulullah telah mengkhabarkan awal-awal kepadanya bahawa usianya paling dekat menyusuli kematian baginda namun hak tetap hak. Fatimah masih menuntutnya walaupun tahu beliau sudah dekat hendak mati.
Abu Bakar menegaskan bahawa, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kami para Nabi tidak mewariskan harta. Apa yang ditinggalkan adalah untuk disedekahkan.” (Rujuk HR Bukhari).
Abu Bakar berpegang dengan hujah ini. Manakala Fatimah juga mempunyai hujahnya yang tersendiri. Kedua-duanya dalam daerah pahala kerana mempertahankan sesuatu dengan hujah yang benar bukan mengikut nafsu. Perbezaan pendapat itu lumrah. Fatimah al-Zahra tetap lantang menyuarakan haknya kepada Abu Bakar untuk mewarisi sebidang tanah.
Ketika Fatimah r.ha jatuh sakit, tidak lama selepas kewafatan ayahandanya, Abu Bakar datang meminta redhanya sehingga Fatimah meredhainya. (Ibnu Hajar menyebutkan hadis ini yang disandarkan ke Baihaqi yang berkata, “Meskipun hadis ini mursal, tapi sanadnya ke Sya’bi tetap sahih. (Fathul Bari: 6/139).”
Teladan kita ini menunjukkan contoh bahawa walaupun dalam Islam, menunaikan tanggung jawab lebih utama daripada menuntut hak, tapi, itu tidak bermakna Islam menghalang menyuarakan hak. Maka, berlumba-lumbalah kita menunaikan tanggung jawab. Dalam masa yang sama, menghargai hak kita dan menghormati sesiapa yang menuntut haknya.
Perginya Bunga Agama
Pada hari Selasa, 3 Ramadhan tahun ke-11 Hijriah, selepas enam bulan kewafatan Rasulullah SAW, Fatimah r.ha pulang ke rahmatullah dengan tenang dan bahagia. Suaminya mengalirkan air mata. Begitu juga anak-anaknya yang amat mencintainya, Hassan, Hussain, Zainab dan Ummu Kulthum. (Ada riwayat mengatakan puteri-puterinya bernama Zainab al-Kubra dan Zainab al-Asghar).
Umat Islam membanjiri Masjid Nabawi. Solat jenazah dipimpin oleh Saidina Ali r.a. dan kali kedua dipimpin oleh Abbas bin Abdul Mutallib r.a. Bunga agama itu lalu dimakamkan di perkuburan Baqi’ bersebelahan dengan makam saudara-saudaranya, Zainab r.a., Ruqayyah r.a. dan Ummu Kalthum r.a. (Rujuk Nisa’ Ahlul Bait: 601-603).
[1] Hadis sahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (2449), Abu Daud (2071), Turmudzi, Ibnu Majah (1998), Nasa`i di dalam al-Fadhâ`il (265) dan di dalam al-Khashâ`ish (130), dan Imam Ahmad (4/328), dan di dalam kitab Fadhâ`il al-Sahabat (Keutamaan Sahabat) (1328).