Cara Meruqyah Diri Sendiri

Assalamu’alaykum #Lovalila Alila coba jawab yaa pertanyaan ini gimana caranya Rukqyah diri sendiri?
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya meruqyah termasuk amalan yang utama. Meruqyah termasuk kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Para nabi dan orang shalih senantiasa menangkis setan-setan dari anak Adam dengan apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya
.
Bismillah kenapa sih harus Ruqyah? 
Ruqyah adalah sebuah pelindungan untuk melindungi orang yang terkena penyakit, hal yang perlu kita ketahui bahwa jika diri ini males-malesan, sering emosian, gelisah and sering melakukan hal-hal yang aneh, maka segeralah bertaubat dan meruqiyah diri .
Cara yang Alila sering lakukan adalah
1. mensucikan diri terlebih dahulu setelah itu, banyak-banyak beristighfar, membaca Al-Quran dan yang di anjurkan .
2. Baca Al – Fatihah 1x ditiupkan ke telapak tangan
3. Baca Ayat Kursi 1x ditiupkan lagi ke telapak tangan 
4. (QS. Al Baqarah: 255)
5. Baca Ayat Kursi 1x ditiupkan lagi ke telapak tangan 
6. (QS. Al Baqarah: 255)
7. Baca Al – Ikhlas 1x ditiupkan ke telapak tangann
8. (QS. Al Ikhlash: 1-4)
9. Baca Al – Falaq 1x ditiupkan ke telapak tangan 
10. (QS. Al Falaq: 1-5)
11. Baca An – Naas 1 x ditiupkan lagi ke telapak tangan.
12. (QS. An Naas: 1-6)
(boleh dibaca 3x pada tiap surat tersebut, contohnya : Al – Fatihah dibaca 3x, kemudian surat selanjutnya)
.
Kemudian diusapkan dari kepala sampai ke kaki , dengan NIAT “Membentengi Diri dari Semua Sihir dan Setan – setan yang ada.”
.
Wallhu’alam, banyak-banyak lah meminta perlindungan kepada Allah dan teruslah semangat meningkatkan ibadah kepada Allah agar Allah jauhkan dari gangguan setan.
#QnASpesial #Ruqyah

Tips Agar Tidak Gampang Baper Pada Lawan Jenis

Dear, yang namanya baper itu emang udah jadi penyakitnya kaum hawa banget ya hihi terkadang kita berusaha cool tapi hati gak bisa bohong. .
Alila kasih tips yang semoga membantu ya. Yang pertama, yuk ah jadi muslimah yang berkelas, jangan mudah menjatuhkan hati kecuali pada Allah Ta’ala. Ia lah satu-satunya Dzat yang paling berhak untuk kita selalu jatuh hati setiap saat. Ia selalu ada buat kita kapanpun kita butuh. Maha Mendengar apa yg kita panjatkan. Maha Pengampun walau sebesar apapun kesalahan kita dan ada segudang alasan lain yang pastinya akan bikin kita jatuh cinta banget deh sama Allah ❤
.
Yang kedua, jauhi drama-drama dan sinetron yang kisahnya me-ni-pu ya dear. Cuma bikin kita melayang, tapi fakta di kehidupan asli?? Gak ada kisah yang selalu semulus dan semanis di drama-drama. Baper sama cowok keren yg belum tentu Allah takdirkan buat jadi jodoh kita? Atau yang romantis suka nge-gombal? Hobi tebar pesona ke non mahrom? Alila sih BIG NO. Cuma ngabisin waktu dan pikiran.
.
Yang ketiga, sibukkan kegiatan kita dengan hal-hal yang bermanfaat, yang mendekatkan diri kita pada Allah. Begitu juga perbanyak berteman dengan teman-teman shalihah yang udah pasti bakal bantu kita jadi pribadi yang lebih berkualitas.
Oke, jadi mulai sekarang no more baper baper club ya dear hehe
Semoga Allah mudahkan 😇 .
#SesiQnASpesial

Menghadapi Ikhtilath Di Lingkungan Kerja Dan Sekolah

Ada 4 aspek yang menjadikan pria dan wanita yang bukan mahrah boleh berinteraksi.
1. Pendidikan. Contohnya saja adalah KBM antara Murid dengan guru, sesama Murid yang saling berdiskusi tentang pelajaran, les, kampus dan lain-lain yang berhubungan dengan pendidikan.
2. Muamalah. Contohnya saja jual beli, bekerjasama dalam bisnis, menjadi karyawan atau bos, sesama karya dalam lingkup kerja.
3. Kesehatan, Contohnya saja Dokter dengan pasiennya, perawat dengan pasiennya, bidan dengan pasiennya dll.
4. Dakwah.
.
Nah itu tadi adalah aspek-aspek yang diperbolehkan antara pria dan wanita yang bukan mahram berhubungan didalamnya. Seperti berdiskusi, memeriksa kondisi, bertransaksi, bernegosiasi, safar dengan sarat bersama mahramnya masing-masing.
.
Lalu bagaimana caranya agar dari 4 aspek ini tidak terjadi ikhtilat (bercampur baur) atau khalwat (berduaan)? Maka, jawabannya adalah, jangan pernah berdiskusi diluar ranah 4 aspek tadi, jika perbincangan sudah melenceng, segera untuk akhiri dan memisahkan diri. Jangan melakukan komunikasi terlalu intens, usahakan jika dituntut untuk berkomunikasi secara intens, maka sampaikan saja pesannya kepada mahramnya, semisal (istri/suaminya, kakak/adikanya yang se-mahram dengan kita, ibu/bapaknya dll).
.
Karena tidak menutup kemungkinan, banyak sekali modus yang alasannya adalah kerja bareng, belajar bareng, atau dagang bareng, tapi ternyata aktifitasnya melenceng dari 4 aspek tadi.
.
Maka sebagai muslim yg taat, kita harus menjaga pergaulan kita, agar terhindar dari namanya ikhtilat ataupun khalwat.
.
#QnASpesial

Mendoakan Seseorang Supaya Jadi Jodoh

Hayoo ngaku siapa nih yang masih suka begini? Hihi
Mendoakan pada dasarnya boleh saja, tetapi harus diingat ya dear, saat kita berdoa kepada Allah, serahkan segala hasilnya pada Allah semata, dan senantiasa berhusnuzhon pada-Nya.
.
Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, “tidak ada kebaikan yang lebih berharga bagi seorang Mukmin kecuali berbaik sangka kepada Allah. Demi dzat yang tiada Tuhan selain Dia, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah kecuali Dia pasti akan memberikan segala prasangka tersebut. Itu karena segala kebaikan ada ditangan-Nya.”
.
Sama seperti shalat istikhoroh, dalam melaksanakannya, hati kita tidak boleh ada kecenderungan pada salah satu pilihan, biarkanlah Allah yang memberi jawaban. Karena Allah Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Sedang kita sangat terbatas pengetahuannya dan bisa jadi pilihan tersebut hanyalah hasutan syaithon, bikin kita maksa pengennya sama si dia ajaa pokoknya! Hati-hati dear, hal tersebut bisa menutup Rahmat dari Allah untuk melihat siapa tau ada seseorang yang lebih baik yang Allah datangkan, namun mata kita “tertutup” karena cuma fokus sama si dia yang kita incer.
.
Semoga Allah segera datangkan jodoh yang terbaik buat shalihat semua yaa 😘
#SesiQnASpesial

Tips Supaya Doa Cepat Dikabulkan

Ingin doa kita cepat dikabulkan?
Perhatikan ayat berikut :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)
.
Jadi teruslah melakukan ketaqwaan pada Allah untuk mengharap ridho dan mencuri perhatian-Nya. Lakukan amalan yang berat untuk kita lakukan dan tidak biasa dilakukan orang lain, maka Allah pun akan melihat usaha kita dan memberi reward sesuai dengan effort yang dikeluarkan (asalkan dilakukan ikhlas lillaahi ta’aalaa).
.
Jangan pernah berhenti berdoa pada Allah karena merasa doa kita tidak kunjung dikabulkan ya dear..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak pula pemutusan hubungan kekerabatan, melainkan Allah akan memberinya salah satu di antara tiga hal: doanya segera dikabulkan, akan disimpan baginya di akhirat, atau dirinya akan dijauhkan dari keburukan yang senilai dengan permohonan yang dipintanya.” Para shahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan banyak berdoa.” Rasulullah menanggapi, “Allah lebih banyak (untuk mengabulkan doa kalian).” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad jayyid; hadits ini berderajat sahih.
.
Jadi kalau doa kita belum juga dikabulkan, bisa jadi ada zat haram di dalam tubuh kita atau dosa yang pernah kita lakukan yang menutup pintu terkabulnya doa. Atau memang belum waktu yang tepat untuk kita. Allah paling tahu timing yang terbaik untuk hamba-Nya.
.
Yuk terus memohon kepada Allah, agar Dia tidak menolak doa kita.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, juga dari doa yang tidak terkabul.”
(H.R. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i; hadits sahih)
.
#SesiQnASpesial

Waspada Tradisi Syirik

Hindari Tradisi Syirik di bulan Muharram!
.
Dear, ada beberapa tradisi yang sering dilakukan untuk menyambut bulan Muharram atau sering juga disebut 1 suro.  Tradisi tersebut diantaranya :
1. Sadranan/larungan, yaitu nasi tumpeng dengan berbagai lauk pauk, dan kepala kerbau yang dihanyutkan ke laut. 
2. Kirab binatang yang dikramatkan.
3. mencuci barang-barang pusaka seperti keris, alat gamelan dll.
4. berebut hasil pertanian yang sudah di kirab (diarak)
Kegiatan ini dilakukan untuk mengharap keberuntungan dan membuang sial, serta mengharap keberkahan dari laut, gunung atau sesuatu yang dipercayai dapat mendatangkan keberuntungan.
.
Hal ini karena pelaku ngalap berkah yang seperti itu, mempunyai keyakinan bahwa ada dzat lain yang mampu mendatangkan keselamatan/berkah serta menolak bahaya selain Allah Ta’ala. .
Dalam pembahasan ilmu agama Islam biasa disebut dengan Tathayyur ( تَطَيُّرْ ) atau Thiyarah ( طِيَرَةٌ ) yakni suatu anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu.
.
Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathayyur ini dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Setelah Islam datang, keyakinan ini dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang untuk memurnikan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah Ta’ala dan membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131)
.
Ya Allah.. Tradisi ini masih marak sekali di sekitar kita. Bahkan menjadi bahasan yang unik dan menarik yang diangkat di berita-berita televisi. 😢
Semoga kita tidak terjebak dalam dosa syirik ya dear.. 😇
.
#WaspadaSyirik

3 Jalan Menuju Hijrah Dan Istiqomah

3 Jalan Menuju Hijrah Dan Istiqomah 
Nah ternyata untuk berhijrah dari aktifitas kemaksiatan menuju ketaatan itu memang butuh Niat dan Action. Untuk actionnya juga butuh langkah-langkah yang harus dipelajari dan jalani, agar proses hijrah ini tidak setengah-setengah tapi kaffah (menyeluruh).
.
Apa aja yang harus ditempuh?
.
1. Aqidah. Jadi Aqidah ini berhubungan dengan pertanyaan WHY/MENGAPA. Nah kita harus mencari jawaban Mengapa aku ada di dunia ini? Mengapa aku harus berislam? Mengapa Tuhan kita Allah? Mengapa harus berimana pada Rosulullah, Al Qur’an, Malaikat, Hari Kiamat, Qadha dan Qadar?. Jika pertanyaan ini sudah didapatkaan secara sempurna dan masuk kedalam logika dari hasil pemikiran kita yang jernih dan cemerlang, insyaAllah Aqidah itu akan menancap kuat dan mengubah peribadi serta perilaku kita menjadi Islami secara otomatis. Aqidah ini, bisa didapatkan jika melakukan kajian-kajian secara intensive. Karena dengan kajian Intensive kita bisa mendapatkan jawaban-jawaban itu secara menyeluruh.
.
2. Ukhuwah. Nah yang dimaksud Ukhuwah ini adalah, manjalin persaudaraan sesama muslim. Walaupun memang seluruh muslim itu bersaudara, tapi jarang sekali yang menjalin atau merekatkan diri dengan muslim yang lainnya. Cara untuk bisa merekatkan ukhuwah ini adalah dengan kita bergabung bersama Jama’ah. Karena dengan berjama’ah kita saling diingatkan dalam ketaatan. Dan dengan berjama’ah, kita tidak midah untuk masuk kedalam aktifitas kemaksiatan.
.
3. Syari’ah. Nah setelah kita mantap dengan Aqidah dan bergabung dalam Jama’ah. Maka kita dengan mudah untuk menerapkan Syari’ah. Penerapan Syari’ah akan menjadi kebutuhan hidup. Bahkan akan menjadi beban hidup jika kita mencoba untuk meninggalkannya.
.
So, itu adalah tips dari Alila untuk kita melangkah Hijrah, dan istiqomah didalamnya. Semoga setelah ini, #lovalila sekalian bisa berusaha untuk menerapkannya. Karena, walaupun ada niat jika tak diseriusi dengan perbuatan mak tak menujukkan hasil apa-apa.

Kisah Pemuda Soleh Mush’ab Bin Umair

Kisah Pemuda Soleh Mush’ab Bin Umair
Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.
Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Ia berkata,
رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ “Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.” Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat.
Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya
Mush’ab bin Umair dilahirkan di masa jahiliyah, empat belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun 571 M (Mubarakfuri, 2007: 54), sehingga Mush’ab bin Umair dilahirkan pada tahun 585 M.
Ia merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy; Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.
Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.”
.
(al-Jabiri, 2014: 19).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ
“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).
Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makana sudah ada di hadapannya.
Demikianlah keadaan Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda kaya yang mendapatkan banyak kenikmatan dunia. Kasih sayang ibunya, membuatnya tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat.
Menyambut Hidayah Islam
Orang-orang pertama yang menyambut dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istri beliau Khadijah, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, dan anak angkat beliau Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhum. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang lain. Ketika intimidasi terhadap dakwah Islam yang baru saja muncul itu kian menguat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam radhiyallahu ‘anhu. Sebuah rumah yang berada di bukit Shafa, jauh dari pengawasan orang-orang kafir Quraisy.
Mush’ab bin Umair yang hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya warsisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya.
Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy.
Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis Rasulullah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.
Menjual Dunia Untuk Membeli Akhirat
Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.
Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus beridiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya. Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.
Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.
Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi No. 2476).
Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim No. 6640).
Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

Keutamaan Bersabar

Mungkin pandangan kita sebagai manusia kepada saudara2 kita di Palu, Lombok, Palestina, Afghanistan, Rohingya dan di belahan dunia manapun yang saat ini terkena musibah adalah suatu bentuk kerugian, sebab banyak yang kehilangan harta benda, nyawa, dan sanak saudara.
Tapi dibalik itu semua Allah berikan ganjaran pahala tanpa batas untuk mereka yang bersabar dalam menjalankan ujian dan sabar dalam menjalankan ketaatan. Jadi sejauh mana kita akan terus mengingat Allah walaupun dalam keadaan susah maupun senang.
Pun pahala tanpa batas untuk kita sebagai saudara-saudari muslim mereka untuk bersabar, terus mendoakan dan memberikan bantuan kepada mereka.
Tak tanggung2, pahala yang Allah berikan itu tanpa batas, tak terhitung jumlahnya yang penghitungannya tidak memakai neraca dan timbangan lagi.
Maa Syaa Allah, yuk mulai sekarang belajar lagi untuk lebih bersabar😊

Saturday

Saturday, told us Humaid bin Mas’adah told us Sufyan bin Habib from Thaur bin Yazid from Khalid bin Ma’dan from Abdullah bin Busr from his sister that the Prophet sallallaahu ‘alaihi wasallam said: “Do not fast on Saturday unless God requires fasting on that day, if on that day you do not find except a grape or a tree then chew it “. Abu ‘Isa said, this is a hasan hadith. The purpose of fasting on Saturday is if he dedicates fasting on Saturday, because the Jews glorified Saturday. (Tirmidhi)
And told us Abu Kuraib and Washil bin Abdul A’la both said, told us Ibn Fudlail from Abu Malik Al Asyja’i from Abu Hazim from Abu Hurairah from Rab’i bin Hirasy from Hudzaifah both said; The Prophet sallallaahu ‘alaihi wasallam said: “Allah misled those who were before us about Friday. For the Jews it fell on Saturday, and for the Christians it fell on Sunday. Then Allah appointed us on Friday. Therefore , there were three consecutive days of gathering (big days), namely Friday, Saturday and Sunday. The Last Day, they will follow us too, we are the last to the world, but we are the first to be tried before the other people . ” While in the history of Washil; “Those tried between them.” Having told us Abu Kuraib had told us Ibn Abu Za`idah from Sa’d bin Thariq had told me Rib’i bin Hirasy from Hudzaifah he said; The Prophet sallallaahu ‘alaihi wasallam said: “We are shown by Friday, while Allah has misled the people before us from him.” And he also mentions the hadith which is similar to Ibn Fudlail’s hadith. (Muslim)
Having told us Abdul Malik bin Shu’aib, told us Ibn Wahb, he said; I heard Al Laits tell from Ibn Shihab that if he mentioned to him that he forbade from fasting on Saturday Ibn Shihab said; this is the hadith of Himshi. Having told us Muhammad bin Ash Shabah bin Sufyan, had told us Al Walid of Al Auza’i, he said; I still hid it until I saw it spread. What he meant was Abdullah bin Busr’s hadith who spoke about fasting on Saturday. Abu Daud said; Malik said; this is a lie. (Abu Daud)