Hadits Malik No. 842

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk Makkah saat penaklukan, sementara pada kepalanya terdapat penutup sebagai pelindung. Tatkala beliau melepaskannya, ada seorang laki-laki datang kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, Ibnu Khathal terikat di tirai Ka’bah! ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bunuhlah.” Malik berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam waktu itu tidak dalam keadaan ihram. Wallahu A’lam.”

(HR. Malik: 842)

Hadits Malik No. 386

“Saya menyaksikan Ied bersama Umar bin Khatthab . Dia shalat kemudian bangun dan berkhutbah di hadapan orang-orang seraya berkata; ‘Ada dua hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk berpuasa; hari raya Idul Fitri kalian ini, dan hari di mana kalian memakan binatang kurban.” Abu Ubaid berkata; “Saya juga pernah menyaksikan shalat Ied bersama Utsman bin Affan . Dia datang dan shalat, kemudian bangun berkhutbah; “Sesungguhnya telah terkumpul di hari kalian ini dua Ied. Siapa yang jauh tempat tinggalnya, namun ingin menunggu shalat jum’at, maka hendaklah ia menunggu. Dan barangsiapa ingin pulang, maka saya telah mengijinkannya.” Abu Ubaid berkata; “Saya menyaksikan Ied bersama Ali bin Abu Thalib ketika Utsman terkepung, dia datang dan shalat, kemudian bangun dan berkhutbah.”

(HR. Malik: 386)

Hadits Ahmad No. 9101

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dengan kalimat-kalimat berikut; ALLAHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABINNAAR WA MIN ‘ADZAABIL QABRI WA MIN FITNATIL MAHYA WAL MAMAAT WA MIN SYARRIL MASIIHID DAJJAL (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kamatian, dan dari buruknya Al Masih Dajjal).”

(HR. Ahmad: 9101)

Hadits Ahmad No. 11305

“Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi-bagikan (harta fai`) kepada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah arab, sedangkan orang-orang Anshar tidak mendapatkan apa-apa, maka dalam hati mereka pun muncul kemarahan hingga banyak ucapan-ucapan yang tidak enak keluar. Sampai-sampai salah seorang dari mereka berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bertemu dengan kaumnya!” maka Sa’d bin Ubadah menghadap Rasulullah seraya berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya timbul di dalam hati penduduk wilayah ini (Anshar) kemarahan kepadamu, karena keputusan yang engkau buat berkenaan dengan harta fai` yang engkau dapat, engkau telah membagi-bagikan kepada kaummu dan memberikan kepada kabilah-kabilah arab dengan pemberian yang banyak, sedang penduduk wilayah ini tidak mendapatkan apa-apa, ” beliau bersabda: “Lalu dalam masalah ini engkau sendiri bagaimana wahai Sa’d?” Sa’d berkata; “Wahai Rasulullah, aku hanyalah bagian dari kaumku.” Beliau bersabda: “Kumpulkanlah kaummu untuk menghadapku di kandang ternak ini.” Abu Sa’id berkata; “Lalu datanglah beberapa laki-laki dari kaum muhajirin namun beliau mengabaikannya, lalu mereka masuk dan datang lagi yang lain namun beliau tetap menolak. Maka ketika orang-orang Anshar telah berkumpul, Sa’d mendatangi beliau dan berkata; “Orang-orang Anshar telah berkumpul untukmu wahai Rasulullah, ” Abu Sa’id berkata; “Lalu beliau mendatangi mereka, beliau lalu mengucapkan tahmid dan memuji Allah dengan pujian-pujian yang layak untuk-Nya. Setelah itu beliau bersabda: “Wahai orang-orang Anshar, telah sampai kepadaku ucapan-ucapan yang tidak enak, serta kebencian yang kalian dapatkan dalam hati kalian, bukankah aku datang sedang kalian dalam kesesatan lalu aku beri petunjuk? Kalian dalam keadaan fakir lalu Allah kayakan kalian? Kalian saling bermusuhan lalu Allah satukan hati kalian?” Mereka menjawab, “Bahkan, Allah dan Rasul-Nya lebih berharga dan utama, ” beliau bersabda: “Tidak maukah kalian memenuhi panggilanku wahai kaum Anshar?” mereka menjawab; “Dengan apa kami harus memenuhi penggilanmu wahai Rasulullah, sedang keutamaan ada pada Allah dan Rasul-Nya?” beliau bersabda: “Demi Allah, sekiranya kalian mau, kalian akan mengatakannya, kalian benar-benar akan berkata jujur dan kalian dipercaya; ‘engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan lalu kami membenarkanmu, engkau datang dalam keadaan dihinakan lalu kami menolongmu, engkau diusir lalu kami memberimu tempat, engkau dalam keadaan kekurangan lalu kami mengkayakanmu.” Wahai kaum Anshar, apakah kalian mendapatkan dalam hati kalian sesuatu terhadap sisa harta dunia (harta fai`) yang dengannya aku melunakkan suatu kaum agar mereka mau masuk Islam, dan aku serahkan keIslaman kalian kepada kalian? Wahai kaum Anshar, tidak ridlakah kalian jika orang-orang kembali dengan membawa kambing dan unta sedang kalian kembali ke rumah kalian dengan membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, kalau bukan karena hijrah sungguh aku adalah bagian dari orang Anshar, sekiranya manusia melewati suatu lembah lalu orang-orang Anshar melewati lembah yang lain, maka aku akan melewati lembah yang dilalui orang Anshar. Ya Allah, sayangilah orang-orang Anshar, anak-anak Anshar, serta anak cucu Anshar.” Abu Sa’id berkata; “Maka menangislah orang-orang Anshar hingga jenggot mereka basah, lalu mereka berkata; “Kami rela Rasulullah sebagai bagian kami, ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berlalu dan kami juga membubarkan diri.”

(HR. Ahmad: 11305)

Hadits Ahmad No. 14202

“Jika seorang masuk rumahnya hendaklah dia mengucapkan salam, seorang mukmin makan dengan satu usus” (Jabir bin Abdullah radliyallahu’anhuma) berkata; Ya. Saya (Abu Az Zubair Radliyallahu’anhu) bertanya pada Jabir, Apakah kamu mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang masuk rumahnya lalu menyebut nama Allah ketika dia masuk dan ketika dia makan maka setan berkata; ‘tidak ada tempat bermalam untukku pada kalian, dan tidak ada makan malam di sini’. Jika dia masuk dan tidak menyebut nama Allah ketika masuknya maka setan berkata; ‘kalian telah meninggalkan tempat tinggal untukku, dan jika dia tidak menyebut nama Allah ketika makan maka setan berkata; ‘kalian telah meninggalkan tempat tinggal dan hidangan malam untukku’. (Jabir bin Abdullah radliyallahu’anhuma) berkata; Ya.

(HR. Ahmad: 14202)