Larangan Puasa Wishal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melakukan puasa wishal, janganlah kalian melakukan wishal! ” mereka bertanya; “Bukankah anda melakukan wishal, wahai Rasulullah?” beliau menjawab; “Keadaanku tidak seperti keadaan kalian. Ketika malam hari, Rabbku memberiku makan dan minum.”

(HR. Malik)

Keutamaan Surat Al Ikhlas

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari ‘Ubaidullah bin Abdurrahman dari ‘Ubaid bin Hunain mantan budak keluarga Zaid bin Khattab, dia berkata; Aku mendengar Abu Hurairah berkata, “Ketika aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, terdengarlah seseorang membaca ‘QUL HUWALLAHU AHAD’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Telah wajib.” Aku lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, apa?” Rasulullah menjawab: “Masuk surga.” Abu Hurairah berkata, “Lalu aku berkeinginan menemui orang tersebut dan menyampaikan kabar gembira ini. Tetapi aku tidak mau kehilangan kesempatan makan siang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga aku pun akhirnya lebih mengutamakan makan siang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu aku pergi menemui laki-laki (beruntung) itu, namun ternyata ia telah pergi.”

(HR. Malik)

5 Kunci Perkara Ghaib

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Kunci perkara ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok kecuali Allah.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam rahim-rahim kecuali Allah.

Tidak ada yang tahu kapan datangnya hujan kecuali Allah.

Tidak ada seorangpun yang tahu dimana dia akan meninggal.

Dan tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah.”

(HR. Bukhari)

IG : @islam_nasehat
Blog : http://www.islam-nasehat.tk

Orang Munafik Di Zaman Rasulullah

“Bahwa beberapa orang munafik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila beliau pergi berperang mereka tidak turut berperang dan merasa bangga dengan duduk-duduknya (nongkrong-nongkrongnya) untuk menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah kembali (membawa kemenangan dan harta rampasan perang), mereka mengemukakan alasan mereka masing-masing, mengapa mereka tidak turut berperang dan menguatkan alasannya dengan sumpah.

Kemudian mereka ingin dipuji (seolah-olah merekalah yang pahlawan) padahal mereka tidak berbuat apa-apa. Karena itu turunlah ayat: ‘Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka ingin dipuji terhadap perbuatan yang tidak mereka kerjakan, janganlah kamu mengira bahwa mereka akan terlepas dari siksa…’ (QS Ali Imraan (3):! 88).

(HR. Muslim)