Sunnah Saat Berbuka Puasa

“biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam jika berbuka beliau berdoa: dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah (telah hilang rasa haus, telah basah kerongkongan, dan telah diraih pahala insya Allah)” (HR. Abu Daud no.2357, An Nasa-i no.3315, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Waktu berbuka puasa adalah waktu berbahagia. Setelah seharian menahan lapar dan haus demi mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Di waktu berbuka, para hamba berbahagia karena telah menyempurnakan puasa di hari itu. Dan berbahagia karena dihalalkan kembali apa-apa yang tidak diperbolehkan ketika puasa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

والذي نفسُ محمدٍ بيدهِ لَخَلوفِ فمِ الصائمِ أطيبُ عندَ اللهِ من ريحِِ المسكِ ,للصائمِ فَرْحتانِ يفرَحْهُما إذا أَفطرَ فَرِحَ ، وإذا لقي ربَّه فَرِحَ بصومِهِ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah itu lebih wangi daripada misik. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu Rabb-Nya” (HR. Bukhari no. 1904, Muslim no. 1151).

Maka waktu berbuka adalah waktu yang istimewa. Oleh karena itu ada beberapa adab yang disunnahkan ketika berbuka puasa. Agar momen berbuka puasa semakin memberikan keberkahan dan kebahagiaan. Diantara adab-adab dalam berbuka puasa adalah:

a) Disunnahkan menyegerakan berbuka
Dianjurkan untuk bersegera berbuka puasa ketika matahari terbenam. Dari Umar bin Khathab radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا أقْبَلَ اللَّيْلُ مِن هَا هُنَا، وأَدْبَرَ النَّهَارُ مِن هَا هُنَا، وغَرَبَتِ الشَّمْسُ فقَدْ أفْطَرَ الصَّائِمُ

“jika datang malam dari sini, dan telah pergi siang dari sini, dan terbenam matahari, maka orang yang berpuasa boleh berbuka” (HR. Bukhari no.1954, Muslim no.1100).

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يزالُ النَّاسُ بخَيرٍ ما عجَّلوا الفِطرَ عجِّلوا الفطرَ

“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

b) Berbuka puasa dengan beberapa butir ruthab (kurma segar)
Pilihan pertama untuk berbuka puasa adalah ruthab (kurma segar). Jika tidak ada maka dengan beberapa butir tamr (kurma kering), jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air putih. Berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

كان رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبًات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبًات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء

“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berbuka puasa dengan ruthab (kurma segar) sebelum shalat. Jika beliau tidak punya ruthab, maka dengan tamr (kurma kering), jika beliau tidak punya tamr, maka dengan beberapa teguk air” (HR. Abu Daud no.2356, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Maka kurang tepat mendahulukan makanan atau minuman lain sebelum kurma atau air putih. Bukan berarti tidak boleh, namun perbuatan demikian kurang meneladani Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka.

Dan perlu diketahui, sama sekali tidak ada hadits “berbukalah dengan yang manis” atau yang semakna dengannya.

c) Adab memakan kurma
Dianjurkan ketika memakan kurma, hendaknya mengeluarkan bijinya di punggung dari dua jari yaitu jari tengah dan jari telunjuk. Dari Abdullah bin Busr radhiallahu’anhu ia berkata:

ثُمَّ أُتِيَ بتَمْرٍ فَكانَ يَأْكُلُهُ وَيُلْقِي النَّوَى بيْنَ إصْبَعَيْهِ، وَيَجْمَعُ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى

“Kemudian dibawakan kurma kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dan beliau memakannya, kemudian mengeluarkan bijinya di antara kedua jarinya, yaitu beliau menggabungkan antara jari telunjuk dan jari tengah” (HR. Muslim no. 2042).

Tujuannya agar tangan bersih dari kotoran dan bekas mulut ketika mengambil kurma selanjutnya.

d) Membaca doa berbuka puasa
Berdoa ketika berbuka dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Ibnu Umar radhiallahu’anhu berkata:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

“biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam jika berbuka beliau berdoa: dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah (telah hilang rasa haus, telah basah kerongkongan, dan telah diraih pahala insya Allah)” (HR. Abu Daud no.2357, An Nasa-i no.3315, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Adapun doa “Allahumma laka shumtu wabika amantu wa ‘ala rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar rahimin” dengan lafadz seperti ini tidak ada asalnya dari hadits. Sedangkan doa “Allahumma laka shumtu” memang terdapat dalam beberapa hadits, namun seluruhnya terdapat kelemahan.

e) Memperbanyak berdoa ketika berbuka puasa.
Karena waktu berbuka puasa adalah waktu mustajab berdoa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ثلاثٌ لا تُرَدُّ دعوتُهُم الصَّائمُ حتَّى يُفطرَ والإمامُ العادلُ ودعْوةُ المظلومِ

”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa hingga ia berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.3598, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi).

Boleh berdoa sebelum berbuka. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

الدعاء يكون قبل الإفطار عند الغروب ؛ لأنه يجتمع فيه انكسار النفس والذل وأنه صائم ، وكل هذه أسباب للإجابة وأما بعد الفطر فإن النفس قد استراحت وفرحت وربما حصلت غفلة

“Doa ketika berbuka puasa dilakukan sebeluketika m berbuka, ketika matahari hampir tenggelam. Karena ketika itu tergabung perendahan jiwa, penuh ketundukan, dan itu ia masih sedang berpuasa. Dan semua ini merupakan sebab dikabulkannya doa. Adapun jika setelah berbuka, maka jiwa merasa santai dan senang, bahkan terkadang menjadi lalai” (Liqa Asy Syahri, no.8).

Boleh juga setelah berbuka. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta’ ketika menjelaskan hadits:

إنَّ للصائمِ عند فِطره دعوةً لا تُردُّ

“Orang yang berpuasa, ketika berbuka puasa ia memiliki doa yang tidak tertolak”.

Mereka mengatakan:

الحديث رواه ابن ماجه، قال في (الزوائد) : إسناده صحيح، والدعاء يكون قبل الإفطار وبعده؛ لأن كلمة: (عند) تشمل الحالتين

“Hadits ini riwayat Ibnu Majah. Penulis kitab Az Zawaid mengatakan: sanadnya shahih. Dan doa ini boleh sebelum atau setelah berbuka. Karena kata “inda” mencakup keduanya” (Fatawa Al Lajnah, 9/30).

f) Urutan berbuka puasa yang ideal
[1] Memperbanyak doa beberapa saat sebelum datang waktu Maghrib

[2] Ketika datang waktu Maghrib, baca basmalah, lalu makan kurma atau minum air putih

[3] Membaca doa “dzahabazh zhoma-u…”

[4] Lanjutkan makan atau minum yang lain

[5] Memperbanyak doa di antara adzan dan iqamah

[6] Shalat maghrib

g) Jeda adzan dan iqamah
Hendaknya imam dan muadzin memberi jeda antara adzan dan iqamah yang cukup bagi jama’ah untuk menyelesaikan makan tanpa terburu-buru. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اجعلْ بين أذانِك وإقامتِك نفَسًا ، قدرَ ما يقضي المعتصِرُ حاجتَه في مهَلٍ ، وقدْرَ ما يُفرِغُ الآكِلُ من طعامِه في مهَلٍ

“jadikanlah antara adzanmu dan iqamatmu jeda sejenak, yaitu sekadar waktu orang yang sedang ada kebutuhan menyelesaikan kebutuhannya dengan tenang, dan sekadar waktu orang yang sedang makan menyelesaikan makannya dengan tenang” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, Al Baihaqi, dll. dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 887).

Demikian beberapa sunnah ketika berbuka puasa. Semoga membawa keberkahan dalam ibadah puasa kita. Wallahul muwaffiq.

Kata Mutiara Islami Tentang Cinta Yang Romantis

Aku tidak butuh cincin. Aku hanya butuh agamanya. Aku lebih mengharapkan dia membimbingku ke surga dan menjadikanku sebagai ratunya.

Allah SWT menciptakan seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini secara berpasang-pasangan, termasuk manusia, ada pria dan juga wanita. Allah SWT berfirman, “Dan Kami ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan supaya kalian mengingat akan kebesaran Allah.” (Q.S Adz-Dzariyat: 49). Perasaan cinta terhadap lawan jenis, pria cinta terhadap wanita dan sebaliknya, merupakan fitrah yang Allah sertakan dalam diri setiap manusia. Maka cinta merupakan perasaan yang pasti pernah dirasakan oleh setiap manusia, karena ia adalah anugerah dari Allah Yang Maha Kuasa.

Diciptakannya laki-laki dan perempuan serta fitrah perasaan cinta yang tumbuh dalam diri manusia ini tidak lain adalah agar manusia merasakan kenyamanan hidup dengan saling menyayangi. Allah SWT berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan isteri-isteri untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram dan nyaman kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Q.S Ar-Rum: 21).

Perasaan cinta selalu identik dengan hal-hal romantis. Namun, seringkali ekspresi romantis tersebut ditunjukkan dengan cara-cara yang salah dan bertentangan dengan ajaran islam. Dalam islam sendiri, perasaan cinta tertinggi kepada seseorang diwujudkan dalam ikatan halal pernikahan. Lalu bagaimana ekspresi romantis menurut islam?

Beberapa kata mutiara islam tentang cinta berikut ini merangkum berbagai ungkapan romantis islami yang sangat indah namun tetap menjaga kesucian cinta. Dilengkapi juga dengan gambar kata yang bisa anda gunakan sebagai sarana dakwah untuk mengajak orang lain mengekspresikan cintanya dengan cara yang halal.

Mengindahkan duniamu

Don’t choose the one who is beautiful to the world. But rather, choose the one who makes your world beautiful.

Jangan memilih seseorang yang cantik/tampan bagi dunia. Tapi pilihlah seseorang yang akan membuat duniamu cantik.

Saling menjaga

Keep her close to Allah. Keep him close to Allah. Together for Jannah.

Tetap saling menjaga satu sama lain untuk selalu dekat dengan Allah. Semoga kelak bersama-sama masuk surga.

Bertemu kembali di surga

I want love that will say: “Not even death will do us part, because we’ll be reunited in jannah, insyaallah”.

Aku ingin cinta yang akan berkata: “Bahkan kematian pun tidak akan memisahkan kita, karena kelak kita akan dipertemukan kembali di surga, Insyaallah”.

Pasangan paling bahagia

Happiest couples in the world never have the same nature. They just have the best understanding of their differences.

Pasangan paling bahagia di dunia ini tidak pernah memiliki sifat yang sama. Mereka hanya saling memahami dengan baik tentang perbedaan yang mereka miliki.

Berjumpa dua kali

I will ask Allah to see you twice, once here and once in paradise.

Aku akan memohon kepada Allah untuk berjumpa denganmu dua kali, sekali di dunia ini dan sekali lagi di surga.

Dua hati yang bersatu

When Allah wants two hearts to meet, He will move both of them, not just one.

Bila Allah menginginkan dua hati untuk bersatu, Dia akan menggerakkan keduanya, bukan hanya satu.

Temukan dia

Find a companion who can guide you, not only in Dunya, but in Akhirah.

Temukan pasangan hidup yang bisa membimbingmu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

Cinta halal

Anyone can fall in love, but only the strong ones will keep it halal.

Siapa pun bisa jatuh cinta, tapi hanya orang yang kuat yang akan menjaga cinta itu tetap halal.

Kata Kata Islami Tentang Cinta
Dalam doa

In silence, I fight for your love in my dua.

Dalam diam, aku memperjuangkan cintamu dalam doaku.

Cinta sejati

Real love means helping each other attain Jannah, not holding each other’s hands and walking towards hellfire.

Cinta Sejati berarti saling membantu untuk menggapai surga, bukan saling berpegangan tangan dan berjalan menuju api neraka.

Tak butuh cincin

I don’t need a ring. I need his deen. I’d prefer him taking me to Jannah and making me his queen.

Aku tidak butuh cincin. Aku hanya butuh agamanya. Aku lebih mengharapkan dia membimbingku ke surga dan menjadikanku sebagai ratunya.

Cinta yang layak

When Allah loves you, He places the love of you in the hearts of the people whose love is worth having.

Ketika Allah mencintaimu, Dia akan menempatkan cintamu di hati seseorang yang cintanya memang layak untuk dimiliki.

Yang pantas

Fall in love with someone who deserves your heart according to Allah’s Laws, not someone who plays with it according to their desires.

Jatuh cintalah kepada seseorang yang pantas memiliki hatimu sesuai dengan Hukum Allah, bukan seseorang yang hanya bermain-main menurut hawa nafsunya.

Menuliskan namamu

50.000 years before the sky was introduced to the sea, Allah wrote your name down next to mine.

50.000 tahun sebelum langit diperkenalkan ke laut, Allah telah menuliskan namamu di sisiku.

Doa yang terwujud

You are my du’a which came true.

Kamu adalah doaku yang telah menjadi kenyataan.

Tauladan Kepercayaan

“She believed in me when people rejected me.” – The Prophet Muhammad speaking about his wife Khadeeja.

“Dia percaya kepadaku ketika orang-orang menolakku.” – Nabi Muhammad SAW berbicara tentang istrinya Khadija.

Tauladan Kemesraan

Prophet Muhammad used to go walking with Aisha at night while talking with each other. – Hadits

Nabi Muhammad SAW sering pergi berjalan bersama Aisha di malam hari sambil keduanya ngobrol satu sama lain. – Hadis

Berlanjut di surga

True love doesn’t end at death. If Allah SWT wills, it will continue in Jannah.

Cinta sejati tak akan berakhir saat ajal menjemput. Jika Allah SWT berkehendak, cinta itu akan berlanjut di surga.

Teruntuk calon pasanganku

To my future husband: I’m praying for you and I’m excited to pray WITH you for the rest of our days.

Teruntuk suami masa depanku: Aku selalu berdoa untukmu dan aku sangat berharap untuk bisa berdoa bersama denganmu di sisa-sisa hidup kita.

Kata Mutiara Islam Tentang Cinta
Cinta dalam alquran

The word “love” in the Quran appears on over 90 places but interestingly it doesn’t define the word love, but speaks about the very first consequencee of love, commitment. Islam talks about commitment, if you truly love something or someone, you commit. If you do not then your claim of “real love” is not real at all. – Shaykh Yassir Fazaga

Kata ‘Cinta’ muncul sebanyak 90 kali dalam alquran. Namun menariknya, tak ada satupun yang mendefinisikan kata cinta itu sendiri, melainkan membahas tentang konsekuensi pertama dari perasaan cinta, yaitu sebuah komitmen. Islam hanya berbicara tentang Komitmen. Jika kamu benar-benar mencintai sesuatu atau seseorang, maka kamu harus berkomitmen. Jika tidak, maka pengakuanmu akan cinta sejati sesungguhnya tidak nyata sama sekali. – Shaykh Yassir Fazaga

Cinta terbaik

Our love the best love, because you make my imaan rise, you help me in the dunya, and for that reason i want to meet you again in jannah.

Cinta kita adalah cinta yang terbaik, karena kamu meningkatkan imanku dan membantuku di dunia ini, dan karena alasan itulah aku ingin berjumpa lagi denganmu di surga kelak.

Jika benar cinta

Remind me of ALLAH, if your love for me is indeed true.

Ingatkan aku selalu kepada ALLAH jika kamu benar-benar cinta kepadaku.

Semoga bersama

I pray we’re together in jannah.

Aku berdoa semoga kita bersama di surga.

Allah sudah takdirkan

He’s praying for her, she’s praying for him, little do they know Allah sealed their fate with each other before they were even born.

Mereka berdua saling mendoakan satu sama lain, sedikit yang mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan takdir mereka satu sama lain, bahkan sebelum mereka dilahirkan.

Karena Allah

I love you for the sake of Allah.

Aku mencintaimu karena Allah.

Memohon pasangan

Ya Rabb.. Bless me with a righteous spouse who brings me closer to You.

Ya Tuhan.. Berkatilah aku dengan pasangan yang tepat yang akan membawaku semakin dekat kepada-Mu.

Jika kamu mencintainya

If you love someone, pray for them. Pray for their peace. Pray for their growth. Pray for their success. Pray for their happiness. – Dr. Bilal Philips

Jika Engkau mencintai seseorang, berdoalah untuk mereka. Berdoalah untuk kedamaian mereka. Berdoalah untuk kemajuan mereka. Berdoalah untuk kesuksesan mereka. Berdoalah untuk kebahagiaan mereka. – Dr. Bilal Philips

Jangan cintai dia

Do not love the one who doesn’t love Allah. If they can leave Allah they will leave you. – Imam As-Syafi’i

Janganlah mencintai seseorang yang tidak mencintai Allah. Jika mereka saja dapat meninggalkan Allah, merekapun juga akan dapat meninggalkanmu. – Imam As-Syafi’i

I Love You

“احبك” It means i love you

“احبك” berarti Aku Mencintaimu

Akhirnya…

I want to hold your hand in jannah (Paradise) and say “finally we’re here”.

Aku ingin menggenggam tanganmu di surga dan berkata “Akhirnya kita di sini”.

Saling menyempurnakan

The man dreams of a perfect woman and the woman dreams of a perfect man, and they don’t know that Allah created them to perfect one another. – Ahmad AlShugairi

Seorang Pria mendambakan wanita yang sempurna dan seorang wanita pun juga mendambakan pria yang sempurna, namun mereka tidak tahu bahwa Allah telah menciptakan mereka untuk saling menyempurnakan satu sama lain. – Ahmad AlShugairi

Dalam sujud

The most sweetest thing is that when two people love each other, but do not communicate. Instead they pray for each other in their sujud.

Hal yang paling manis adalah ketika ada dua orang saling mencintai, namun mereka tidak saling berkomunikasi. Sebaliknya, mereka saling mendoakan dalam sujud mereka masing-masing.

Bersamamu di surga

With love and mercy insya allah, i pray to stand by your side in jannah.

Insyaallah dengan cinta dan rahmat-Nya, aku berdoa semoga berada di sisimu di surga nanti.

Wanita terbaik

The Prophet Muhammad was asked “Which type of woman is the best?” He replied “When you look at her,you feel happiness. – Hadits

Nabi SAW pernah ditanya “Wanita seperti apa yang terbaik?” Dia menjawab “Saat Engkau melihatnya, Engkau merasa bahagia. – Hadis

Kata Bijak Islami Tentang Cinta
Dua jalan

Cinta hanya bisa dibuktikan dengan dua jalan: menghalalkan atau mengikhlaskan.

Sabar mencintai

Mencintai dalam diam, tanpa perlu takut kehilangan. Karena Allah telah menyiapkan yang terbaik bagi hamba-Nya yang sabar dalam mencintai.

Islam tidak melarang

Ingat! Islam itu tidak melarang jatuh cinta, yang dilarang adalah tindakan-tindakan negatif yang kamu lakukan atas nama cinta.

Bertambah cinta

‌Ya Allah, sekiranya aku jatuh cinta, maka jatuhkanlah cintaku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu.

Cinta pertama

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, kuatkanlah hatiku untuk tetap menjadikan Engkau sebagai cinta pertama dalam hidupku.

Tersentuh cinta

Duhai engkau yang tersentuh cinta, dekati dengan mendekat kepada Pemiliknya, jalani hari dengan kesabaran untuk menjaga, niscaya Allah berikan keindahan laksana surga dalam bahtera rumah tangga yang dibina. – (dari buku “Aku tersentuh cinta”)

Mulia atau hina?

Jatuh cinta itu fitrah. Ingin bercinta itu fitrah. Jika fitrah itu dibawa dengan aliran yang betul, ia mulia. Jika dibawa dengan aliran yang salah, itu hina.

Membangkitkan gairah ibadah

Cinta dalam islam bukan mengajar kita lemah atau sesat, tetapi membangkitkan kekuatan terutama dalam beribadah.

Ridha Allah

Karena ridha Allah yang kita cari dari setiap cinta, maka cintailah si dia dengan cara yang Allah ridhai. Semoga ridha Allah pula yang menyatukan.

Karena Agamamu

Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama yang ada pada dirimu, maka hilanglah juga cintaku padamu. – (Imam Nawawi)

Begitu banyak cinta-Nya

Renungkanlah cinta yang diberikan Allah untuk kita, niscaya kita tidak akan kuasa menghitung berapa banyak cinta-Nya yang diberikan pada kita.

Agar mulia

Mencintai dan dicintai adalah fitrah manusia, tapi islam mengaturnya agar cinta itu mulia lagi terjaga.

Cinta yang kekal

Cinta pada dunia, dunia akan pergi. Cinta pada manusia, manusia akan mati. Cintalah pada Allah karena Dialah yang kekal abadi.

Tak punya waktu

Aku tak punya waktu untuk membenci orang yang membenciku, karena aku terlalu sibuk mencintai mereka yang mencintaiku.

Cinta dalam diam

Ajari aku cinta dalam diam, pada kesendirian tanpa sentuhan haram, pada kerinduan dalam doa-doa malam, demi kesucian cinta yang terpendam.

Cintai Allah

Mencintai Allah adalah setinggi-tingginya cinta. Sempurnakan cintamu pada Allah sebelum engkau melabuhkan cintamu pada makhluk-Nya.

Cinta Allah

Bila mata bertemu mata, akan temui cinta manusia. Bila dahi bertemu sajadah, akan temui cinta Allah. (Imam Al-Ghazali)

Lelaki yang baik

Lelaki yang baik tidak akan bermain-main dengan cinta, sebab dia tahu kata cinta menuntut tanggung jawab.

Itulah beberapa kata mutiara islam tentang cinta yang sangat indah dan manis. Semoga kata kata bijak islam tentang cinta tersebut bisa menjadi nasehat bagi kita untuk mengekspresikan rasa cinta dengan cara yang benar.

Kata Mutiara Islami Berbakti Kepada Orang Tua

Berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu perintah Allah SWT yang tertuang dalam alquran. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Q.S Al-Isra’: 23-24).

Di antaranya bentuk kesempurnaan ajaran islam adalah fakta bahwa dalam islam sangat memperhatikan masalah etika. Termasuk di dalamnya tentang etika bagaimana bersikap kepada orang tua. Islam sangat menekankan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua atau biasa dikenal dengan istilah Birrul Walidain.

Berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu perintah Allah SWT yang tertuang dalam alquran. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Q.S Al-Isra’: 23-24).

Sudah sepantasnya bagi seorang anak untuk mempersembahkan bakti terbaik kepada kedua orang tuanya. Karena mereka adalah penyebab keberadaan kita di dunia, mereka juga yang telah merawat kita sejak kecil, terutama sang Ibu yang mengandung dengan susah payah sembilan bulan lamanya. Berbakti kepada kedua orang tua bukan hanya sebagai balas budi seorang anak kepada orang tua, tapi lebih dari itu, berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dalam beberapa ayat alquran, Allah SWT bahkan menggandengkan perintah tauhid dengan berbakti kepada kedua orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan orang tua sangat agung, hingga Allah menyandingkannya dengan masalah tauhid. Rasulullah juga sampai mengatakan, “Ridha Allah tergantung pada ridhanya kedua orang tua, Murka Allah tergantung pada murkanya orang tua” (HR Tirmidzi).

Sayangnya, banyak anak di zaman sekarang yang mengabaikan perintah mulia ini. Mereka memperlakukan orang tua dengan kasar, membangkang perintahnya, bahkan menganggap orang tuanya sebagai beban dan menelantarkannya. Islam sangat tidak memperkenankan hal itu, bahkan untuk bilang “uf” saja dilarang, apalagi yang lebih dari itu.

Kata Mutiara Islam Tentang Berbakti Pada Orang Tua
Berikut ini beberapa kata mutiara islam tentang berbakti kepada kedua orang tua. Koleksi kata mutiara islam ini memuat pesan-pesan indah yang mengajak kita untuk berbakti kepada kedua orang tua dengan menampilkan perkataan dan sikap yang terbaik pada orang tua.

Mencintai kedua orangtua

Love your parents. We are so busy growing up, we often forget they are also growing old.

Cintai kedua orang tuamu. Kita begitu sibuk tumbuh dewasa, tapi kita sering lupa bahwa mereka juga bertambah tua.

Jangan memarahi mereka

Don’t anger your parents in order to please other people. Those other people did not spend their lives building yours.

Jangan memarahi kedua orang tuamu hanya untuk menyenangkan orang lain. Karena orang lain tidak menghabiskan masa hidup mereka untuk membina dan membangun hidupmu.

Melihat mereka tersenyum

The most beautiful thing in this world is to see your parents smiling, and knowing that you are the reason behind that smile.

Hal terindah di dunia ini adalah ketika melihat kedua orang tuamu tersenyum dan mengetahui bahwa kamu adalah alasan di balik senyuman itu.

Besarnya cinta mereka

Nobody on earth can love you more than your parents.

Tidak ada manusia di bumi yang bisa mencintaimu lebih dari kedua orang tuamu.

Memohonkan ampunan

The best thing you can do for your parents, is none other than asking Allah to forgive them.

Hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk kedua orang tuamu, tidak lain adalah memohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka.

Berbakti kepada orangtua

And your Lord has decreed that you not worship except Him, and to parents, good treatment. Whether one or both of them reach old age while with you, say not to them so much as, “uff” and do not repel them but speak to them a noble word. – (Q.S Al-Isra’: 23)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya mencapai umur lanjut dalam penjagaanmu, maka sekali-kali jangan kamu katakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. – (Q.S Al-Isra’: 23)

Ridha dan murka-Nya

Allah’s blessing will depend on the parents’ blessing, Allah’s wrath will depend on the wrath of both parents. – Hadits

Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua. – Hadis

Kesempatan

If your parents are alive, be grateful at the opportunity to earn Jannah by serving them. – Nouman Ali Khan

Jika orang tua kalian masih hidup, bersyukurlah karena itu berarti kamu masih memiliki kesempatan untuk meraih surga dengan berbakti kepada mereka. – Nouman Ali Khan

Berpahala haji mabrur

Looking at your parents with kindness brings the reward of an accepted pilgrimage. – Hadits

Tidaklah seseorang yang berbakti kepada kedua Orang tuanya, kemudian Ia mamandang kedua orangtuanya dengan pandangan rahmat kasih sayang, melaikan ditulis padanya di setiap pandangan tersebut seperti Haji Mabrur. – Hadis

Pintu surga

Your parents are the door to jannah. Open it or close it. Your choice

Orangtuamu adalah pintu menuju surga. Membuka pintu itu atau menutupnya, itu tergantung pilihanmu.

Banyak hutang

Love your Parents, You owe them a lot. You never prayed to have them, but they may have prayed to have you. – Mufti Menk

Cintailah kedua Orangtuamu, kamu berutang banyak kepada mereka. Kamu tidak pernah menyebut mereka dalam doamu, tapi mereka mungkin selalu berdoa untukmu. – Mufti Menk

Perintah birrul walidain

And We have enjoined upon man, to his parents, good treatment. – (Q.S Al-Ahqaf: 15)

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. – (Q.S Al-Ahqaf: 15)

Ampuni mereka

Our Lord, Forgive me and my parents, and all the believers on the Day when the reckoning will be established. – (Q.S Ibrahim: 41)

Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku serta seluruh orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat). – (Q.S Ibrahim: 41)

Tunggu apa lagi

Our parents are blessings, don’t delay showing them love. We don’t know how long we have this blessing for. – Dr. Bilal Philips

Orang tua kita adalah berkah, maka jangan menunda untuk menunjukkan cinta kepada mereka. Karena kita tidak tahu berapa lama kita memiliki berkah ini. – Dr. Bilal Philips

Jangan mengeluh

Don’t ever complain about what your parents never offered you. They probably gave you all they have.

Jangan pernah mengeluh tentang apa yang tidak pernah ditawarkan oleh kedua orang tuamu. Karena mungkin mereka telah memberikan segala yang mereka miliki untukmu.

Sekarang juga

Don’t underestimate your parent’s dua for you. Their dua are so important that Allah recorded them in the Quran. Ask them to make dua for you. Right now. – Nouman Ali Khan

Jangan meremehkan kekuatan doa dari kedua orang tuamu. Doa mereka begitu sangat penting hingga Allah mencatatnya dalam Alquran. Karena itu mintalah mereka untuk mendoakanmu, sekarang juga. – Nouman Ali Khan

Orang tua shalih

There is no school equal to a decent home, and no teacher equal to a virtuous parent.

Tidak ada sekolah yang setara dengan rumah yang nyaman, dan tidak ada guru yang setara dengan orang tua yang saleh.

Sudahkah kita bersikap rendah hati?

If you want to see if you are humble or not, see how you are to your parents. – Nouman Ali Khan

Jika kamu ingin melihat apakah dirimu orang yang rendah hati ataukah tidak, lihatlah bagaimana sikap yang kamu tunjukkan kepada kedua orang tuamu. – Nouman Ali Khan

Merawatnya

May Allah give us the strength to take care of our parents, the way they took care of us when we were helpless.

Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk bisa merawat orang tua kita, sebagaimana mereka merawat kita saat kita tidak berdaya.

Mendoakan kedua orangtua

My Lord, have mercy upon them as they brought me up when I was small. – (Q.S Al-Isra’: 24)

Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah merawatku di waktu kecil. – (Q.S Al-Isra’: 24)

Berkah terbesar

The greatest blessing after the bounties of the Creator-God is the blessing of parents. – Fakhruddin Ar-Razi

Berkah terbesar setelah karunia Tuhan sebagai Sang Pencipta adalah berkah dari kedua orang tua. – Fakhruddin Ar-Razi

Membahagiakan orangtua

Keep your parents smiling , they spent their days and nights keeping you from crying. – Dr. Bilal Philips

Buatlah kedua orang tuamu tersenyum, karena mereka telah menghabiskan waktu siang dan malam untuk membuatmu tidak menangis. – Dr. Bilal Philips

Semoga beberapa kata mutiara islam tentang berbakti kepada orang tua tersebut membuat kita semakin memahami kedudukan terhormat orang tua dalam islam dan menyadari kewajiban kita sebagai seorang anak untuk berbakti kepada mereka.

Kata Mutiara Islami Tentang Hijab Dan Menutup Aurat

Beberapa orang menganggap bahwa mengenakan Hijab berarti kembali ke masa prasejarah. Tentu ini tidak benar. Lebih dari itu, orang seperti itu gagal menyadari bahwa sebenarnya berpakaian setengah telanjang berarti kembali ke Zaman Batu.

Hijab adalah hak asasi setiap individu wanita yang ingin menutup auratnya. Lebih dari itu, hijab merupakan kewajiban bagi setiap muslimah. Allah SWT telah mengatur cara berbusana kaum hawa melalui beberapa firman-Nya dalam ayat-ayat alquran. Ajaran syariat bagi kaum wanita untuk mengenakan hijab ini memiliki tujuan dan manfaat yang sangat besar, tidak hanya bagi wanita itu sendiri, tapi juga bagi kaum pria di sekelilingnya dan perkembangan generasi bangsa yang lebih beradab.

Jika diamati, cara berbusana kaum wanita saat ini sungguh memprihatinkan. Busana yang dikenakan tidak lagi berfungsi menutup tubuh, tapi justru semakin mempertontonkan tubuh, dengan kata lain hanya sekedar membungkus. Akibatnya, tindak kriminal terhadap wanita juga semakin meningkat sebagaimana banyak diberitakan di berbagai media. Maka hijab ini bisa menjadi solusi yang tepat sebagai upaya meng-counter kerusakan moral di zaman sekarang.

Sayangnya, banyak wanita muslimah yang masih enggan mengenakan hijab dengan berbagai alasan pembenaran. Padahal, ini adalah bentuk perhatian Allah kepada para kaum wanita dan yang akan meninggikan martabat mereka di sisi Allah SWT.

Kata Nasehat Islami Tentang Hijab dan Menutup Aurat

Beberapa kata mutiara islami tentang hijab berikut ini mendefinisikan serta menggambarkan hijab dengan sangat indah. Barangkali bisa menjadi motivasi bagi kaum hawa yang sampai saat ini masih belum bersedia berhijab.

Dengan dilengkapi gambar ilustrasi yang menarik, koleksi kata motivasi islami tentang hijab ini bisa anda bagikan kepada saudari-saudari muslimah lainnya sebagai syiar dakwah mengajak untuk berhijab.

Tak akan pudar

Sisters, The sun doesn’t lose its beauty when it’s covered by the clouds. The same way your beauty doesn’t fade when you’re wearing hijab.

Wahai saudari, Matahari tidak kehilangan keindahannya saat tertutup awan. Begitu juga dengan kecantikanmu yang tidak akan pudar saat engkau mengenakan Hijab.

Tuntutan hijab

Hijab isn’t just what you’re wearing but it’s also what you do and say.

Hijab bukan hanya tentang apa yang kamu kenakan, tapi juga tentang sikap dan ucapan.

Membebaskan

Hijab is not about oppression, but freedom from evil eyes.

Hijab bukan berarti menindas atau mengekang, tapi tentang membebaskan diri dari pandangan mata-mata yang jahat.

Kunci surga

it’s not just a Hijab, it’s our key to Jannah.

ini bukan sekedar Hijab, ini adalah kunci kami untuk menuju surga.

Terhormat

Hijab forces a man to look at a woman with respect rather than as an object.

Hijab memaksa seorang pria untuk melihat wanita dengan hormat dan bukan sebagai sebuah objek.

Jangan sekedar fashion

Hijab with a bad attitude isn’t Hijab,
Hijab with tight clothes on isn’t Hijab,
Hijab With hair on the side isn’t Hijab,
Hijab with layers of Makeup isn’t Hijab!
Hijab is beautiful, so make it look beautiful, don’t make it a fashion.

Hijab dengan sikap yang buruk bukanlah Hijab,
Hijab dengan pakaian yang ketat bukanlah Hijab,
Hijab dengan rambut terurai di sisi bukanlah Hijab,
Hijab dengan lapisan makeup bukanlah hijab!
Hijab itu indah, maka buat itu terlihat indah, jangan hanya menjadikannya sebagai fashion.

Mengangkat martabat

Allah raises your dignity through the Hijab. When a strange man looks at you, he respects you because he sees that you respect yourself.

Allah mengangkat martabatmu melalui Hijab. Ketika ada seorang pria asing melihatmu, dia akan menghormatimu, karena dia melihat bahwa dirimu bisa menghormati diri sendiri.

Teruntuk suami

why do muslim women have to wear hijab? because their beauty is for their man (husband) not for mankind.

Mengapa wanita muslimah harus mengenakan Hijab? Karena kecantikan mereka diperuntukkan bagi suami mereka, bukan untuk setiap orang.

Zaman batu

Some claim wearing hijab means going back to some prehistoric period. This is not true. Moreover, such people fail to realize that actually dressing half naked means going back to the Stone Age.

Beberapa orang menganggap bahwa mengenakan Hijab berarti kembali ke masa prasejarah. Tentu ini tidak benar. Lebih dari itu, orang seperti itu gagal menyadari bahwa sebenarnya berpakaian setengah telanjang berarti kembali ke Zaman Batu.

Bukan membungkus

Islam teches you to cover not to wrap.

Islam mengajarkan kamu untuk menutupi, bukan hanya sekedar membungkus.

Bagai mutiara

A woman modestly dressed is as a pearl in its shell.

Seorang wanita yang menutup aurat itu ibarat mutiara yang berada di dalam cangkangnya.

Keindahan yang lebih besar

My hijab covers my body, but open my mind to the greater beauty which is Him.

Hijab menutupi tubuhku, tapi membuka pikiranku untuk mengenal keindahan yang lebih besar, yaitu Dirinya (Allah).

Kain kafan

Dear Sisters, One day you will all be covered from head to toe. Don’t let your last day on earth be the first day you wear hijaab. – Dr. Bilal Philips

Wahai saudari, Suatu hari nanti tubuh kalian semua akan tertutup dari ujung kepala sampai kaki (terbungkus kain kafan). Maka jangan sampai hari terakhirmu di muka bumi ini menjadi hari pertamamu mengenakan Hijab. – Dr. Bilal Philips

Bagai berlian

Be like a diamond, precious and rare.

Jadilah seperti berlian, berharga dan langka.

Menghargai keindahan

Modesty is the way you deal with beauty not the way you avoid it. – Dr. Tariq Ramadan

Menutup aurat adalah cara kamu menghargai keindahan, bukan cara kamu menghindarinya. – Dr. Tariq Ramadan

Kata Bijak Islami Tentang Hijab dan Menutup Aurat
Saat baligh

Kewajiban menutup aurat dimulai ketika kita sudah baligh, bukan menunggu saat kita sudah baik.

Menjadi taat

Aku berhijab bukan karena aku sudah menjadi baik ataupun shalihah. Tapi ini adalah cara bagiku untuk menjadi muslimah taat yang baik dan shalihah.

Sebuah awal

Hijab itu awal perbaikan. Berhijablah sambil terus memperbaiki hati dan perilaku.

Sebuah proses

Muslimah berhijab bukan malaikat, namun ia sedang proses menuju taat.

Untuk semua

Hijab bukan hanya untuk wanita yang pandai agamanya saja. Hijab juga bukan hanya untuk wanita yang pandai mengaji saja. Tapi hijab adalah kewajiban bagi semua wanita yang mengaku dirinya muslimah.

Satu langkah

Satu langkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka satu langkah juga ayahnya mendekat ke dalam derasnya api neraka.

Bukan sekedar aksesoris

Hijab tak hanya sekedar aksesoris fisik belaka. Hijab adalah identitas. Hijab adalah refleksi ketaatan wanita kepada Allah SWT.

Payung

Hijab itu payung kehidupan muslimah, tempat berteduh dari panasnya api neraka.

Biasakan sejak dini

Biasakanlah anak perempuan memakai hijab syar’i sejak kecil. Sehingga saat dewasa sudah terbiasa dan tidak canggung untuk berhijab syar’i.

Belum mau

Belum berhijab bisa jadi bukan karena “belum dapat hidayah”, tapi “belum mau jemput hidayah”.

Ingin taat

Tutup rapatnya semua auratku bukan berarti aku suci tanpa dosa. Hanya ingin taat pada-Nya, dan menutup satu pintu dosa yang biasa dilakukan wanita.

Tidak semuanya

Memang tidak semua perempuan berhijab itu baik akhlaknya. Tetapi setidaknya perempuan yang baik akhlaknya pasti berhijab, karena dia takut akan api neraka.

Karena iman

Berhijab memungkinkan engkau dipilih karena iman, bukan karena fisik.

Sebelum terlambat

Ayo tutup aurat dengan berhijab sebelum jadi mayat dan mendapat adzab.

Bantu kami

Ukhti.. tutuplah auratmu, bantulah kami untuk menjaga pandangan kami.

Sudah berusaha

Wanita yang menutup aurat itu, memang belum tentu dijamin surga buatnya, tapi setidaknya dia berusaha untuk menjadi ahli surga.

Seperti binatang

Jika membuka aurat adalah gaya modern, maka binatang sudah lebih modern daripada manusia.

Mengundang cinta

Wanita yang menutup aurat mampu mendatangkan pria yang mencintainya dengan hati. Sedangkan wanita yang memperlihatkan tubuh mampu mendatangkan pria yang mencintainya dengan nafsu.

Bukan untuk diumbar

Wanita cantik itu yang menutup auratnya, karena dia paham bahwa tubuhnya bukan untuk dikonsumsi publik.

HOT

Wahai muslimah.. biarlah kita tak “HOT” di dunia karena menutup aurat, daripada kita “HOT” direndam dalam neraka Allah nanti.

Wanita hebat

Wanita hebat itu.. ia yang tetap mempertahankan hijabnya walaupun dapat mengancam karirnya. Namun ia percaya, bahwa Allah akan mencukupkan rezekinya tanpa harus melanggar syariat-Nya.

Menjaga kecantikan

Cantik itu amanah. Bisa menjadi anugerah, bisa juga menjadi fitnah. Lindungi cantikmu dengan hijab syar’i.

Sebaik-baik wanita

Sebaik-baik wanita adalah wanita yang menutup auratnya, dan menjadikan malu sebagai tamengnya.

Bernilai tinggi

Sesuatu akan lebih bernilai tinggi jika dijaga dengan sebaik-baiknya. Dan untuk wanita muslimah adalah dengan menutup aurat dari pandangan orang banyak.

Telanjang

Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan melenggak lenggok guna membuat manusia memandangnya, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapati aromanya, padahal aroma surga bisa dicium dari jarak 500 tahun. – (HR. Malik)

Siksa mengumbar aurat

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anakku Fatimah, adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka, adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya serta membiarkannya dilihat laki-laki yang bukan mahramnya. – (HR. Bukhari dan Muslim)

Terhormat

Hijab membuatmu terhormat di dunia dan mulia di akhirat. Hijab buat cantikmu tak lekang diseret waktu bagai emas karat.

Perhiasan

Wahai wanita.. kamu tahu kenapa Rasulullah mengumpamakan wanita shalihah dengan perhiasan yang paling indah? itu karena semakin indah perhiasan maka semakin ketat penjagaannya dan tidak boleh ada yang memilikinya, kecuali yang pantas dan mengerti cara menjaganya.

Tak perlu beralasan

Menutup aurat tak butuh banyak alasan. Sebab, Malaikat izrail pun tak butuh banyak alasan untuk mengambil nyawamu kapanpun dan dimanapun.

Tak perlu diumbar

Kecantikan yang nyata tak perlu diumbar, sehingga bisa untuk dirasakan. Justru dengan mengenakan hijab, bisa menyembunyikannya dengan sangat bersahaja.

Identitas

Hijab adalah identitas, pakaian indah yang membuat muslimah berwibawa. Muslimah bukanlah budak mode, yang hanya patuh pada selera manusia.

Syariat hijab

Syariat hijab Allah turunkan bukan untuk wanita yang taat dan bersih dari dosa, tetapi untuk wanita yang ingin taat dan menjauhi dosa.

Semoga kata-kata mutiara islami tentang hijab ini bisa menginspirasi dan memotivasi diri untuk semakin mantab dalam menjalankan syariat Allah SWT, yaitu dengan berhijab menutupi aurat.

Kumpulan Kata Mutiara Bijak Imam Malik

Sunnah itu bagaikan bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya, maka ia akan selamat. Barangsiapa menyelisihinya, maka ia akan tenggelam. – Imam Malik bin Anas

Imam Malik adalah salah satu dari empat madzhab besar dalam fikih islam. Ia memiliki nama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaimah bin Kutail bin Amr bin Haris Al-Asbahi. Ia dilahirkan pada 93 H (712 M) di Madinah.
Imam Malik berasal dari keluarga Arab yang berstatus sosial tinggi dan terhormat, baik sebelum maupun sesudah kedatangan Islam. Leluhurnya berasal dari Yaman. Namun, setelah masuk Islam mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, menjadi anggota keluarga pertama yang masuk Islam pada tahun ke-2 Hijriyah.

Dalam usia yang masih sangat muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Hampir seluruh hidupnya ia habiskan untuk menuntut ilmu. Tak heran jika tokoh-tokoh besar islam seperti khalifah Al-Mansur, khalifah Al-Mahdi, khalifah Al-Hadi, dan khalifah Harun Al-Rasyid, pernah berguru kepadanya.
Ulama besar seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i juga pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Menurut sebuah riwayat, murid terkenal Imam Malik dari kalangan ulama, ilmuwan, dan para ahli mencapai 1.300 orang.

Imam Malik dikenal sebagai ulama yang tegas dan konsisten. Berulangkali ia bahkan menolak dan menentang dengan tegas keinginan para penguasa yang menurutnya tidak sejalan dengan akidah islamiyah.

Kata Mutiara Islam Imam Malik
Berikut ini beberapa kata mutiara islam Imam Malik yang memuat pesan-pesan nasehat indah. Kata bijak islam Imam Malik berikut ini mencerminkan keluasan ilmunya dan kecintaanya kepada ilmu pengetahuan.

Mengambil ilmu

Knowledge is not to be taken from four types of people: 1) a foolish person who openly acts foolish, even if he reports the most narrations; 2) an adherent of bid’ah who calls to his desires; 3) a person who lies, even if I don’t accuse him of lying in hadith; 4) and a righteous pious worshiper who does not accurately retain what he narrates. – Imam Malik bin Anas

Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: 1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, 2) Shahibu hawa` (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya, 3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , 4) Seorang yang shalih dan mulia yang tidak mengetahui hadis yang ia sampaikan. – Imam Malik bin Anas

Bukan sekedar hafalan

Knowledge does not consist in narrating much. Knowledge is but a light which Allah places in the heart. – Imam Malik bin Anas

Ilmu itu bukan sekedar banyak menghafal riwayat, namun ilmu adalah cahaya yang Allah Subhanahu wa Ta’ala letakkan pada hati seorang hamba. – Imam Malik bin Anas

Menjemput ilmu

It is not the knowledge which should come to you, it is you who should come to knowledge. – Imam Malik bin Anas

Bukan ilmu yang harus datang kepadamu, tapi kamulah yang seharusnya datang menjemput ilmu. – Imam Malik bin Anas

Hasad atau dengki

Envy is the desire for someone who has a blessing to be deprived of it, whether it is a religious or worldly blessing. – Imam Malik bin Anas

Hasad adalah seseorang yang berangan-angan akan hilangnya nikmat dari saudaranya, baik nikmat agama ataupun dunia. – Imam Malik bin Anas

Orang yang menyesatkan

Don’t give misled people access to your ears. You have no idea what kind of trouble that can create within you. – Imam Malik bin Anas

Jangan biarkan orang yang menyesatkan masuk ke telingamu. Kamu tidak tahu seperti apa masalah yang bisa muncul di dalam dirimu. – Imam Malik bin Anas

Adab sebelum ilmu

Learn good manners before seeking knowledge. – Imam Malik bin Anas

Pelajarilah adab (budi pekerti) sebelum mempelajari suatu ilmu. – Imam Malik bin Anas

Amal kebaikan

Whoever wants to have an open heart, then let his secret deeds be better than his public deeds. – Imam Malik bin Anas

Siapa yang ingin memiliki hati yang terbuka, maka biarkanlah amal kebaikan yang ia lakukan sembunyi-bunyi lebih baik daripada amal kebaikan yang tampak. – Imam Malik bin Anas

Bagai mutiara

The believer is like a pearl; whereever he is, his beautiful (qualities) are with him. – Imam Malik bin Anas

Orang beriman itu bagaikan mutiara. Di manapun dia berada, keindahan selalu ada dalam dirinya. – Imam Malik bin Anas

Aku hanya manusia biasa

I am but a man. I make mistakes sometimes and I am correct sometimes, so examine my opinions and accept anything that agrees with the Book and Sunnah; and leave anything that does not agree with the Book and Sunnah. – Imam Malik bin Anas

Aku hanyalah manusia biasa yang kadang benar dan kadang juga salah. Maka telitilah setiap pendapat yang kalian dengar dariku. Ambillah pendapatku jika memang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Dan tinggalkan pendapatku jika tidak sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. – Imam Malik bin Anas

Pertanggungjawaban ilmu

Verily, this knowledge is your flesh and blood, and you will be asked about it on the day of resurrection. So look (be careful) from whom you take it. – Imam Malik bin Anas

Sesungguhnya ilmu ini adalah daging dan darahmu, dan pada hari kiamat kelak kamu akan ditanya tentangnya. Maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambilnya. – Imam Malik bin Anas

Berada di lingkaran kebaikan

Always be in a company that motivates you toward a positive direction. – Imam Malik bin Anas

Berusahalah untuk selalu berada di sekeliling orang yang memotivasi kamu ke arah yang positif. – Imam Malik bin Anas

Bagai bahtera Nabi Nuh

The Sunnah is like the Ark of Noah. Whoever embarks upon it reaches salvation and whoever refuses is drowned. – Imam Malik bin Anas

Sunnah itu bagaikan bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya, maka ia akan selamat. Barangsiapa menyelisihinya, maka ia akan tenggelam. – Imam Malik bin Anas

Semoga kata mutiara islam Imam Malik di atas bisa menjadi nasehat serta motivasi bagi diri kita untuk menjadi pribadi muslim yang lebih baik.

Kata Mutiara Islami Tentang Penyesalan

 Kamu pikir penyesalan adalah ketika kamu tidak bisa menikahi pasangan yang kamu inginkan, atau tidak menempuh studi pada jurusan yang kamu suka? Bukan! Penyesalan adalah ketika kamu sampai di liang kubur tanpa membawa cukup banyak amal kebaikan.

Setiap orang memiliki penyesalan tertentu dalam hidupnya. Ada yang menyesal karena belum bisa memberikan perhatian lebih kepada orang-orang yang berarti dalam hidupnya, menyesal karena belum bisa menjadi pasangan yang lebih baik, menyesal karena banyak waktu yang telah terbuang sia-sia, menyesal masih banyak mimpi yang belum tercapai, menyesal belum melakukan banyak hal berarti bagi orang lain, dan lain sebagainya.

“Penyesalan selalu datang belakangan”, begitu kata pepatah bijak. Memang begitulah, kita baru akan menyesali ini dan itu yang kita lakukan setelah semuanya berlalu. Karenanya, islam mengajarkan kita untuk menghargai setiap waktu dan kesempatan yang kita miliki agar benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ashr, Allah subhanahu wa ta’ala bahkan telah menegaskan bahwa kita semua tergolong sebagai manusia yang kelak akan merugi dan menyesal, kecuali jika dalam hidup ini kita menjadi pribadi yang beriman, beramal saleh, serta gemar saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Kata Kata Islami Tentang Menyesal
Berikut ini kami sajikan beberapa kata mutiara islam tentang penyesalan yang banyak memuat nasehat bijak seputar penyesalan. Kumpulan kata bijak islam tentang penyesalan berikut ini sangat bagus sebagai renungan bagi kita untuk memaknai penyesalan dengan benar.

Karena Allah

إذا أردت أن لا تندم على شيء فـأفعل كل شيء لوجه الله

If you wish to never feel regret for your actions, do everything for the sake of Allah.

Jika kamu tidak ingin menyesal dengan sesuatu, maka lakukanlah segala sesuatu karena Allah.

Dosa

Sins need to be burnt, either with the pain of regret in this world or with the fire of hell in the hereafter. – Ibnu Qayyim

Dosa itu perlu dibakar, entah itu dengan sakitnya rasa penyesalan di dunia ini ataukah dengan api neraka di akhirat kelak. – Ibnu Qayyim

Penyesalanku

یَـٰحَسۡرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِی جَنۢبِ ٱللَّهِ

Oh how great is my regret over what I neglected in regard to Allah. – (QS. Az-Zumar: 56)

Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah. – (QS. Az-Zumar: 56)

Lebih baik

A bad deed which you regret in your heart is a thousand times better than the good deed that make you feel proud. – Ali bin Abi Thalib

Suatu perbuatan buruk yang kau sesali di hati seribu kali lebih baik daripada perbuatan baik yang membuatmu merasa sombong. – Ali bin Abi Thalib

Hari yang kusesali

ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ

I have never regretted anything as much as a day on which the sun sets and my life span decreases, while my good deeds have not increased. – Ibnu Mas’ud

Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, di mana masa hidupku berkurang (usia bertambah), namun amal kebaikanku tidak bertambah. – Ibnu Mas’ud

Sesaat saja

A moment of Patience in a moment of Anger saves a thousand moments of Regret. – Ali bin Abi Thalib

Sabar sesaat saja di saat marah akan menghemat ribuan penyesalan. – Ali bin Abi Thalib

Penyesalan terbesar

Ali Banat on being asked about his biggest regret: “My biggest regret is that it took a man in suit to tell me that I’m going to die, but Allah (subhanahu wa ta’ala) told me all my life and I did not believe him.”

Ali Bannat ketika ditanya apa penyesalan terbesarnya, dia menjawab, “Penyesalan terbesarku adalah perlu seorang berjas (dokter) untuk meyakinkanku bahwa aku akan mati, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahuku di sepanjang hidupku tapi aku tak mempercayai-Nya.”

Diam

I have never regretted my silence as for my speech i’ve regretted it many times. – Umar bin Khattab

Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku. Tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku. – Umar bin Khattab

Hukuman

Regret is a form of punishment itself. – Nouman Ali Khan

Penyesalan adalah bentuk hukuman itu sendiri. – Nouman Ali Khan

Menua

Do not regret growing older, as it is a privilege denied to many.

Jangan menyesal semakin tua, karena itu adalah hak istimewa yang ditolak banyak orang.

Hari di hidupmu

Never regret a day in your life: good days give happiness, bad days give experience, worst days give lessons, and best days give memories.

Jangan pernah menyesali suatu hari dalam hidupmu: hari yang baik memberikan kebahagiaan, hari yang buruk memberikan pengalaman, hari yang sia-sia memberikan pelajaran dan hari terbaik memberikan kenangan.”

Sumber kedamaian

You want peace? Bow down to Allah! Put your forehead on the ground, talk to Him, pour your heart out, reflect, regret, and repent. – Abu Maryam

Kamu ingin kedamaian? tunduklah kepada Allah, letakkan keningmu di atas tanah, bicaralah kepada-Nya dan curahkan semua isi hatimu, renungkan, sesali dan bertaubatlah. – Abu Maryam

Rencana

التدبير قبل العمل يؤمنك مِن الندم

Planning before action will preserve you from regret. – Ali bin Abi Thalib

Merencanakan sebelum bertindak akan membuatmu tidak menyesal. – Ali bin Abi Thalib

Waspadalah

Prophet Muhammad (Shallallahu’alaihi wa sallam)said, “Oh Abu Dzar! Beware of Procrastination for you are today and not tomorrow. If there is a tomorrow for you, be tomorrow as you are today. If there isn’t a tomorrow for you, you will grievously regret the opportunity you missed today.” – Hadits

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu Dzar! Waspadai Penundaan, untukmu adalah hari ini dan bukan besok. Jika ada besok untukmu, jadilah besok seperti hari ini. Jika tidak ada besok untukmu, engkau akan dengan sedih menyesali kesempatan yang engkau lewatkan hari ini.” – Hadis

Kembali kepada-Nya

Do not return to Allah with regrets. Regret here, repent here, and then return to Allah.

Jangan kembali kepada Allah dengan penyesalan. Menyesallah di sini, bertobatlah di sini, dan kemudian kembali kepada Allah.

Menunda

The sigh of the people of Hell is mostly because of the postponement of repenting. – Hadits

Rintihan para penghuni neraka sebagian besar adalah karena menunda-nunda dalam bertaubat. – Hadis

Komitmen

A life totally committed to Allah has nothing to fear, nothing to lose, nothing to regret.

Kehidupan yang sepenuhnya berkomitmen kepada Allah tidak perlu merasa takut, tidak perlu merasa rugi, tidak ada yang perlu disesali.

Seorang muslim

To err is human. To stop, regret and repent is Muslim.

Berbuat salah itu manusiawi. Berhenti, menyesali, dan bertaubat dari berbuat salah, itulah karakter seorang muslim.

Tetesan dosa

Do not let your small drops of sin become a flooding river of regret. Ask Allah to forgive you regularly and return to Him when you stray.

Jangan biarkan tetesan dosa kecilmu menjadi banjir penyesalan. Mohonlah ampunan kepada Allah secara terus menerus dan kembalilah kepada-Nya saat  engkau tersesat.

Diam

Silence that covers you with honour is better than speech that earns you regret. – Ali bin Abi Thalib

Diam yang menyelimutimu dengan kehormatan lebih baik daripada ucapan yang membuatmu menyesal. – Ali bin Abi Thalib

Belas kasih Allah

The Almighty Allah is more merciful than a mother is to her child. So no matter what mistakes you’ve made return to him with regret and repent. – Mufti Ismail Menk

Allah Yang Mahakuasa lebih berbelaskasih daripada seorang ibu terhadap anaknya. Jadi, apapun kesalahan yang pernah kamu perbuat, kembalikan kepada-Nya dengan penuh penyesalan dan taubat. – Mufti Ismail Menk

Benar mencintai

If you truly love Allah, you shouldn’t have any regret in life.

Jika engkau benar-benar mencintai Allah, engkau seharusnya tidak memiliki penyesalan dalam hidup.

Yang layak disesali

You think regret is when you did not marry the man/woman you wanted, or did not study the course you like? No! Regret is you reaching the grave without enough good deeds.

Kamu pikir penyesalan adalah ketika kamu tidak bisa menikahi pasangan yang kamu inginkan, atau tidak menempuh studi pada jurusan yang kamu suka? Bukan! Penyesalan adalah ketika kamu sampai di liang kubur tanpa membawa cukup banyak amal kebaikan.

Pahitnya penyesalan

The pleasure of giving pardon is followed by a praiseworthy outcome. The pleasure of taking revenge is followed by the bitterness of  regret. – Ali bin Abi Thalib

Gemar memaafkan selalu diikuti oleh hasil yang terpuji. Sedangkan gemar membalas dendam selalu diikuti oleh pahitnya penyesalan. – Ali bin Abi Thalib

Itulah beberapa kata mutiara islam tentang penyesalan. Semoga bermanfaat bagi kita, khususnya sebagai motivasi agar senantiasa semangat dalam menjalani hidup dan mempu mengelola perasaan menyesal dengan benar.

Biografi Shalahuddin Al Ayyubi Lengkap

Melihat Guy yang ketakutan Shalahuddin kemudian berkata, “Raja tidak membunuh Raja. Mengapa kamu tidak mendekati seorang raja agung untuk belajar dari keteladanannya?”

Shalahuddin al-Ayyubi, sultan yang juga panglima perang itu, berhadap-hadapan dengan Balian de Ibelin, salah satu pemimpin terpenting tentara Salib. Pertempuran yang baru terjadi antara kedua belah pihak meninggalkan kekalahan besar di pihak Balian. Sang Sultan, Shalahuddin al- Ayyubi, menghentikan pertempuran dan secara damai meminta Balian menyerahkan Yerusalem kepada kaum Muslimin dengan beberapa penawaran.

“Aku akan mengantarkan tiap-tiap jiwa (orang) kalian (umat Kristen) dengan aman ke wilayah-wilayah Kristen, setiap jiwa dari kalian, wanita, anak-anak, orang tua, seluruh pasukan dan tentara, dan juga ratu kalian. Dan, aku akan mengembalikan raja kalian dan pada apa yang Tuhan kehendaki atasnya. Tidak satu pun dari kalian akan disakiti. Aku bersumpah,” Shalahuddin menyampaikan tawarannya.

“Orang-orang Kristen membantai setiap Muslim yang ada di dalam tembok Kota Yerusalem ketika mereka merebut kota ini,” jawab Balian, ragu.

“Aku bukan orang-orang (pembantai) itu. Aku adalah Shalahuddin. Shalahuddin,” tegas Shalahuddin.

“Jika demikian, dengan perjanjian itu aku menyerahkan Yerusalem (pada umat Islam),” Balian mengambil keputusan.

Dialog tersebut mewarnai bagian akhir sebuah film yang diangkat dari kisah Perang Salib II pada abad ke-12, Kingdom of Heaven. Film yang disutradarai seorang Inggris dengan skenario ditulis seorang Amerika itu tidak saja menunjukkan kekuatan dan kekuasaan Shalahuddin, tetapi juga sikap toleransi dan ketidaksukaan sang panglima pada perang.

Meski dikenal jago berperang di padang pasir sehingga dijuluki Singa Padang Pasir, Shalahuddin sejatinya lebih suka menghindari perang dan menghentikan perang secara damai, meski musuhnya telah di ambang atau bahkan telah menelan kekalahan. Ia tidak membalas kejahatan pasukan Salib yang membunuh setiap Muslim di Yerusalem saat berhasil merebut kota suci itu lebih dari seabad sebelumnya.

Buku The Crusades Through Arab Eyes (1984) karya Amin Maalouf menjelaskan, Shalahuddin al-Ayyubi selalu ramah pada siapa pun yang datang mengunjunginya, selalu meminta mereka tinggal sejenak dan makan bersamanya, memperlakukan mereka dengan penuh hormat, bahkan kepada tamu non-Muslim sekalipun. Ia tidak dapat membiarkan pengunjungnya melanjutkan perjalanan dalam keadaan kecewa.

Suatu hari, di tengah gencatan senjata dengan Franj (Franks atau Prancis), para bangsawan Brin yang merupakan penguasa Antiokhia (kota tua di sisi timur Sungai Orontes, sekarang sebuah tempat di kota modern Antakya, Turki), tanpa diduga datang ke tenda Shalahuddin. Ia memintanya mengembalikan sebuah daerah yang telah diambil sang Sultan empat tahun sebelumnya. Shalahuddin menyetujuinya.

Selain itu, dalam banyak buku sejarah dan referensi lainnya, kita akan menemukan banyak kisah unik dan menarik seputar Shalahuddin yang layak diteladani. Syamsuddin Arif (2008) dalam Orientalis dan Diabolisme Pemikiran mencontohkan, di tengah suasana perang, ia pernah beberapa kali mengirimkan buah-buahan untuk Raja Richard yang sedang sakit. Ia mengutus dokter terbaiknya, bahkan juga menyamar sebagai dokter, untuk memeriksa dan mengobati raja yang menjadi musuhnya itu.

Ketika menaklukkan Kairo, Shalahuddin tak serta-merta mengusir keluarga Dinasti Fatimiyyah dari istana-istana mereka, tetapi menunggu sampai raja mereka wafat. Baru setelah itu anggota keluarga Dinasti Fatimiyyah yang tersisa diantarkan ke tempat pengasingan mereka.

Gerbang menuju kota tempat benteng istana berada dibukanya untuk umum. Rakyat diperbolehkan tinggal di wilayah yang sebelumnya dikhususkan bagi kalangan bangsawan Fatimiyyah. Di Kairo, Shalahuddin tak hanya membangun masjid dan benteng, tetapi juga sekolah, rumah sakit, dan bahkan gereja.

Ia menetapkan hari Senin dan Selasa sebagai waktu tatap muka ketika ia akan menerima siapa saja yang memerlukan bantuannya. Karena itu, ia dikenal sebagai pemimpin yang wara dan zuhud.

Melegenda dan menginspirasi

Kisah sang Sultan telah menjadi cerita rakyat, melegenda, dan menginspirasi. Kehebatannya dalam berdiplomasi salah satunya terlihat dalam pertemuan militernya dengan Raja Richard “The Lion Heart” pada Perang Salib ketiga. Bagaimanapun, selain kemahiran diplomasi dan prestasi militernya, sosok Shalahuddin terus diingat atas kemampuannya menyatukan banyak dunia Muslim serta kemuliaan hati dan perilakunya, baik di dalam maupun di luar peperangan.

Karen Amstrong dalam bukunya, Perang Suci, menggambarkan, saat Shalahuddin dan pasukan Islam membebaskan Palestina, tak ada seorang Kristen pun yang dibunuh. Tak ada pula perampasan harta benda. “Jumlah tebusan pun sangat rendah. Shalahuddin menangis tersedu-sedu melihat banyak keluarga terpecah belah akibat perang. Ia pun membebaskan banyak tawanan, sesuai imbauan Alquran,” papar Amstrong.

Kekaguman terhadap Shalahuddin tak hanya datang dari kalangan Muslim. Keadilan dan kenegarawanannya juga membuat umat Nasrani yang kala itu tinggal di Yerusalem berdecak kagum. Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang tua beragama Kristen bertanya pada Shalahuddin. “Mengapa Tuan tidak membalas musuh-musuh Tuan?”

Shalahuddin menjawab, “Islam bukanlah agama pendendam dan bahkan sangat mencegah seseorang melakukan perkara yang tidak berperikemanusiaan. Islam menyuruh umatnya menepati janji, memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf, dan melupakan kekejaman musuh, meski sebelumnya mereka menindas kita.”

Mendengar jawaban itu, bergetarlah hati orang tua itu dan berkata, “Sungguh indah agama Tuan! Maka pada akhir hayatku ini, bagaimana agar aku memeluk agamamu?” Shalahuddin menjawab, “Ucapkanlah dua kalimat syahadat.” Atas semua kemuliaan itu, pengajar University of London dan penulis beberapa buku tentang Perang Salib, Jonathan Phillips, menyebut Shalahuddin sebagai pahlawan utama bagi umat Islam.

Salahuddin al-Ayyubi membebaskan sebagian besar orang-orang Nasrani yang ditawan
“Jangan tumpahkan darah, sebab darah yang tepercik tak akan tertidur.”

Itulah kalimat terakhir yang disampaikan Salahuddin al-Ayyubi kepada putranya, az-Zahir, sesaat menjelang kematiannya. Wasit tersebut sejalan dengan pendirian dan tindakan Salahuddin al-Ayyubi selama hidup. Ketika pasukan salib dikalahkan, yang dilakukan Salahuddin al-Ayyubi bukanlah menjadikan orang-orang Nasrani sebagai budak.

Ia malah membebaskan sebagian besar orang-orang Nasrani yang ditawan tanpa dendam. Padahal pada tahun 1099, ketika pasukan salib dari Eropa merebut Yerusalem, 70 ribu orang muslim di kota itu dibantai dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar.

Diantara sekian banyak tokoh muslim terkemuka, Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193) yang di Barat dikenal dengan nama Saladin, memiliki tempat yang sangat terhormat di kalangan umat Islam, terutama karena Salahuddin adalah pejuang muslim yang berhasil merebut kembali kota suci Yerusalem pada 1187 setelah dikuasai tantara salib selama hampir 90 tahun. Kiprah Salahuddin dalam perang salib tersebut menancapkan pengaruh yang dalam seiring dengan residu Perang Salib itu sendiri yang hingga kini terus membayangi pola relasi antara Islam dan Barat pada umumnya.

“Selain dikagumi kalangan muslim, Salahuddin al-Ayyubi juga memiliki reputasi besar di kalangan Kristen Eropa. Ia dikenal dengan sifat-sifatnya yang mulia, sederhana, cinta ilmu, shaleh, taat beribadah, akrab, dan toleran terhadap orang lain, termasuk kepada kaum nonmuslim.”

Kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan sastra Eropa. Salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott. Cerita-cerita heroiknya telah banyak dicatat dalam buku-buku sejarah. Bahkan penggalan kisahnya diangkat oleh Ridley Scott dalam film Kingdom of Heaven (2005).

Salahuddin adalah seorang jendral dan mujahid muslim. Di dunia Islam dan Kristen ia dikenal karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang kesatria serta pengampun terhadap musuh-musuhnya. Pelajaran kemiliteran didapatkan Salahuddin dari pamannya Asaduddin Shirkuh yang menjadi panglima perang Turki Saljuk. Bersama dengan pamannya, Salahuddin menguasai Mesir dan mendeposisikan sultan terakhir Dinasti Fatimiyah.

Salahuddin al-Ayyubi adalah pahlawan paling mengagumkan yang pernah dipersembahkan oleh peradaban Islam sepanjang abad VI hingga VII Hijriah. Berkat Salahuddin, umat dan peradaban Islam terselamatkan dari kehancuran akibat serangan dari kaum salib.

Sejarawan Philip K. Hitti, penulis buku The History of The Arabs membagi perang salib menjadi tiga periode. Periode pertama disebut periode penaklukkan daerah-daerah kekuasaan Islam. Pasukan salib yang dipimpin oleh Godfrey of Bouillon mengorganisasi strategi perang dengan rapi. Mereka berhasil menduduki kota suci Yerusalem pada 7 Juni 1099. Pasukan salib melakukan pembantaian besar-besaran selama lebih kurang satu minggu terhadap umat Islam tanpa membedakan laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa, tua dan muda. Kemenangan pasukan salib dalam periode ini telah mengubah peta dunia Islam dan situasi di Kawasan itu.

Kali ini kita akan bercerita tentang seorang laki-laki mulia dan memiliki peranan yang besar dalam sejarah Islam, seorang panglima Islam, serta kebanggaan suku Kurdi, ia adalah Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadi atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin al-Ayyubi atau juga Saladin. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin sebanding dengan seribu laki-laki lainnya.

Asal dan Masa Pertumbuhannya

Shalahuddin al-Ayyubi adalah laki-laki dari kalangan ‘ajam (non-Arab), tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang bahwa Shalahuddin adalah orang Arab, ia berasal dari suku Kurdi. Ia lahir pada tahun 1138 M di Kota Tikrit, Irak, kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Ia melengkapi orang-orang besar dalam sejarah Islam yang bukan berasal dari bangsa Arab, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan lain-lain.

Karena suatu alasan, kelahiran Shalahuddin memaksa ayahnya untuk meninggalkan Tikrit sehingga sang ayah merasa kelahiran anaknya ini menyusahkan dan merugikannya. Namun kala itu ada orang yang menasihatinya, “Engkau tidak pernah tahu, bisa jadi anakmu ini akan menjadi seorang raja yang reputasinya sangat cemerlang.”

Dari Tikrit, keluarga Kurdi ini berpindah menuju Mosul. Sang ayah, Najmuddin Ayyub tinggal bersama seorang pemimpin besar lainnya yakni Imaduddin az-Zanki. Imaduddin az-Zanki memuliakan keluarga ini, dan Shalahuddin pun tumbuh di lingkungan yang penuh keberkahan dan kerabat yang terhormat. Di lingkungan barunya dia belajar menunggang kuda, menggunakan senjata, dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat mencintai jihad. Di tempat ini juga Shalahuddin kecil mulai mempelajari Alquran, menghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mempelajari bahasa dan sastra Arab, dan ilmu-ilmu lainnya.

Diangkat Menjadi Mentri di Mesir

Sebelum kedatangan Shalahuddin al-Ayyubi, Mesir merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Syiah, Daulah Fathimiyah. Kemudian pada masa berikutnya Dinasti Fathimiyah yang berjalan stabil mulai digoncang pergolakan di dalam negerinya. Orang-orang Turki, Sudan, dan Maroko menginginkan adanya revolusi. Saat itu Nuruddin Mahmud, paman Shalahuddin, melihat sebuah peluang untuk menaklukkan kerajaan Syiah ini, ia berpandangan penaklukkan Daulah Fathimiyyah adalah jalan lapang untuk membebaskan Jerusalem dari kekuasaan Pasukan Salib.

Nuruddin benar-benar merealisasikan cita-citanya, ia mengirim pasukan dari Damaskus yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh untuk membantu keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, di Mesir. Mengetahui kedatangan pasukan besar ini, sebagian Pasukan Salib yang berada di Mesir pun lari kocar-kacir sehingga yang dihadapi oleh Asaduddin dan Shalahuddin hanyalah orang-orang Fathimyah saja. Daulah Fathimiyah berhasil dihancurkan dan Shalahuddin diangkat menjadi mentri di wilayah Mesir. Namun tidak lama menjabat sebagai menteri di Mesir, dua bulan kemudian Shalahuddin diangkat sebagai wakil dari Khalifah Dinasti Ayyubiyah.

Selama dua bulan memerintah Mesir, Shalahuddin membuat kebijakan-kebijakan progresif yang visioner. Ia membangun dua sekolah besar berdasarkan madzhab Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini ia tujukan untuk memberantas pemikiran Syiah yang bercokol sekian lama di tanah Mesir. Hasilnya bisa kita rasakan hingga saat ini, Mesir menjadi salah satu negeri pilar dakwah Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni. Kebijakan lainnya yang ia lakukan adalah mengganti penyebutan nama-nama khalifah Fathimiyah dengan nama-nama khalifah Abbasiyah dalam khutbah Jumat.

Menaklukkan Jerusalem

Persiapan Shalahuddin untuk menggempur Pasukan Salib di Jerusalem benar-benar matang. Ia menggabungkan persiapan keimanan (non-materi) dan persiapan materi yang luar biasa. Persiapan keimanan ia bangun dengan membersihkan akidah Syiah bathiniyah dari dada-dada kaum muslimin dengan membangun madrasah dan menyemarakkakn dakwah, persatuan dan kesatuan umat ditanamkan dan dibangkitkan kesadaran mereka menghadapi Pasukan Salib. Dengan kampanyenya ini ia berhasil menyatukan penduduk Syam, Irak, Yaman, Hijaz, dan Maroko di bawah satu komando. Dari persiapan non-materi ini terbentuklah sebuah pasukan dengan cita-cita yang sama dan memiliki landasan keimanan yang kokoh.

Dari segi fisik Shalahuddin mengadakan pembangunan makas militer, benteng-benteng perbatasan, menambah jumlah pasukan, memperbaiki kapal-kapal perang, membangun rumah sakit, dll.

Pada tahun 580 H, Shalahuddin menderita penyakit yang cukup berat, namun dari situ tekadnya untuk membebaskan Jerusalem semakin membara. Ia bertekad apabila sembuh dari sakitnya, ia akan menaklukkan Pasukan Salib di Jerusalem, membersihkan tanah para nabi tersebut dari kesyirikan trinitas.

Dengan karunia Allah, Shalahuddin pun sembuh dari sakitnya. Ia mulai mewujudkan janjinya untuk membebaskan Jerusalem. Pembebasan Jerusalem bukanlah hal yang mudah, Shalahuddin dan pasukannya harus menghadapi Pasukan Salib di Hathin terlebih dahulu, perang ini dinamakan Perang Hathin, perang besar sebagai pembuka untuk menaklukkan Jerusalem. Dalam perang tersebut kaum muslimin berkekuatan 63.000 pasukan yang terdiri dari para ulama dan orang-orang shaleh, mereka berhasil membunuh 30000 Pasukan Salib dan menawan 30000 lainnya.

Setelah menguras energy di Hathin, akhirnya kaum muslimin tiba di al-Quds, Jerusalem, dengan jumlah pasukan yang besar tentara-tentara Allah ini mengepung kota suci itu. Perang pun berkecamuk, Pasukan Salib sekuat tenaga mempertahankan diri, beberapa pemimpin muslim pun menemui syahid mereka –insya Allah- dalam peperangan ini. Melihat keadaan ini, kaum muslimin semakin bertambah semangat untuk segera menaklukkan Pasukan Salib.

Untuk memancing emosi kaum muslimin, Pasukan Salib memancangkan salib besar di atas Kubatu Shakhrakh. Shalahuddin dan beberapa pasukannya segera bergerak cepat ke sisi terdekat dengan Kubbatu Shakhrakh untuk menghentikan kelancangan Pasukan Salib. Kemudian kaum muslimin berhasil menjatuhkan dan membakar salib tersebut. Setelah itu, jundullah menghancurkan menara-menara dan benteng-benteng al-Quds.

Pasukan Salib mulai terpojok, merek tercerai-berai, dan mengajak berunding untuk menyerah. Namun Shalahuddin menjawab, “Aku tidak akan menyisakan seorang pun dari kaum Nasrani, sebagaimana mereka dahulu tidak menyisakan seorang pun dari umat Islam (ketika menaklukkan Jerusalem)”. Namun pimpinan Pasukan Salib, Balian bin Bazran, mengancam “Jika kaum muslimin tidak mau menjamin keamanan kami, maka kami akan bunuh semua tahanan dari kalangan umat Islam yang jumlahnya hampir mencapai 4000 orang, kami juga akan membunuh anak-anak dan istri-istri kami, menghancurkan bangunan-bangunan, membakar harta benda, menghancurkan Kubatu Shakhrakh, membakar apapun yang bisa kami bakar, dan setelah itu kami akan hadapi kalian sampai darah penghabisan! Satu orang dari kami akan membunuh satu orang dari kalian! Kebaikan apalagi yang bisa engkau harapkan!” Inilah ancaman yang diberikan Pasukan Salib kepada Shalahuddin dan pasukannya.

Shalahuddin pun mendengarkan dan menuruti kehendak Pasukan Salib dengan syarat setiap laki-laki dari mereka membayar 10 dinar, untuk perempuan 5 dinar, dan anak-anak 2 dinar. Pasukan Salib pergi meninggalkan Jerusalem dengan tertunduk dan hina. Kaum muslimin berhasil membebaskan kota suci ini untuk kedua kalinya.

Shalahuddin memasuki Jerusalem pada hari Jumat 27 Rajab 583 H / 2 Oktober 1187, kota tersebut kembali ke pangkuan umat Islam setelah selama 88 tahun dikuasai oleh orang-orang Nasrani. Kemudian ia mengeluarkan salib-salib yang terdapat di Masjid al-Aqsha, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, dan mengembalikan kehormatan masjid tersebut.

Wafatnya Sang Pahlawan

Sebagaimana manusia sebelumnya, baik dari kalangan nabi, rasul, ulama, panglima perang dan yang lainnya, Shalahuddin pun wafat meninggalkan dunia yang fana ini. Ia wafat pada usia 55 tahun, pada 16 Shafar 589 H bertepatan dengan 21 Febuari 1193 di Kota Damaskus. Ia meninggal karena mengalami sakit demam selama 12 hari. Orang-orang ramai menyalati jenazahnya, anak-anaknya Ali, Utsman, dan Ghazi turut hadir menghantarkan sang ayah ke peristirahatannya. Semoga Allah meridhai, merahmati, dan  membalas jasa-jasa engkau wahai pahlawan Islam, sang pembebas Jerusalem.

Kisah mengenai Shalahuddin Al-Ayyub atau Saladin kerap diwarnai sanjungan. Namun ada sisi lain soal kekejaman sang panglima dalam Perang Salib Jilid Kedua yang membuatnya sangat ditakuti lawan.
“Yusuf, kemasi barangmu! Kita akan berangkat!”

Saat itu Desember 1168. Lebih dari dua puluh tahun sebelum pecah Perang Salib Kedua yang akan jadi peristiwa penting Kerajaan Islam merebut Kota Yerusalem. Sosok yang diperintah adalah keponakan dari pendekar bermata satu bertubuh tambun. Panglima tua bernama Shirkuh.

Pemuda yang sedang diperintah ini sangat berbeda dengan pamannya. Kurus, ringkih, dan usianya masih 31 tahun. Tampan, berkulit cerah, dan punya garis wajah melankolis. Namanya Yusuf bin Najmuddin. Dari Suku Kurdi. Pada hari itu ia ditugaskan Sultan Nuruddin untuk mengantar Shirkuh membawa pasukan Kerajaan Islam dari Damaskus untuk menuju Mesir guna membebaskan Mesir dari serangan orang-orang Kristen. Saat itu Yusuf begitu takut.

“Seperti seorang pria yang diantar menuju kematiannya,” kesan Yusuf seperti yang dikisahkan Karen Amstrong dalam Holy War: The Crusades and Their Impact an Today’s World (2001: 372-410).

Setelah memasuki Mesir beberapa bulan kemudian, sang paman mendadak meninggal dunia. Mesir sudah berhasil dikuasai kembali. Masalah kemudian muncul, siapa yang harus menggantikan sang paman?

Banyak amir (pemimpin) yang lebih layak daripada Yusuf, tapi beberapa petinggi ingin seseorang yang loyal dengan kepribadian yang lebih bersahabat. Yusuf adalah yang termuda dan tampak tidak berpengalaman serta paling lemah di antara para amir dalam pasukan Shirkuh, ia pun dipilih untuk memimpin Mesir.

Namun siapa sangka, sosok yang dikira lemah dan terlalu lembek ini malah menjelma jadi sosok yang kuat dan efektif dalam kampanye jihadnya merebut Yerusalem. “Ketika Tuhan memberiku negeri Mesir, aku yakin bahwa Dia juga bermaksud memberiku tanah Palestina,” kata Yusuf dalam pelantikannya sebagai Wazir (semacam gubernur) di Mesir.

Dan pada akhirnya orang-orang akan lebih mengenal dengan nama julukannya: Shalahuddin, yang berarti “keadilan agama”. Atau pasukan salib mengenalnya dengan panggilan “Saladin”. Panglima perang paling dihormati—sekaligus ditakuti—pasukan salib.

Shalahuddin tidak mendapatkan takhtanya begitu saja. Ia lebih dulu harus bersitegang dengan Sultan Nuruddin yang memberinya perintah beserta pamannya saat ia masih muda dan begitu polos beberapa tahun sebelumnya. Beruntung, takdir seperti menunjuk Shalahuddin memimpin pasukan muslim dalam kampanye jihadnya. Di tengah Sultan Nuruddin bersiap memerangi “pemberontakan” Shalahuddin di Mesir, pada 15 Mei 1174 Sang Sultan meninggal dunia. Membuat kursi “khalifah” kosong begitu saja.

Reputasi Shalahuddin sebagai sosok yang sangat religius memudahkan para fanatik balik menaruh dukungan kepadanya. Provinsi-provinsi Islam yang tersebar dan tercerai berai bersatu di bawahnya.

Pada akhirnya pasca 1181, untuk pertama kalinya—dan satu-satunya—dalam sejarah Islam, berdiri kerajaan-muslim yang begitu besar dan bersatu dalam satu panji. Dan di saat bersamaan, nama Yusuf tenggelam ditelan kebesaran nama julukannya sendiri: Shalahuddin Al-Ayyubi.

Kekejaman Shalahuddin

Dalam salah satu pertempuran paling dahsyat dalam Perang Salib jilid kedua, ada kisah yang terus menjadi gambaran pasukan salib betapa mengerikannya pasukan Shalahuddin di tanah Palestina. Pertempuran yang terjadi di Bukit Hattin, orang-orang Eropa menyebutnya “Battle of Hattin”.

Pertempuran yang juga dikisahkan—sedikitnya—oleh Ridley Scott dalam film Kingdom of Heaven (2005). Pertempuran yang bahkan jauh lebih dahsyat dari upaya perebutan Kota Yerusalem sendiri beberapa bulan kemudian.

Pasukan Salib saat itu dipimpin oleh Guy de Lusignan. Seorang fanatik yang menjadi Raja Yerusalem setelah kematian anak Sibylla, Raja Baldwin V yang menggantikan pamannya, Raja “Lepra” Baldwin IV yang dikenal sangat bijaksana. Guy sangat berambisi menghabisi “pasukan kafir” dan yakin bahwa serbuannya ke Tiberias (tempat mukim pasukan Shalahuddin) adalah takdir Tuhan.

Pertempuran Hattin juga sempat mengubah persepsi mengenai Shalahuddin yang dikenal welas asih pada musuhnya. Imaduddin al-Ishfakhani, sekretaris Shalahuddin membeberkan kesaksiannya, “Pada hari itu aku menyaksikan bagaimana Shalahuddin membunuh kaum tak beriman untuk memberi napas bagi Islam dan menghancurkan politeisme untuk membangun monoteisme.”

Adalah Reynauld of Chattilon, tangan kanan Guy Sang Raja Yerusalem, yang membuat Shalahuddin berubah jadi sosok kejam. Empat tahun sebelumnya, Reynauld membunuh adik perempuan Shalahuddin saat gencatan senjata masih terjalin antara pasukan salib dengan pasukan muslim. Memperkosa dan membantai seluruh kafilah muslim yang melewati tanah Palestina. Mengeksekusi dan menjarah wilayah-wilayah muslim.

Ketika seorang muslim mengingatkan akan gencatan senjata yang masih berlaku, Reynauld malah menghardik, “Biar Muhammad-kalian datang dan menolong kalian!”

Seolah belum cukup memprovokasi Shalahuddin, Reynauld juga memiliki rencana akan menyerang kota suci umat muslim: Mekkah. Rencana yang kelewatan ini justru memberi kekuatan berlipat di pihak pasukan muslim. Semua kabilah-kabilah kemudian bersatu di bawah panji Shalahuddin dan menghilangkan perselisihan masing-masing. Shalahuddin pun bersumpah, “Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Maka terjadilah pertempuran terbesar dalam sejarah Perang Salib Jilid Kedua yang begitu kejam dan menentukan.

Kekalahan Kaum Fanatik

Sekalipun kampanye jihad merupakan cara yang membuat seluruh pasukan muslim bersatu, di pihak lawan kampanye yang sama malah dijalankan dengan cara yang jauh lebih banal. Mematikan akal sehat dan seolah-olah mempercayai bahwa Tuhan akan membantu Pasukan Salib dengan mukjizat.

Salah satu tanda-tanda itu datang ketika Guy menyetujui usulan Reynauld untuk mendatangi langsung pasukan Shalahuddin di Tiberias. Para kaum fanatik buta ini mengabaikan penalaran militer. Memburu pasukan Shaluhddin di tempat terbuka dan bukannya menunggu di balik tembok kastil Kota Yerusalem.

Bersama 20 ribu pasukannya, Guy dan Raunauld menyeberangi lembah-lembah Galilea dalam musim panas yang terik. Terbebani dengan baju zirah mereka yang berat. Shalahuddin—walaupun seseorang yang sangat religius—adalah panglima militer dengan kecerdasan strategi luar biasa. Ia tahu bahwa akses air adalah penentu jalannya pertempuran kali ini.

Shalahuddin membendung persediaan air dan mengeringkan banyak mata air. Memerintahkan pasukan pemanah grup kecil untuk mengincar tentara musuh yang terpisah dari rombongan. Para pasukan salib setengah gila karena kehausan. Pada akhirnya mereka sampai ke Laut Galilea dalam keadaan kelelahan dan baru menyadari bahwa satu-satunya sumber air adalah tempat di mana perkemahan pasukan Shalahuddin berada.

Sekalipun tanpa taktik semacam ini, Shalahuddin sebenarnya tetap bisa memenangi pertempuran–pasukan muslim 10 ribu lebih banyak, tapi Shalahuddin tahu, di belakang Guy dan Reynauld, ada Kota Yerusalem yang mesti direbut. Dalam rencana Shalahuddin, akan sia-sia jika kemenangan di Bukit Hattin tidak berlanjut ke kemenangan berikutnya.

Dalam kondisi lelah dan dehidrasi yang luar biasa, pasukan salib beristirahat di Bukit Hattin. Sorak-sorai pasukan Shalahuddin sudah terdengar dari kejauhan. Menunjukkan betapa siap pasukan Shalahuddin menyambut kemenangan yang bertepatan pada tanggal 26/27 Ramadhan. Hari suci umat muslim yang pada akhirnya diperingati oleh Shalahuddin sebagai malam “nuzulul Quran”–hari pertama kalinya ayat Alquran turun ke dunia.

Pada akhirnya saat fajar 4 Juli 1187, berangkatlah pasukan Shalahuddin menyerbu Bukit Hattin tempat pasukan salib berkemah. Mengalahkan begitu telak dan hanya menyisakan sedikit dari mereka. Beberapa baron dan ksatria memang ada yang lolos dari kepungan pasukan Shalahuddin. Beberapa di antaranya adalah Balian de Ibelin, sosok yang akan memimpin milisi dan tentara rakyat Yerusalem mempertahankan kota dari pasukan Shalahuddin beberapa bulan kemudian.

Setelah pertempuran usai, Shalahuddin membawa dua tawanan yang paling berharga ke dalam tendanya. Raja Guy dan Reynauld. Dua pria yang sangat kelelahan sekaligus kehausan. Shalahuddin memberi Guy sebuah air es yang menyegarkan. Guy meminumnya, kemudian memberikan kepada Reynauld.

Sudah dalam tradisi Arab bahwa seorang tuan rumah tidak boleh membunuh lelaki yang ia beri makan dan minum. Ketika Reynauld minum dengan begitu entengnya tanpa perintah tuan rumah, Shalahuddin bertanya, “Siapa yang mengizinkanmu minum?”

Reynauld cuma bergeming. Shalahuddin pun melanjutkan kalimatnya, “Karena itu aku tidak diharuskan menunjukkan belas kasihan kepadamu.” Seketika kalimat itu usai, Shalahuddin langsung mencabut pedang dari sabuknya dan memenggal kepala Reynauld di hadapan Guy yang ketakutan dan yakin bahwa gilirannya akan tiba.

Melihat Guy yang ketakutan Shalahuddin kemudian berkata, “Raja tidak membunuh Raja. Mengapa kamu tidak mendekati seorang raja agung untuk belajar dari keteladanannya?”

Raja agung yang dimaksud adalah Raja Baldwin IV, raja yang menderita penyakit lepra sampai akhirnya meninggal dunia. Meninggalkan Kerajaan Kristen Yerusalem dalam genggaman Raja Guy sang fanatik buta dan membuat Kerajaan Islam akhirnya mampu menguasainya.

Salahuddin berasal dari suku bangsa Kurdi, yaitu wilayah yang berdekatan dengan Iran, Irak, Suriah, dan Turki yang saat ini dikenal dengan daerah Kurdistan. Sebelum ia lahir, ayahnya yang bernama Najmuddin bin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah ke wilayah Tikrit (Irak). Salahuddin lahir di benteng Tikrit 1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Saljuk di Tikrit.

Salahuddin mulai menekuni ilmu militer ketika masih remaja, saat itu ayahnya diangkat menjadi gubernur Belbek dan menjadi pembantu Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Selain ilmu militer, Salahuddin juga mengisi masa mudanya dengan belajar politik dan pemerintahan. Kemudian dalam waktu 10 tahun ia melanjutkan studi ke Damaskus untuk belajar teologi Sunni. Setelah pulang dari belajar, pada 1169 ia diangkat menjadi seorang wazir (konselor) kerajaan.

Selama karier militernya, dan ketika ia menjabat sebagai wazir di Mesir, kemudian menjadi sultan Mesir. Salahuddin menghadapi berbagai peperangan besar seperti mematahkan kekuatan Tentara Salib yang menginvasi Mesir sebanyak dua kali. Selama memerintah Mesir, Salahuddin berhasil mengembalikan ajaran Sunni di Mesir dan menemukan dinasti Ayyubid.

Pada suatu hari di masa tuanya, Salahuddin Al-Ayyubi pergi berburu, berburu merupakan hobinya sejak muda. Namun, setelah pulang dari berburu kondisi badannya lemah dan ia jatuh sakit. Ia terserang demam kuning yang membuatnya terbaring sakit selama sepuluh hari. Di hari yang kesepuluh ia kelihatan pulih dan mendapatkan kembali kekuatannya. Namun, di hari kedua belas sakitnya kambuh lagi hingga akhirnya ia kembali ke hadirat Allah Swt, pada tanggal 4 Maret 1193 M/ 22 Safar 589 H.

Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan syuhada, shiddiqin dan sholihin, Amin Ya Rabbal Alamin

Sejarah tidak datang dengan hal yang baru. Ia hanya akan terus berulang dengan peran, tempat dan waktu yang berbeda. Ia memberi kesempatan siapapun yang berjalan dengan waktu yang disediakan Allah. Sejarah begitu mahal dan agung. Ia bukan hanya catatan dari masa lampau, bukan pula ingatan akan kenangan-kenangan belaka. Sejarah adalah pelajaran, ibrah untuk mereka yang mau berfikir. Ia adalah lembaran hidup yang penuh kisah untuk diambil jadi panduan berjalan. Ibnu Khaldun menyebutnya tentara-tentara Allah.

Al-Qur’an mengisyaratkan banyak titik-titik sejarah untuk diilhami oleh akal yang mau berfikir. Dari kisah para nabi, rasul, serta para raja yang angkuh dan yang bijak. Al Quran juga mengisahkan manusia biasa dengan keimanan sekeras baja. Wanita-wanita dengan segala watak dan posisinya juga tak luput diberitakan Al-Qur’an untuk diteladani serta diambil pelajaran. Sejarah mengambil porsi yang besar bagi pribadi yang bertekad untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Dr. Muhammad as-Shalabi menjelaskan, bahwa sesungguhnya buah hakiki dari mempelajari sejarah adalah mengambil pelajaran dan menguasai sunnah-sunnah Allah. Di antara pelajaran-pelajaran tersebut adalah: (1) Pentingnya inisiatif dalam gerakan kebangkitan; (2) Pentingnya dorongan agama dalam memberikan semangat kepada rakyat; dan (3) Pentingnya persatuan dalam menghadapi bahaya yang datang dari dalam maupun luar.

Pada tahun 532 H/1137 M, di sebuah daerah bernama Tikrit, lahir seorang bayi laki-laki dari keluarga yang berasal dari etnis Kurdi. Dalam wafayat al a’yan, disebutkan bahwa awalnya sang ayah merasa dirundung sial dengan kehadiran sang bayi karena suatu alasan. Namun, salah seorang pengikutnya berusahan menghiburnya serta memberikan saran. Ia juga berdoa agar kelak anak ini akan menjadi seorang raja yang agung, memiliki marwah serta kedudukan yang tinggi. Kelak, umat Islam mengenal sang anak sebagai panglima pembebas Baitul Maqdis: Shalahuddin Al Ayubi.

Damaskus dan Aleppo menjadi langkah awal Shalahuddin untuk menguasai ilmu agama. Tak hanya ilmu agama, kemahiran bertarung, berburu, memanah dan segala bentuk latihan laiknya seorang pahlawan ia peroleh dari sini. Dan dari Nuruddin Mahmud Zanki-lah, sang guru yang sekaligus sultan Aleppo nan shalih, ia banyak belajar serta menghidupkan visi hebatnya untuk membebaskan serta mengembalikan Baitul Maqdis al Mubarak ke pangkuan kaum Muslim.

Jatuhnya Baitul Maqdis

Di akhir tahun 488 H/1095 M, Paus Urbanus II menyerukan Perang Salib untuk merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslim. Kepada pasukan yang ikut serta dalam misi perang salib, Paus berjanji akan menghapus hukuman dari dosa-dosa yang telah mereka lakukan di masa silam serta melindungi keluarga yang ditinggalkan. Dengan jumlah dan kekuatannya yang besar, Pasukan Salib menjadi momok menakutkan, membuat kekuatan kaum Muslim terlihat sangat rapuh.

Rapuhnya kekuatan umat Islam tak lain disebabkan perpecahan yang terjadi di tubuh kaum Muslim sendiri. Antara penguasa Muslim di Bumi Syam saling mengintai dan menjatuhkan satu sama lainnya. Belum lagi perselisihan aliran serta politik antara Daulah Fathimiyah dan Dinasti Saljuk yang memuncak tatkala pasukan salib mulai mendekati dan bergerak di wilayah-wilayah kaum Muslim.

Baik penguasa-penguasa Dinasti Saljuk maupun Daulah Fathimiyah, masing-masing melihat dan berharap kedatangan rombongan tentara salib akan membantu mereka untuk menumpas maupun memangkas kekuatan saingan mereka dari kalangan kaum Muslim sendiri. Akibatnya, rombongan pasukan salib Eropa dengan mudah bergerak serta leluasa memasuki wilayah Syam, sampai akhirnya mereka berhasil menduduki Baitul Maqdis dan wilayah bagian Pantai Syam secara keseluruhan.

Kelalaian yang menjangkiti kaum Muslimin saat itu membuat pasukan salib dengan mudahnya menguasai banyak wilayah kekuasaan umat Islam yang pada akhirnya berhasil merebut Baitul Maqdis. Ibnul Jauzi mengisahkan peristiwa yang sangat memilukan tersebut sebagai berikut:

“Kalaulah bukan karena terjadi pembantaian besar-besaran terhadap umat Islam di Baitul Maqdis dan informasinya menyebar, maka tentunya mereka (umat Islam) masih terlelap dalam tidurnya. Tidak banyak negeri-negeri kaum Muslim yang tersadar dari tidurnya sehingga harus membayar mahal kesalahannya ketika pasukan musuh datang menyerang. Menjadikan mereka sebagai bagian kisah dari masa lalu (karena telah hancur). Tidak tersisa lagi gelar-gelar menggelora nan menipu seperti halnya Mustarsyid Billah, Muqtafi Billah, Mustanjid Billah, dan Nashir Lidinillah, dan lain sebagainya. Jika asumsi saja tidak memberikan kebenaran, apatah halnya dengan kebohongan yang nyata? Apabila umat Islam tidak mempercayai Allah, maka tidak ada yang perlu disalahkan kecuali diri mereka sendiri.”

Baitul Maqdis terus terlepas dari tangan umat Islam hingga tiba hari dimana Shalahuddin berada di barisan terdepan kaum Muslim. Memimpin mereka untuk menampakkan izzah Islam yang bertahun-tahun dihinakan oleh pasukan musuh. Dihadapinya setiap pertempuran dengan gagah sampai mereka berhasil membebaskan Baitul Maqdis. Shalahuddin tersungkur dalam sujudnya, bersyukur kepada Allah azza wa jalla atas nikmat-Nya. Tidak ada pembantaian saat ia dan pasukannya memasuki Baitul Maqdis, sebaliknya para musuh dan tawanan ia perlakukan dengan adil. Di hari itu, Baitul Maqdis yang mulia kembali ke pangkuan umat Islam melalui sosok panglima hebat nan shalih, Shalahuddin al Ayyubi

Tak diragukan ketaqwaan menjadi hal yang utama untuk membentuk pribadi-pribadi hebat. Taqwa adalah perisai sekaligus tameng untuk setiap keadaan. Kesemua itu tampak pada kesungguhan Shalahuddin untuk menanamkan aqidah yang kuat di dalam dirinya. Tak hanya bagi dia, juga bagi anak-anak keturunannya.

Shalahuddin al Ayyubi senantiasa melazimkan shalat berjamaah, shalat rawatib maupun shalat malam meskipun ia dalam keadaan berbaring karena sakit. Seorang pemimpin yang hebat dan pribadi nan agung akan selalu patuh menghadap sang Rabb dalam setiap shalatnya. Dari sanalah Shalahuddin mendapatkan ketenangan serta mengadukan setiap masalah dan keluhan yang ia hadapi kepada Allah azza wa jalla. Seseorang yang mengagungkan Tuhannya, niscaya menjadi pribadi yang hebat dan agung.

Murid Nuruddin Zanki ini juga dikenal sebagai pribadi yang suka mendengar bacaan Al-Qur’an hingga ia sendiri yang memilih para imam-imam shalat. Shalahuddin juga merupakan sosok yang teramat lembut hatinya sehingga selalu menetes air matanya saat mendengar dibacakannya ayat-ayat Al Quran. Suatu ketika, ia mendengar suara anak kecil yang melantunkan Al Quran dengan bagus. Hal tersebut membuatnya kagum dan memberikan hadiah pada sang anak makanan khusus yang biasa ia makan. Tak hanya itu, ia juga menghadiahkan satu lahan pertanian untuk ayah sang anak.

Sebagaimana kegemarannya mendengarkan bacaan Al-Qur’an, Shalahuddin juga sangat senang mendengar Hadist-hadist Rasulullah. Jika ia dengar ada seorang syaikh yang memiliki riwayat suatu hadist, ia akan datang padanya atau meminta didatangkan kepadanya. Ia akan mengajak para penguasa beserta orang-orang di sekitarnya untuk ikut mendengarkannya bersama-sama dengannya. Ia juga memerintahkan kepada rakyatnya untuk mendengarkan hadist Rasulullah. Di saat sendiri, Shalahuddin akan meminta didatangkan buku-buku hadist untuk ia baca.

Semua sifat taqwa berkumpul dalam diri Shalahuddin. Membentuknya menjadi pribadi yang kokoh. Dengannya ia menghidupkan jihad dalam dirinya sebelum ia mengendarai kudanya, memegang pedang serta berlari menuju medan pertempuran.

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS:  Al-Imran:120)

Ketaqwaan yang ada pada diri Shalahuddin melahirkan kebaikan serta sifat-sifat mulia lain yang menyertainya. Diantaranya adalah sifat adil yang mutlak wajib dimiliki seorang pemimpin. Sifat pemberani juga mengalir bersama darah di dalam tubuh Shalahuddin. Keberanianlah yang menggerakkan langkah untuk tetap tegar di bawah guyuran hujan, tetap tegak di bawah terik matahari dan tidak goyah menghadap musuh.

Mengambil ibrah dari Shalahuddin dan pembebasan Baitul Maqdis adalah sebuah keharusan bagi kaum Muslim untuk menegakkan kemuliaan agama yang kita selalu impikan. Keinginan untuk membebaskan serta mengembalikan Baitul Maqdis adalah tujuan mulia yang ingin digapai oleh umat Islam, seperti halnya yang dicitakan Shalahuddin serta gurunya, Nuruddin Zanki. Yang penting untuk diperhatikan, generasi Shalahuddin tidak lahir begitu saja di medan perang tanpa ada faktor yang menyertainya. Mereka lahir karena adanya sebab dan proses yang dijalani. Dari keluarga, lingkungan serta masyarakat yang shalih dan kuat beragama, lahir sosok Shalahuddin.

Dari Shalahuddin kita belajar bahwa jihad paling utama yang harus dilakukan sebelum maju di medan tempur adalah terlebih dahulu menghancurkan musuh di dalam diri masing-masing. Sebab di sana ada benteng yang harus dihancurkan sebelum menghancurkan benteng musuh.

Hari ini, Palestina dan Baitul Maqdis terus menyeru kepada kaum Muslim akan kesulitan yang mereka lalui. Sejarah selalu berputar, dan kini ia kembali kepada mereka dengan keadaan penuh derita. Berbagai peristiwa yang terjadi saat ini di tubuh umat Islam memberikan gambaran bahwa keadaan mereka tidak berbeda jauh dengan 10 abad sebelumnya, di masa-masa sebelum pasukan Salib datang menyerang. Jatuhnya Baitul Maqdis dalam perang Salib juga mengajarkan pada kita bahwa perpecahan itu melemahkan dan hanya akan berujung tangis penyesalan. Ia mengajarkan bahwa keinginan untuk saling menjatuhkan hanya akan menjauhkan rahmat Allah untuk memberikan kepada kita kemenangan. Sudah sepatutnya kita kembali membuka lembaran lama. Membacanya dengan saksama seraya mencatat apa yang bisa kita ambil sebagai ibrah dan pelajaran.

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S.Al-Anfal:46)

Semoga Allah mengembalikan Baitul Maqdis dan Palestina ke pangkuan umat Islam. Wallahu’alam bis shawab.

Dari bukan siapa-siapa, karirnya melesat jauh melampaui tokoh-tokoh pada masanya. Bahkan lebih dari itu, sepak terjangnya telah menjadi salah satu titik balik yang mengubah arus sejarah peradaban Islam di Timur Tengah dan Kristen di Eropa.

Di antara sekian nama tokoh Muslim yang dikenal dunia Barat, nama Shalahuddin Al-Ayyubi atau Barat sering menyebutnya Saladin, mungkin salah satu yang menempati posisi paling atas. Ialah aktor kunci dalam Perang Salib, yang berhasil merebut Yerusalem dari kekusaan pasukan Salib.

Pada saat kelahirannya, dunia Islam sedang mengalami masa pancaroba. Kekhalifahan Abbasiyah sedang menurun pamornya, menyusul meningkatnya pamor dinasti Saljuk di Asia Tengah. Pada masa itu, dapat dikatakan secara de facto, Abbasiyah sebenarnya berada di bawah kendali dinasti Saljuk. Orang-orang Saljuk lah yang dengan gilang gemilang mengakhiri perang panjang antara Bizantium-Arab, pada pertempuran Manzikert tahun 1071 M.

Pada tahun 1095 M Paus Urbanus berpidato di Clermont di Prancis selatan, dan mendeklarasikan Perang Salib. Mereka merangsek ke Yerusalem yang saat itu sedang dikuasai oleh dinasti Fatimiyah yang juga sedang “sakit keras”. Pada Mei 1098 M, dinasti Fatimiyah harus menghadapi dua front sekaligus, pasukan Salib dan Pasukan Saljuk yang terus memperluas areal kekuasaannya. Sebagaimana sejarah mencatat, akhirnya Yerussalem jatuh ke tangan pasukan Salib dan berkuasa di sana.

Nama lengkapnya Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi. Ia lahir di kota Tikrit (sekarang Irak), tahun 1138 M. Konon, di dalam darahnya mengalir juga darah Arab, dari sebuah keluarga terhormat di masanya. Tapi yang pasti ia adalah seorang keturunan Kurdi dan berasal dari keluarga pejabat daerah. Ayahnya, Najmuddin Ayyub, adalah penguasa Saljuk di Tikrit, pada masa pemerintahan Imaduddin Zanky, penguasa Saljuk untuk wilayah kota Mousul, Irak.

Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 1139 M, Najmuddin Ayyub kemudian diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah, Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik.

Disamping itu, ia dikenal memiliki pengetahuan yang mumpuni di bidang astronomi dan geometri. Setelah cukup dewasa, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari agama selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Dari tempat inilah Shalahuddin memulai karirnya.

Tidak ada yang istimewa dari semua latar belakang yang dimiliki Shalahuddin. Di tengah turbulensi sejarah yang sedang berkecamuk di masanya, kecil sekali potensi capaian monumental yang bisa diraih dengan latar belakang, dan juga posisi jabatannya saat itu. Tapi semua berubah ketika salah satu wazir (penasihat) Fatimiyah datang ke istana Nuruddin untuk memohon bantuan.

Ketika itu, dinasti Fatimiyah sedang dalam masa kemerosotan yang parah. Sejak wafatnya Khalifah Al-Hakim pada 1021, para Khalifah dinasti ini naik tahta pada usia sangat belia. Sehingga peran penasihat menjadi krusial dalam mengelola negara.

Perebutan posisi wazir Fatimiyah ini menjadi salah satu sebab jatuhnya dinasti tersebut. Dari 15 wazir Fatimiyah, empat belas di antaranya meninggal dengan cara yang tragis. Demikian pentingnya posisi ini, hingga untuk mencapai posisi tersebut, mereka bisa saling membunuh di antara mereka. Dan wazir yang datang ke Nuruddin untuk meminta bantuan, bernama Syawar.

Ia sebelumnya digulingkan dari posisinya, dan bermaksud ingin mengambil kembali posisinya dengan bantuan dari Nuruddin. Pada awalnya Nuruddin sempat enggan masuk dalam urusan internal keluarga dinasti Fatimiyah. Di samping itu, untuk mencapai Mesir juga bukanlah hal yang mudah, karena pasukannya harus terlebih dahulu melewati pasukan Frank yang sudah menduduki wilayah Ascalon (sekarang Ashkelon, wilayah pesisir yang jaraknya sekitar 60 Km dari Yerussalem).

Namun akhirnya ia menyetujui untuk membantu wazir tersebut dan memerintahkan paman Shalahuddin yang bernama Asaduddin Syirkuh untuk membantu wazir tersebut merebut kembali posisinya. Mendapatkan perintah ini, pamannya bersikeras mengajak Shalahuddin yang saat itu masih berusia 26 tahun untuk menyertainya dalam misi tersebut.

Pada 15 April 1154, pasukan yang dipimpin oleh Syirkuh mulai bertolak ke Mesir dengan membawa 10.000 pasukan kavaleri. Jarak yang akan mereka tempuh untuk sampai ke wilayah kekuasaan dinasti Fatimiyah adalah sekitar 830 Km. Di dalam jajaran pasukan ini, Shalahuddin bertindak sebagai orang kepercayaan pamannya. Dan bagi Shalahuddin sendiri, ini adalah ekspedisi militer pertamanya, sekaligus langkah pertamanya di panggung sejarah dunia.

Raja agung itu, pada saat meninggal, ia hanya meninggalkan harta sebesar 40 keping perak dan satu koin emas. Sisa hartanya sudah habis dibagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Setelah menaklukan Yerusalem, tentara Salib tidak menyerah begitu saja. Tantangan selanjutnya bagi Shalahuddin, adalah mengembalikan kedamaian di kota itu, yang sebelumnya sudah renggang akibat pengelolaan yang salah dari pemerintahan tentara Salib sebelumnya.

Berbeda sekali dengan tentara Salib yang ketika memasuki Yerusalem justru membantai kaum Muslimin dan Yahudi, Shalahuddin, justru memasuki wilayah itu dengan damai. Sebaliknya, tentara Salib yang tersisa disana, karena didorong oleh rasa takut, justru mengancam akan menghancurkan Dome of the Rock, kecuali umat Islam menjamin keselamatan mereka.

Atas tindakan ini, Shalahuddin akhirnya bersedia menyetujui tuntutan mereka. Bahkan ia menebus nyawa para penduduk Yerusalem dan tentara Salib. Sekitar 18.000 sandera dibebaskan, dan sisanya sekitar 14.000 orang, 1000 diantaranya diminta oleh saudara Shalahuddin dengan alasan untuk dijadikan sebagai propertinya, dan ini diperkenankan oleh Shalahuddin.

Setelah 1000 orang tersebut di miliki oleh saudaranya, kemudian ia membebaskan semuanya. Sebuah sikap yang tidak pernah ditunjukkan oleh tentara Salib pada sat pertama kali mereka menaklukkan Yerusalem pada 1099 M.

Tidak hanya itu, ia juga juga mendengarkan permohonan orang-orang miskin, yang tidak mampu membayar tebusan atas diri mereka. Kepada mereka, Shalahuddin membebaskan tanpa syarat. Meski sikap ini terlihat sangat mulia, namun secara strategis, ternyata sikap ini salah.

Belas kasih yang berlebihan diberikan pada tentara Salib dan toleransi yang sangat tinggi kepada para tentara ini, akan dituai nanti oleh Shalahuddin. Kelak, mereka kembali berkelompok menyusun kekuatan dan berhasil melemahkan kekuatan pasukan kaum Muslimin di Acre, sehingga mengalami kekalahan.

Kisah jatuhnya Yerusalem ke tangan kaum Muslimin segera disambut berbagai tanggap di Eropa. Umumnya mereka tidak menerima kenyataan ini. Seorang sejarawan bahkan menyatakan, Paus Urban III meninggal karena shock ketika mendengar kabar tersebut. Penggantinya, Paus Gregory VIII kemudian menyerukan Perang Salib lainnya untuk merebut kembali Yerusalem. Deklarasikan ini menandakan dimulainya Perang Salib III.

Sebagai pembuka tentara Salib merebut pelabuhan Tirus (sekarang Lebanon). Sebuah kota pesisir yang strategis untuk menjadi kantong kekuatan awal tentara Salib, sebelum akhirnya bergerak menunju Yerusalem. Setelah menaklukan Tirus dengan mudah, akibat gagalnya pasukan Shalahuddin mengkonsolidasikan diri, gelombang pasukan Salib dari Eropa mulai datang secara bergelombang.

Gelombang kedatangan pasukan Salib ini baru selesai hingga dua tahun berikutnya. Diantara mereka ada legenda yang tak kalah pamornya dengan Shalahuddin, yaitu Raja Inggris, Richard I, Coeur de Lion, atau Richard Si Hati Singa (Richard the Lion Heart). Segera setelah tiba, Richard mengirim surat kepada Shalahuddin untuk melakukan pertemuan.

Namun Shalahuddin menolak dengan menjawab bahwa bukan kebiasaan yang baik bagi kedua raja bertemu di tengah sebuah pertempuran hingga terjadi genjatan senjata yang disetujui kedua belah pihak.

Pertempuran antara kedua pasukan ini lalu berlanjut dari Agustus 1189 sampai Juli 1191, yang berakhir dengan kekalahan pasukan kaum Muslimin dan jatuhkan kota Acre ke tentara Salib. Setelah kekalahan ini, gencatan senjatapun dilakukan, dan kedua raja bertemua untuk menegosiasikan pembebasan 3000 pasukan Muslim yang disandera oleh pasukan Salib.

Namun perundingan ini ternyata berjalan alot, dan Richard akhirnya frustasi. Ia lalu mengambil tahan Muslim yang ada di Acre, temasuk diantaranya wanita dan anak-anak, kemudian membawanya ke puncak bukit di luar kota agar terlihat oleh pasukan kaum Muslimin. Seketika, ia mengeksekusi semua tahanan tersebut dengan cara memenggal kepala mereka. Menjawab ini, Shalahuddin kemudian mengeksekusi tentara Salib yang ada di Damaskus.

Beberapa bulan kemudian, pada September 1191, Richard dan Shalahuddin kembali melakukan pertempuran Arsuf (sekarang Palestina). Dalam pertempuran kali ini, Richard lagi-lagi menang, disebabkan oleh faktor kepemimpinannya yang kuat. Namun meski kalah beberap kali, Shalahuddin bukan raja yang kebanyakan. Ia memiliki kesabaran dan napas perjuangan jangka panjang yang sangat tangguh.

Bahkan ketika salah satu peristiwa, pasukan Richard mengalami kekalahan disatu pertempuran yang kecil, dan Richard kehilangan kudanya, Shalahuddin mengirimkan tongkat dan kuda untuk membantunya kembali. Kisah ini kemudian menjadi legenda yang semakin mengharumkan nama Shalahuddin sebagai raja yang agung.

Setelah kemenangan demi kemenangan yang berhasil diraihnya, dan pasukan Richard sudah menguasai wilayah yang cukup luas, namun mereka akhirnya menyadari, bahwa rangkaian pertempuran ini masih sangat jauh untuk sampai ke Yerusalem, apalagi menaklukkan kekuasaan dinasti Ayyubiyah. Ditambah lagi, Richard memahami bahwa yang

dihadapinya bukanlah raja biasa. Pada satu musim dingin, banyak tantara Salib mengalami sakit, termasuk Richard. Shalahuddin lagi-lagi menunjukkan kebesaran jiwanya dengan mengirim dokter pribadinya kepada Richard untuk mengobatinya. Melihat ini, Richard semakin tidak percaya pada kemampuan dirinya. Dan akhirnya ia mulai mecari jalan keluar dari semua keadaan ini. ia menawarkan kepada Shalahuddin untuk menikahi saudarinya, Joan of England. Sebagai hadiahnya adalah Yerusalem yang akan diduduki dan diperintah bersama oleh kaum Muslimin dan Kristen.

Namun rencana imajinatif ini ditolak oleh Joan. Ia begitu marah kapada kakaknya dan kembali ke Inggris sesegera mungkin. Di Inggris sendiri, saudara laki-lakinya, John sedang melakukan pemberontakan terhdap kekuasaan Richard dan mengambil alih tahta. Mendapat kabar ini, Richard bergegas pulang kampong. Tapi sebelumnya, ia ingin menyelesaikan perkaranya dengan Shalahuddin.

Pada bulan Juni 1192, Perjanjian Ramla terjadi antara Richard dan Shalahuddin. Isinya antra lain, Yerusalem tetap berada dibawah kendali kaum Muslimin asalkan para peziarah Kristen dibebaskan untuk melakukan ibadahnya di kota suci tersebut. terkait dengan batas wilayah, semua daerah taklukan Richard akan tetap dihormati sebagai miliki tentara Salib.

Segera setelah tercapainya perjanjian ini, Richard kembali ke negaranya. Adapun Shalahuddin, ia kembali ke Damaskus, tempat ia memulai langkah pertamanya di panggung sejarah dunia. Tak lama tinggal di Damaskus, dia terserang demam dan akhirnya meninggal dunia di usia 56 tahun.

Yang membuat namanya semakin dihormati, pada saat meninggal, ia hanya meninggalkan harta sebesar 40 keping perak dan satu koin emas. Sisa hartanya sudah habis dibagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Setelah Shalahuddin meninggal, namanya pun ikut memudar dalam sejarah seiring dengan semakin banyaknya raja-raja Muslim yang berkuasa. Namanya kembali dikenali sejak Sir Walter Scott menulis novel, berjudul “The Talisman” (1825). Sosoknya mulai diingat kembali oleh dunia barat maupun timur sebagai legenda raja yang agung. Richard the Lion Heart, yang pernah secara langsung melakukan kontak dengan Shalahuddin dalam sebuah pertempuran yang sangat panjang, memujinya sebagai “pemimpin terbesar dan paling kuat dalam dunia Islam.

Biografi Imam Tirmidzi Sang Perawi Hadits Terkenal

Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan segala kejadian yang ada di alam semesta ini dengan perantara sebab akibat. Seperti halnya jika kita meminta rezeki dari Allah, kita tidak bisa meminta agar Allah ta’ala menurunkan uang atau pun emas langsung turun dari langit. Akan tetapi, kita harus mengambil sebab agar Allah ta’ala memberikan rezekinya untuk kita, yaitu dengan bekerja.

Begitu pula dengan ilmu. Allah ta’ala ingin menghidupkan dan menyebarkan ilmu agama ini untuk seluruh umat manusia dengan dihidupkannya para ulama. Mereka adalah orang-orang pilihan yang telah Allah ta’ala pilih di antara milyaran manusia di muka bumi ini yang bertugas sebagai pewaris para nabi.

Dan di antara para ulama tersebut, yang telah banyak berjasa untuk kaum muslimin adalah Imam Tirmidzi rahimahullahu ta’ala. Beliau adalah salah satu Imam Ahli Hadis terkenal yang memiliki kitab hadis yang monumental yaitu Kitab “Al-Jami’” atau Sunan at-Tirmidzi.

Bagaimanakah biografi beliau? Mari kita simak kisah perjalanan hidup beliau yang mulia. Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran hidup darinya.

Nama Beliau
Salah satu ulama besar yang dimiliki kaum muslimin ini bernama lengkap Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa as-Sulami at-Tirmidzi. Dan beliau memiliki nama kunyah Abu ‘Isa.1

Kelahiran Beliau
Imam ahli hadis ini dilahirkan pada tahun 209 Hijriyah di sebuah daerah bernama Tirmidz. Dan nama beliau tersebut dinisbatkan kepada sebuah sungai yang ada di daerah tersebut yang sering dikenal dengan nama Jaihun. Para ulama berbeda pendapat akan kebutaan yang beliau alami pada waktu itu. Ada yang mengatakan bahwa beliau mengalami kebutaan sejak beliau lahir. Akan tetapi yang benar adalah beliau mengalami kebutaan pada masa tua beliau, yaitu masa setelah beliau banyak melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu.2

Kisah perjalanan beliau dalam menuntut ilmu
Pada zaman kita saat ini, sangat jarang kita temukan ada seorang anak muda yang sudah semangat menuntut ilmu agama di umurnya yang masih belia. Biasanya, pada usia yang masih belia, mereka lebih menyukai kebebasan bermain dan beraktivitas. Akan tetapi, dahulu para ulama kita memiliki semangat untuk menuntut ilmu agama sejak usia mereka yang masih muda. Termasuk di antaranya adalah Imam Tirmidzi. Beliau memulai jihadnya dengan belajar agama sejak beliau masih muda. Beliau mengambil ilmu dari para syekh yang ada di negara beliau.3

Kemudian beliau memulai melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu ke berbagai negara yang ada di muka bumi ini. Yang mana perjalanan beliau itu hanya ditujukan untuk menimba ilmu agama. Beberapa daerah yang pernah beliau datangi pada saat itu adalah Khurasan, Iraq, Madinah, Mekkah, dan yang lainnya. 4

Guru Beliau
Bagi seorang penuntut ilmu, tidak bisa hanya mencukupkan diri dengan membaca buku-buku dalam rangka menimba ilmu agama. Karena jika hal tersebut dilakukan, maka kesalahanlah yang akan banyak dia dapat daripada kebenaran. Oleh karena itu para penuntut ilmu itu sangat membutuhkan kehadiran seorang guru dalam perjalanannya menuntut ilmu.

Begitu pula apa yang telah dilakukan oleh Imam Ahli Hadis ini. Berbagai negara telah beliau singgahi, sehingga beliau telah banyak menimba ilmu dari para gurunya. Di antara para guru beliau adalah:

Ishaq bin Rahawaih, yang merupakan guru pertama bagi Imam Tirmidzi.

Imam Bukhari. Imamnya para ahli hadis ini adalah termasuk salah satu imam besar yang mana Imam Tirmidzi mengambil ilmu darinya. Beliau adalah guru yang paling berpengaruh bagi Imam Tirmidzi. Dari beliaulah Imam Tirmidzi mengambil ilmu ‘ilalul hadits.

Imam Muslim. Beliau dan Imam Bukhari adalah dua imam ahli hadis terkenal yang ada di muka bumi ini. Kitab hadis karya mereka berdua adalah kitab yang paling benar setelah Alquran.

Imam Abu Dawud.

Qutaibah bin Sa’id.

Dan masih banyak lagi yang lainnya. 5

Murid-murid beliau
Suatu keutamaan bagi orang yang berilmu adalah dia akan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang banyak dan keberadaannya sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang sadar akan pentingnya ilmu. Setelah beliau menimba ilmu sekian lama dari para gurunya, beliau mengajarkan dan menyebarkan ilmu-ilmunya kepada manusia. Dan di antara muridnya adalah:

Abu Bakar Ahmad bin Isma’il as Samarqand

Abu Hamid al Marwazi

Ar Rabi’ bin Hayyan al Bahiliy

Dan masih banyak lagi yang lainnya. 6

Karya-karya emas beliau
Salah satu hal yang menyebabkan orang berilmu akan selalu terkenang namanya dan terus mengalir pahalanya adalah apabila dia menulis ilmu-ilmunya dalam suatu buku yang akan dibaca oleh manusia hingga akhir zaman. Dan di antara karya-karya beliau yang sampai saat ini dimanfaatkan oleh kaum muslimin terutama para ulama adalah:

Al-Jami’ (Sunan at-Tirmidzi). Kitab yang satu ini adalah kitab beliau yang paling monumental dan paling bermanfaat.

Al-‘Ilal.

Al-‘Ilal al-Kabir

Syamail an-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kitab ini termasuk kitab yang paling bagus yang membahas tentang sifat-sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

At Tarikh

Az Zuhd

Al-Asma’ wal-Kuna.7 Dll

Keutamaan beliau dan pujian ulama’ terhadap beliau
Beliau adalah seorang ulama yang memiliki banyak keutamaan sehingga para ulama banyak memberikan pujian kepada beliau. Di antara keutamaan beliau dan pujian ulama kepadanya adalah sebagai berikut:

Kitab beliau yang berjudul “Al-Jami’” menunjukkan akan luasnya pengetahuan beliau dalam ilmu hadis, kefaqihan beliau dalam permasalahan fikih, dan juga luasnya wawasan beliau terhadap permasalahan khilafiyah di kalangan para ulama fikih. Akan tetapi beliau cenderung bermudah-mudahan dalam menilai sahih dan hasan suatu hadis.8

Abu Ahmad al-Hakim berkata bahwa beliau pernah mendengar ‘Umar bin ‘Allak berkata, “Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Imam Bukhari sepeninggal beliau kecuali Abu ‘Isa (Imam Tirmidzi) dalam masalah ilmu, kuatnya hafalan, sifat zuhud dan wara’-nya. Beliau menangis hingga matanya mengalami kebutaan, dan hal tersebut terus berlangsung beberapa tahun hingga beliau wafat.”9

Imam Abu Isma’il ‘Abdullah bin Muhammad al-Anshoriy10 memberikan sebuah rekomendasi yang luar biasa terhadap beliau, di mana beliau pernah mengatakan bahwa Kitab ‘Al-Jami’ milik Imam Tirmidzi lebih besar manfaatnya daripada kitab hadis yang dimiliki Imam Bukhari dan Imam Muslim. Karena kedua kitab tersebut hanya bisa dimanfaatkan oleh orang yang alim yang tinggi ilmunya, sedangkan kitab Al-Jami’ milik beliau bisa dimanfaatkan oleh setiap orang yang membacanya.11 Akan tetapi hal ini semata-mata hanyalah pendapat seorang ulama’ yang mungkin beliau memandangnya dari sudut tertentu.

Abu Sa’d al-Idris mengatakan bahwa beliau adalah seorang imam hadis yang dijadikan teladan dalam masalah hafalan.12

Imam adz-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala’, “Di dalam kitab tersebut (Al-Jami’), terdapat banyak sekali ilmu yang bermanfaat, faedah yang melimpah, dan juga terdapat pokok-pokok permasalahan dalam Islam. Seandainya saja kitab tersebut tidak dinodai dengan adanya hadis-hadis yang lemah, yang di antaranya adalah hadis palsu dalam permasalahan keutamaan-keutamaan amalan saleh.”13

Jasa-jasa beliau
Sesungguhnya jasa-jasa yang telah beliau berikan untuk kaum muslimin sangatlah banyak. Dan di antara jasa yang pernah beliau lakukan untuk kaum muslimin adalah pembelaan beliau untuk ahlussunnah wal jama’ah terhadap kelompok-kelompok sesat yang ada pada zaman beliau. Di antara pembelaan tersebut adalah:

Beliau telah menulis sebuah kitab yang monumental yaitu Al-Jami’ yang di dalamnya beliau susun hadis-hadis yang dikhususkan untuk membantah para ahli bid’ah.

Beliau telah menulis sebuah pembahasan yang luas dalam kitab tersebut yang dikhususkan untuk membantah kelompok sesat “Al-Qadariyyah” dan juga bantahan terhadap “Al-Murji’ah” yang beliau beri nama “Kitab al-Iman”.

Beliau juga membuat pembahasan di akhir kitab beliau tersebut yang khusus membahas tentang keutamaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dua Imam ahli hadis kita, Imam Bukhari dan Imam Muslim, untuk membantah kaum Syi’ah Rafidhah laknatullahi ‘alaihim.

Di dalam kitab Al-Jami’ tersebut juga terdapat banyak sekali hadis yang membantah pemahaman Khawarij, Murji’ah, dan Qadariyyah. Dan beliau mengkhususkan pada “Kitab al-Qadr” untuk membantah pemahaman Qadariyyah yang mendustakan takdir Allah.14

Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah perjalanan hidup beliau
Jihad itu tidak hanya identik dengan pedang, akan tetapi jihad itu bisa dilakukan dengan ilmu, yaitu berjihad memerangi kebodohan. Seperti apa yang dilakukan oleh para ulama.

Lahirkan penerus generasi pembela Islam dan bangsa ini dengan mendidik anak-anak kita untuk semangat menuntut ilmu agama sejak kecil.

Hargailah, hormatilah, dan doakanlah kebaikan untuk para ulama kita yang telah berjuang dalam mendapatkan ilmu agama dan memberikannya untuk kaum muslimin dalam rangka membela agama ini dan meneruskan perjuangan-perjuangan para nabi dalam menyebarkan ilmu agama.

Mempelajari suatu ilmu terutama ilmu agama membutuhkan adanya seorang guru yang bisa memahamkan penuntut ilmu tersebut. Karena apabila hanya mencukupkan diri dengan membaca buku maka hal itu dapat menyebabkan orang yang melakukannya terjatuh dalam kesalahan karena salahnya pemahaman mereka ketika mengkaji ilmu itu secara autodidak.

Belajar agama adalah suatu hal yang sangat penting bagi kita dan sangat menentukan masa depan kita di kampung yang kekal nanti. Maka dari itu, kita harus mempelajarinya dari seseorang yang benar-benar berilmu. Sehingga kita tidak boleh sembarangan mengambil ilmu agama dari seseorang. Patokannya adalah ketakwaannya dan kapasitas ilmu agamanya, bukan kemahirannya dalam menyampaikan dan melawak.

Jadilah orang yang bermanfaat untuk manusia, dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat untuk mereka melalui lisan dan tulisan.

Berhati-hatilah dengan aliran-aliran menyimpang yang selalu gencar memberikan syubhat dan doktrinnya kepada masyarakat awam. Oleh karena itu, Mari kita bentengi diri kita dari pengaruh-pengaruh tersebut dengan pemahaman akidah yang benar dan lurus. Tidak ada cara lain kecuali dengan terus membekali diri kita dengan ilmu agama yang benar, yang bersumber dari Alquran dan sunah yang dipahami oleh para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Dan tentunya, masih banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari biografi beliau tersebut, yang diharapkan bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Demikianlah, biografi singkat salah satu ulama kita, Imam Tirmidzi, yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kami pribadi dan para pembaca sekalian. Dan semoga Allah ‘azza wa jalla senantiasa memberikan kita taufik agar kita bisa mengilmui apa yang akan kita amalkan dan mengamalkan apa yang telah kita ilmui. Amin.

Wallahu a’lam bish shawab.

***

Catatan kaki:
Lihat Jami’ al-Ushul, hal. 193

Lihat Siyar, hal. 271/25

Lihat Syarh ‘Ilal at-Tirmidzi, hal. 43/1

Lihat Siyar, hal 271/25

Lihat Siyar, hal 272/25

Lihat Siyar, hal 273/25

Lihat Juhud al-Imam al-Mubarakfuri, hal. 38/1

Lihat Tarikh, hal. 617/6

Lihat Tarikh, hal. 617/6 dan Siyar, hal. 274/25

Biografi beliau bisa dilihat di kitab Thabaqat al-Hanabilah, hal. 245/2

Lihat Tarikh, hal. 617/6

Lihat Siyar, hal. 274/25

Lihat Siyar, hal. 275/25

Lihat Mausu’ah, hal. 388-392/4

Tata Cara Mandi Junub Yang Benar

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Tulisan kali ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya mengenai lima hal yang menyebabkan mandi wajib. Saat ini kami akan memaparkan serial kedua dari tiga serial secara keseluruhan tentang tata cara mandi wajib (al ghuslu). Semoga pembahasan kali ini bermanfaat.

Niat, Syarat Sahnya Mandi

Para ulama mengatakan bahwa di antara fungsi niat adalah untuk membedakan manakah yang menjadi kebiasaan dan manakah ibadah. Dalam hal mandi tentu saja mesti dibedakan dengan mandi biasa. Pembedanya adalah niat. Dalam hadits dari ‘Umar bin Al Khattab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Rukun Mandi

Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.

Inilah yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ

“Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.”[1]

Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,

أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

“Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

Dalil yang menunjukkan bahwa hanya mengguyur seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Ia mengatakan,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِى فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ « لاَ إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِى عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ ».

“Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)

Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.

Adapun berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.[2]

Tata Cara Mandi yang Sempurna

Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna. Yang menjadi dalil dari bahasan ini adalah dua dalil yaitu hadits dari ‘Aisyah dan hadits dari Maimunah.

Hadits pertama:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Hadits kedua:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.

Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran … Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.”[3]

Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.

Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”[4]

Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”[5]

Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci?

Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.

Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.

Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, “Tata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.”[6]

Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.

Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.

Ketujuh: Menyela-nyela rambut.

Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اغْتَسَلَ ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ ، أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.” (HR. Bukhari no. 272)

Juga ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كُنَّا إِذَا أَصَابَتْ إِحْدَانَا جَنَابَةٌ ، أَخَذَتْ بِيَدَيْهَا ثَلاَثًا فَوْقَ رَأْسِهَا ، ثُمَّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَا الأَيْمَنِ ، وَبِيَدِهَا الأُخْرَى عَلَى شِقِّهَا الأَيْسَرِ

“Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.” (HR. Bukhari no. 277)

Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).”  (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)

Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[7]

Bagaimanakah Tata Cara Mandi pada Wanita?

Tata cara mandi junub pada wanita sama dengan tata cara mandi yang diterangkan di atas sebagaimana telah diterangkan dalam hadits Ummu Salamah, “Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)

Untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:

Pertama: Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ غُسْلِ الْمَحِيضِ فَقَالَ « تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا ». فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ « سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِى ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ « تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ – أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ – ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ »

“Asma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya. Lalu Asma’ berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)”. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.” (HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)

Kedua: Melepas kepangan sehingga air sampai ke pangkal rambut.

Dalil hal ini adalah hadits yang telah lewat,

ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا

“Kemudian hendaklah kamu menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya.” Dalil ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub. Sedangkan mengenai mandi junub disebutkan,

ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ

“Kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mengguyurkan air padanya.”

Dalam mandi junub tidak disebutkan “menggosok-gosok dengan keras”. Hal ini menunjukkan bedanya mandi junub dan mandi karena haidh/nifas.

Ketiga: Ketika mandi sesuai masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah guna menghilangkan sisa-sisanya. Selain itu, disunnahkan mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh.

Perlukah Berwudhu Seusai Mandi?

Cukup kami bawakan dua riwayat tentang hal ini,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar,

سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ:وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟

Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfu’ dan mauquf[8])

Abu Bakr Ibnul ‘Arobi  berkata, “Para ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah masuk dalam mandi.” Ibnu Baththol juga telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini.[9]

Penjelasan ini adalah sebagai alasan yang kuat bahwa jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.

Apakah Boleh Mengeringkan Badan dengan Handuk Setelah Mandi?

Di dalam hadits Maimunah disebutkan mengenai tata cara mandi, lalu diakhir hadits disebutkan,

فَنَاوَلْتُهُ ثَوْبًا فَلَمْ يَأْخُذْهُ ، فَانْطَلَقَ وَهْوَ يَنْفُضُ يَدَيْهِ

“Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tetapi beliau tidak mengambilnya, lalu beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannya” (HR. Bukhari no. 276). Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama memakruhkan mengeringkan badan setelah mandi. Namun yang tepat, hadits tersebut bukanlah pendukung pendapat tersebut dengan beberapa alasan:

Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu masih mengandung beberapa kemungkinan. Boleh jadi beliau tidak mengambil kain (handuk) tersebut karena alasan lainnya yang bukan maksud untuk memakruhkan mengeringkan badan ketika itu. Boleh jadi kain tersebut mungkin sobek atau beliau buru-buru saja karena ada urusan lainnya.
Hadits  ini malah menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengeringkan badan sehabis mandi. Seandainya bukan kebiasaan beliau, maka tentu saja beliau tidak dibawakan handuk ketika itu.
Mengeringkan air dengan tangan menunjukkan bahwa mengeringkan air dengan kain bukanlah makruh karena keduanya sama-sama mengeringkan.
Kesimpulannya, mengeringkan air dengan kain (handuk) tidaklah mengapa.[10]

Demikian pembahasan kami seputar mandi wajib (al ghuslu). Tata cara di atas juga berlaku untuk mandi yang sunnah yang akan kami jelaskan pada tulisan selanjutnya (serial ketiga atau terakhir).

Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 1/361, Darul Ma’rifah, 1379.

[2] Penjelasannya silakan lihat di Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/173-174 dan 1/177-178, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[3] Fathul Bari, 1/360.

[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/231, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, 1392.

[5] Ad Daroril Mudhiyah Syarh Ad Duroril Bahiyyah, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, hal. 61, Darul ‘Aqidah, terbitan tahun 1425 H.

[6] Shahih Fiqh Sunnah, 1/175-176.

[7] Al Ikhtiyaarot Al Fiqhiyah li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, ‘Alauddin Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad Al Ba’li Ad Dimasyqi Al Hambali, hal. 14, Mawqi’ Misykatul Islamiyah.

[8] Lihat Ad Daroril Mudhiyah, hal. 61

[9] Idem.

[10] Shahih Fiqh Sunnah, 1/181.

Saat Yang Tepat Memberi Nasehat

Seringkali yang paling banyak berbicara, paling tangkas menanggapi segala pembicaraan apa pun temanya, bukanlah yang paling berilmu. Tidak jarang pula yang paling sering diminta menjelaskan bukanlah yang paling matang pemahamannya, mendalam ilmunya, melainkan mereka yang masih perlu dikuatkan hatinya. Sebagaimana orangtua menunjukkan sikap antusias saat anak berbicara, bukan karena mereka tidak tahu, tetapi untuk membesarkan hati anak-anaknya sehingga merasa dirinya berharga.

Seperti yang dicontohkan oleh Atha’ bin Abi Rabah rahimahuLlah, seorang ulama besar dari generasi tabi’in. Abu Muhammad Atha bin Abi Rabah Aslam bin Shafwan, begitu sebutan lengkapnya, merupakan ulama yang sulit dicari tandingannya. Ia ahli tafsir, perawi hadis dan ahli fiqih. Kedalaman ilmunya membuat ia menjadi tempat bertanya berbagai permasalahan yang ada di Makkah saat itu. Banyak nasehatnya yang diabadikan dan pendapatnya yang terus dipegangi. Di antara nasehatnya ialah cerita yang dituturkannya, “Ada seseorang laki-laki menceritakan kepadaku suatu cerita, maka aku diam untuk benar-benar mendengarkannya seolah-olah aku tidak pernah mendengar cerita itu. Padahal sungguh aku pernah mendengar cerita itu sebelum ia dilahirkan.” Maka kalau engkau berbicara dan sekelilingmu antusias mendengarkan, jangan salah menyimpulkan. Boleh jadi mereka sedang membesarkan hatimu, bersabar atas kesalahanmu, dan tidak tergesa-gesa memberi nasehat. Mereka diam bukan karena segan, tetapi karena tahu kapan saat yang tepat memberi nasehat.

Seperti seorang pendekar silat yang sungguh-sungguh telah mumpuni ilmunya dan matang gerakannya, ia tidak tergesa-gesa bereaksi, sebab ia tahu bagaimana harus bersikap dengan tepat dan sekaligus membawa maslahat.