Begitu Cintanya Rasulullah Pada Fatimah Az-Zahra

Begitu Cintanya Rasulullah Pada Putrinya, Fatimah Az-Zahra

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Abu Mulaikah dari Al Miswar bin Makhramah ia berkata;
AKu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sedangkan beliau berada di atas mimbar: “Sesungguhnya bani Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku agar aku menikahkan anak wanita mereka dengan Ali bin Abu Thalib, namun aku tidak mengizinkan kepada mereka, kecuali jika Ali bin Abu Thalib menceraikan anakku lalu menikahi anak wanita mereka.
Sesungguhnya anakku (Fathimah) adalah bagian dariku, aku merasa senang dengan apa saja yang menyenangkannya dan aku merasa tersakiti atas semua yang menyakitinya.”
HR. Bukhari

Kisah Rasulullah Bersama Jin Mendengarkan Al-Quran

Telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Ma’an bin ‘Abdurrahman berkata, aku mendengar bapakku berkata; Aku bertanya kepada Masruq; “Siapakah yang memberitahukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama-sama jin yang mendengarkan al Qur’an pada suatu malam?. Maka dia berkata; “Bapakmu, yaitu Abdullah bin Mas’ud, dimana dia berkata bahwa yang memberitahukan beliau tentang keberadaan jin itu adalah sebuah pohon”.
(HR. Bukhari)

Larangan Membuat Minuman Perasan Nabidz

Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim keduanya dari Jarir, Zuhair berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dia berkata; saya bertanya kepada Al Aswad, “Apakah kamu pernah bertanya kepada Ummu mukminin bejana apa saja yang dilarang untuk membuat perasan nabidz?” Al Aswad menjawab, “Ya. Saya pernah bertanya, “Wahai Ummul Mukminin, kabarkanlah kepadaku bejana apa saja yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarangnya untuk dijadikan membuat perasan nabidz?” Dia menjawab, “Beliau telah melarang kami -ahlul bait- untuk membuat perasan dalam Ad Dubba dan Al Muzaffat.” Ibrahim berkata, “Saya bertanya kepada Al Aswad, “Apakah Ummu Salamah pernah menyebutkan Al Hantam dan al Jarr (bejana dari tembikar)?” dia menjawab, “Saya hanya menceritakan sesuatu yang pernah saya dengar sendiri, apakah saya harus menceritakan kepadamu sesuatu yang tidak pernah saya dengar!”
HR. Muslim

Menahan Diri Untuk Tidak Sholat Saat Haid

Telah mengabarkan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Hammad dari Yunus dari Al Hasan ia berkata:
“Apabila seorang wanita yang sedang haid melihat darah segar (yang mengalir) sehari atau dua hari setelah ia mandi hadats, maka ia harus menahan (tidak mengerjakan) shalat selama sehari, kemudian setelah itu (ia menjadi) wanita yang mengalami istihadhah”.
HR. Darimi

Kapan Terakhir Menangisi Dosa?

Telah menceritakan kepada kami Shalih bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mubarak, dan telah menceritakan kepada kami Suwaid telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mubarak dari Yahya bin Ayyub dari ‘Ubaidillah bin Zahr dari ‘Ali bin Yazid dari Al Qasim dari Abu Umamah dari ‘Uqbah bin ‘Amir berkata, Aku bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana supaya selamat? beliau menjawab: “Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu lapang dan menangislah karena dosa dosamu.” Abu Isa berkata: Hadits ini hasan.
HR. Tirmidzi

Masa Iddah Wanita Yang Hamil

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud Al Mahri, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab, 
telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bahwa ayahnya menulis surat kepada Umar bin Abdullah bin Al Arqam Az Zuhri memerintahkan kepadanya agar menemui Subai’ah binti Al Harits Al Aslamiyyah, kemudian bertanya kepadanya mengenai haditsnya, dan mengenai apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya ketika ia meminta fatwa kepada beliau. Kemudian Umar bin Al Khathab bin Abdullah menulis surat kepada Abdullah bin ‘Utbah mengabarkan kepadanya bahwa Subai’ah telah mengabarkan kepadanya bahwa ia dahulu adalah isteri Sa’d bin Haulah sementara ia termasuk diantara Bani ‘Amir bin Luai, dan ia termasuk diantara orang-orang yang menghadiri perang Badr. Kemudian ia meninggal pada Haji Wada’ sementara Subai’ah sedang hamil, dan tidak lama kemudian ia melahirkan kandungannya setelah kematian suaminya. Kemudian tatkala ia telah selesai dari nifasnya maka ia berhias diri untuk orang-orang yang akan meminang. Kemudian Abu As Sanabil bin Ba’kak yang merupakan seorang laki-laki dari Bani Abdu Ad Dar menemuinya dan berkata; ada apa aku melihatmu berhias diri? Kemungkinan engkau ingin menikah. Demi Allah engkau tidak boleh menikah hingga berlalu empat bulan sepuluh hari. Subai’ah berkata; kemudian tatkala ia mengatakan hal tersebut kepadaku maka aku kumpulkan pakaianku pada sore hari kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya kepadanya mengenai hal tersebut. Lalu beliau memberiku fatwa bahwa aku telah halal ketika telah melahirkan kandunganku dan beliau memerintahkanku untuk menikah apabila aku menginginkan. Ibnu Syihab berkata; saya melihat tidak mengapa ia menikah ketika telah melahirkan, walaupun ia masih kena darah hanya saja ia tidak didekati oleh suaminya hingga ia bersih.
HR. Abu Daud

Antara Mimpi Dan Burung

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin ‘Ali Al Khallal telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah dari Ya’la bin ‘Atho` dari Waki’ bin ‘Udus dari pamannya, Abu Razin, dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Mimpi seorang muslim adalah satu dari empatpuluh enam bagian kenabian, ia berada di kaki burung selama tidak diceritakan, bila diceritakan ia jatuh.” Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih, Abu Razin Al ‘Uqaili namanya Laqith bin ‘Amir. Hammad bin Salamah meriwayatkan dari Ya’la bin ‘Atho` lalu berkata: dari Waki’ bin Hudus, berkata Syu’bah, Abu ‘Awanah dan Husyaim dari Ya’la bin ‘Atho` dari Waki’ bin ‘Udus dan ini lebih shahih.
HR. Tirmidzi

Setiap Lelaki Mendapat 2 Istri Di Surga

Telah menceritakan kepada kami Al Abbas bin Muhammad Ad Dauri telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa telah mengkhabarkan kepada kami Syaiban dari Firas dari ‘Athiyah dari Abu Sa’id Al Khudri dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Golongan pertama yang masuk surga mereka bagaikan bulan di malam purnama dan golongan kedua seperti warna bintang bersinar terang terindah dilangit, setiap lelaki di antara mereka mendapatkan dua istri, setiap istri mengenakan tujuhpuluh perhiasan, sungsumnya terlihat dari belakang.” Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih.
HR. Tirmidzi

Mengukur Batas Kebun

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Khalid bahwa Muhammad bin Utsman menceritakan kepada mereka, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Abu Thuwalah dan ‘Amru bin Yahya dari Ayahnya dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata,
“Dua orang laki-laki mengadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang batas kebun kurma mereka. Kemudian beliau memerintahkan agar mengukurnya, lalu batasan tersebut diukur dan didapati ukurannya adalah tujuh hasta. Dan dalam hadits yang lain, maka di dapati ukurannya adalah lima hasta, lalu beliau memutuskan dengan hal tersebut.” Abdul Aziz berkata, “Kemudian beliau memerintakan agar diambilkan salah satu dahan pohon kurma tersebut, kemudian batasan tersebut diukur.”
HR. Abu Daud

Kisah Fatimah Az-Zahra Part 2

Kisah Puteri Rasullulah Saw Dengan Buah Delima.
Ketika Siti Fatimah Az Zahra, Puteri Rasulullah SAW, yang juga isteri kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib sakit, ia ditanya oleh Sayidina Ali, ” Wahai Fatimah, adakah engkau menginginkan sesuatu?”“Wahai Suamiku, aku ingin sekali buah delima”, Jawabnya.Sayidina Ali termenung, ia tidak memiliki wang sedikitpun. Namun, ia segera berangkat dan berusaha untuk mencari wang satu dirham untuk mendapatkan buah delima yang diinginkan isterinya itu. Akhirnya Sayidina Ali mendapatkan wang itu dan kemudian ia pergi ke pasar untuk membeli buah delima dan segera kembali pulang.
Namun di tengah perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba ia melihat seseorang yang tengah terbaring sakit di tepi jalan, maka Sayidina Ali pun berhenti dan menghampirinya.
“Wahai orang tua, apa yang diingini oleh hatimu?”, tanya Sayidina Ali.
“Wahai Ali, sudah lima hari aku terbaring sakit di tempat ini, banyak orang berlalu, namun tak ada seorang pun dari mereka yang bertanya tentangku. Aku ingin sekali makan buah delima. Jika aku makan buah delima, rasanya sakitku bertambah baik” Jawab orang tua tersebut.
Mendengar jawabannya, Sayidina Ali terdiam, sambil berkata dalam hati,
“Buah delima yang hanya satu buah ini, sengaja telah aku beli untuk Isteriku, kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih. Namun jika tidak aku berikan ertinya aku tidak menepati firman Allah,“Terhadap si pengemis, engkau janganlah menghardiknya. ” (QS. Al-Dhuha : 10).
Juga sabda Nabi SAW, ” janganlah sekali-kali engkau menolak pengemis, sekalipun ia di atas kenderaan”.
Maka kemudian Sayidina Ali membelah buah delima itu menjadi dua bahagian, separuh untuk orang tua itu dan separuh lagi untuk Siti Fatimah. Selepas makan buah delima yang separuh itu, orang yang sakit itu berkata “Sakitku ini telah baik, namun jika aku makan separuh lagi, nescaya aku boleh berjalan dan bekerja. Mendengar kata-kata lelaki itu, Saidina Ali pun memberi separuh lagi delima itu.
Sesampai di rumah ia menceritakan peristiwa itu kepada Isterinya, dan Siti Fatimah berkata kepadanya,
“Wahai Suamiku, kenapa engkau bersedih, demi Allah yang maha Perkasa dan Maha Agung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang tua itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu.”
Mendengar kenyataan Isterinya itu Sayidina Ali merasa sangat gembira.
Tidak lama kemudian datanglah seorang tetamu yang mengetuk pintu, lalu Sayidina Ali berkata, “Siapakah tuan?”
“Aku Salman Al Farisi,” Jawab orang yang mengetuk pintu itu.
Setelah pintu dibuka, Sayidina Ali melihat Salman membawa sebuah wadah tertutup, dan diletakkkan di depan Sayidina Ali, lalu Sayidina Ali bertanya,
“Dari manakah wadah ini wahai Salman ?”.
“Aku menghantarkannya untukmu dari Allah SWT melalui perantaraan Rasulullah SAW.” Jawabnya.
Setelah penutup wadah tersebut dibuka, terlihat di dalamnya ada Sembilan buah delima. Sayidina Ali terus berkata,
“Wahai Salman, jika ini memang untukku, pasti jumlahnya Sepuluh”.
Lalu ia membacakan firman Allah SWT,
“Barangsiapa membuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali ganda amalnya (balasannya)”. ( Al-An’am : 160 )
Salman pun tertawa mendengarnya, sambil mengembalikan sebuah Delima yang ada ditangannya, seraya berkata,
“Wahai Ali, demi Allah, aku hanya sekadar menguji sejauh mana KEYAKINANMU terhadap firman Allah yang engkau bacakan sebentar tadi.”
Adakalanya, Allah SWT membalas amal sedekah kita bukan dalam bentuk harta dan wang ringgit, tapi dikurniakan kehidupan yang sejahtera dan penuh berkah, anak-anak yang bijak, soleh dan solehah, kesihatan yang baik, keperluan yang mencukupi atau sesuatu yang di luar jangkauan pemikiran kita. Ada masanya Allah simpan amalan sedekah kita sebagai pahala akhirat. Sedekah yang ikhlas kerana Allah, sangat tinggi nilainya di sisi Allah.
Surah al-Baqarah ayat 261 adalah antara ayat suci al-Quran yang popular dalam membuktikan kelebihan bagi mereka yang bersedekah. Allah berfirman yang bermaksud : “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan 7 butir daripada setiap butir tumbuh pula 100 butir benih. Allah melipat gandakan ganjaran bagi sesiapa yang dikehendakinya. Allah Maha luas kurnia Lagi Maha Mengetahui.