Hukum Shalat Menggunakan Peci

SHALAT MENGGUNAKAN PECI?
.
Pertanyaan.
.
Assalamu’alaikum ustadz. Saya mau bertanya, ada teman saya yang menganjurkan saya memakai peci ketika melaksanakan ibadah shalat dengan alasan supaya dahi tidak terhalang oleh rambut ketika sujud. Benarkah seperti itu? Mohon penjelasannya
.
Jawaban.
.
Wa’alaikum salam warahmatullah. Memakai peci saat shalat termasuk berhias untuk shalat, yang diperintahkan dalam firman Allâh Azza wa Jalla:
.
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
.
Wahai keturunan Adam! Pakailah hiasan kalian pada setiap shalat. [Al-A’râf/7:31]
.
Berhias untuk shalat termasuk adab shalat dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allâh Azza wa Jalla. Selayaknya seorang Muslim berhias sebelum bermunajat kepada Rabbnya. Dan kepantasan dalam berhias berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain.
.
Di sebagian daerah atau negara, tidak memakai penutup kepala saat shalat terhitung melanggar etika (khawârim muru`ah). Jika begitu, hendaknya penduduk daerah tersebut tidak shalat kecuali dengan memakai penutup kepala.
.
Adapun alasan memakai peci agar rambut tidak menutupi dahi, itu tidak tepat. Kita memang diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh anggota tubuh, yaitu kedua kaki, kedua lutut, kedua tangan dan dahi (sekaligus hidung). Namun tidak berarti bahwa sujud kita tidak sah jika rambut menghalangi dahi. Oleh karena itu, para Ulama sepakat bahwa shalat seseorang sudah sah jika sudah meletakkan ketujuh anggota ini di tempat sujud, meski lututnya terhalang kain sarung, kakinya memakai kaus kaki, atau tangannya memakai sarung tangan. Padahal semua benda itu menghalangi anggota-anggota tubuh ini dari tempat sujud. Demikian pula dahi, adanya rambut yang menghalanginya dari tempat sujud tidak menghalangi sahnya sujud.
.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIX/1436H/2015.]

Husband Is Difficult To Pray? This is the Solution of the Qur’an and the Sunnah

Because prayer is the practice that was first taken away on the Day of Judgment. There is no doubt that living together with a husband who does not pray is a disaster in which mishaps are not permissible.

QUESTION: “Ustadz, I want to ask how to respond to a husband who is lazy to pray, while his wife is a Muslim woman who obeys and how her position as a wife for years is waiting but there is no change.”

There is no doubt that living together with a husband who does not pray is a disaster where mishaps are not permissible, especially since you have been patient for a long time. Prayer is indeed a serious matter except for those who are solemn. Prayer is a direct relationship between a servant and his Rabb. Shalat is the first charity to be taken away.

Prayer is a scale by which we can know one’s religion and kindness. Whoever keeps it, then he has the light, proof and salvation on the Day of Judgment. And whoever does not take care of him he has no light, proof and salvation on the Day of Judgment, and will be gathered together with Pharaoh, Haman, Qorun and Ubay ibn Khalaf.

Prayer is an obligation that will not fall from a human while he breathes and has memories, the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam said to‘ Imran ibn Husain radhiallahu ‘anhu:

“Pray in a standing condition, if you are not able, then by sitting, if you cannot, then (lying) on ​​the stomach.” (Al-Bukhari, 1006)

Some things that can help improve a husband who is lazy to pray. Among these are the following:

1. Relying on Allah Subhanahu wa Ta’ala
Submitting to Him for guidance to the man, and the truth is we pray for someone at night, and preach it at noon, according to our level of sincerity and honesty, then kindness and obedience will come.

2. Taking a good entrance advises him
Present beautiful words, choose the right times, and list the goodness and good qualities. And try to help him prepare his confidence by saying, for example:

“Alhamdulillah, you are a good person, you are responsible, and humans call you kindness, and it will be great if you consistently pray five times a day. For truly I am glad to see my husband come out like another man with his family to the houses of God. “

3. Ask for Helpful Relatives
Encourage the righteous people from your mahram to visit him and invite him to pray without him feeling that this is an agreement between you. And prefer prayer times in pilgrimage until he can go to the mosque with them.

4. Give tapes, books, or videos about Islam
Buy tapes, and small books that explain the laws of people who leave prayer, and the punishment of those who underestimate the implementation of prayer in time, and put the tapes and small books on the place he usually reaches with his hands.

5. Inviting prayers in a polite manner
Ambitious so that he is consistent in doing the five daily prayers for the first time, then preaches him to establish it with his specialties, rukuknya and tumakninah. And such things will not happen unless they regularly pray. Allah Subhanahu wa Ta’ala has praised those who are solemn in their prayers by saying:

“And those who care for their worship.” (Q. Al-Mukminun: 9)

Due to routine and keeping prayers will deliver to solemnity, and prayer will not be useful unless solemn.

6. Make meals after prayer times

7. Explain the danger of leaving prayer on time
Mush’ab ibn Sa’d ibn Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu once said to his father while reading the words of Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Then the accident is for those who pray, (ie) those who are negligent from their prayers,” (Surat al-Maun: 5)

He says,

“O my father, are they people who do not pray?” Sa’d said: “No, if they leave prayer, then they have been disbelievers, but they are the ones who end (delay) it from the time. “(Hr Al-Bazzar 1145, and Thabarani in Al-Aushath 2276)

8. Give a warning
Use influential tools and weapons possessed by a woman to force her to regularly perform prayers, such as refusing to eat with her, sitting with her, and refusing to sleep in bed, and there is no prohibition to convey divorce if she does not keep praying

This prayer case is not a small matter but it is very important, concerned if you see your husband easily neglecting prayer.

This is the case of heaven and hell, and this is the case of God not willing to help us and our children, always neglecting prayer. Naudzubillahi mindzalik, may Allah facilitate the journey of our lives to His Hannah.

Shalat Dengan Menggunakan Sutrah

Shalat Dengan Menggunakan Sutrah
.
Tidak ada perbedaan di antara para ulama bahwa lewat di depan sutrah hukumnya tidak mengapa dan lewat di tengah-tengah antara orang yang shalat dengan sutrahnya hukumnya tidak boleh dan orang yang melakukannya berdosa (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 24/184). Berdasarkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
.
إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ
.
“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509, Muslim 505)
.
Juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
.
لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ
.
“Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan)” (HR. Ibnu Khuzaimah 800, 820, 841. Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi (115) mengatakan bahwa sanadnya jayyid, ashl hadist ini terdapat dalam Shahih Muslim).
.
Dengan demikian kita tidak boleh lewat diantara orang yang shalat dengan sutrahnya, hendaknya kita mencari jalan di luar sutrah, atau lewat belakang orang yang shalat tersebut, atau mencari celah antara orang yang shalat, atau cara lain yang tidak melanggar larangan ini.

Menjaga Shalat 5 Waktu

Muslimah Cantik Indonesia

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Artinya, ”Peliharalah segala shalat-(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS Al-Baqarah [2]: 238).

Melalui ayat ini, Allah menerangkan tentang keutamaan menjaga atau memelihara shalat. Karena menjaga atau memelihara shalat merupakan bukti iman kita kepada Allah Yang Maha Besar.

Di sini Allah menekankan mengenai shalat wustha. Shalat wustha ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wustha ialah shalat Ashar. Menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya, bukan hanya shalat Ashar.

Adapun selanjutnya, Allah mengajarkan pula, agar dalam memelihara shalat, mestilah kita lakukan dengan khusyu’, memusatkan konsentrasi di dalam shalat hanya kepada Allah semata-mata.

Tentang kewajiban shalat ini, disebutkan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Artinya : “Sesungguhnya batas yang memisahkan seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim).

Begitulah, Allah memerintahkan kepada kita kaum muslimin untuk selalu menjaga terus-menerus melakukan shalat yang lima waktu sehari semalam. Jika shalat itu kita pelihara dengan ikhlas, insya Allah akan dapat memelihara diri kita dari berbuat hal-hal yang jahat dan mungkar. Selain dari itu, juga dengan memelihara shalat akan dapat menjadi penenang jiwa dari segala kegelisahan yang menimpa diri kita.

Asy-Syaikh Sayyid Quthb menguraikan, memelihara shalat menjadi begitu penting mengingat shalat merupakan jalan pertemuan seorang hamba yang dhaif dengan Allah Yang Maha Besar. Dengan shalat, seorang hamba akan merasakan kedekatan dengan Allah, hati menjadi tenang, dan jiwa terbasuh kesejukan. Shalat ibarat sumber mata air sejuk yang tak pernah kering oleh terik panas perjalanan dunia. Karenanya, orang yang berakal sehat pasti gembira mencelupkan dirinya ke dalam mata air shalat lima waktu sehari semalam.

Di samping itu, shalat merupakan penghubung antara makhluk dengan Sang Khalik. Shalat merupakan sebesar-besar tanda keimanan seseorang dan seagung-agung syiar keislaman seseorang. Shalat merupakan tanda syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan merupakan tiang agama Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدّيْنِ فَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدّيْنِ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدّيْنِ

Artinya : “Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa yang menegakkan shalat,maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama”. (HR Bukhari Muslim).

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ الله

Artinya : “Pokok agama adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR At-Tirmidzi)

Hadits Malik No. 386

“Saya menyaksikan Ied bersama Umar bin Khatthab . Dia shalat kemudian bangun dan berkhutbah di hadapan orang-orang seraya berkata; ‘Ada dua hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk berpuasa; hari raya Idul Fitri kalian ini, dan hari di mana kalian memakan binatang kurban.” Abu Ubaid berkata; “Saya juga pernah menyaksikan shalat Ied bersama Utsman bin Affan . Dia datang dan shalat, kemudian bangun berkhutbah; “Sesungguhnya telah terkumpul di hari kalian ini dua Ied. Siapa yang jauh tempat tinggalnya, namun ingin menunggu shalat jum’at, maka hendaklah ia menunggu. Dan barangsiapa ingin pulang, maka saya telah mengijinkannya.” Abu Ubaid berkata; “Saya menyaksikan Ied bersama Ali bin Abu Thalib ketika Utsman terkepung, dia datang dan shalat, kemudian bangun dan berkhutbah.”

(HR. Malik: 386)