Kisah Sahabat Anas bin Malik

“Ya Allah, limpahkanlah harta dan anak kepadanya dan keberkahan untuknya.”

(Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Anas bin Malik)

Usia Anas masih sangat muda, ketika ibunya al-Ghumaisha mentalqinnya dengan dua kalimat syahadat. Ibunya mengisi hatinya yang bersih dengan kecintaaan kepada Nabi al-Islam Muhammad bin Abdullah.

Maka di benak Anas pun mulai tumbuh rasa cinta kepada Rasul sekalipun dia belum pernah bersua dengan Nabi yang mulia tersebut, hanya mendengar kisah beliau sebatas dari orang ke orang.

Tidak mengherankan, karena terkadang telinga lebih dulu merindukan sesuatu daripada mata.

Betapa seringnya Anas kecil berangan bisa berkelana menemui Nabinya di Mekah atau beliau bisa dating kepada mereka di Yatsrib sehingga dia bisa berbahagia karena bisa melihatnya dan tenteram karena berjumpa dengannya.

Angan-angan itu dalam waktu dekat ternyata telah berubah menjadi kenyataan, Yatsrib yang membanggakan dan berbahagia mendengar bahwa Nabi dan shahabatnya, ash-Shiddiq, sedang dalam perjalanan ke arahnya. Maka keceriaan menaungi setiap rumah dan kebahagiaan menyelimuti semua hati.

Mata dan hati bergayut dengan jalan yang penuh berkah, jalan yang membawa langkah nabi dan shahabbatnya ke Yatsrib.

Anak-anak muda bergumam setiap cahaya pagi bersinar, Muhammad telah datang.

Maka Anas bersama anak-anak kecil lainnya berlari-lari hendak menyambutnya, namun dia pun pulang dengan sedih lagi kecewa.

Di suatu pagi yang indah yang penuh asa dan keceriaannya yang semerbak, orang-orang Yatsrib pun saling berbisik satu sama lain, “Muhammad dan shahabatnya telah berjalan mendekati Madinah.”

Maka orang banyak pun berhamburan ke jalan-jalan yang penuh berkah, jalan yang membawa Nabi petunjuk dan kebaikan kepada mereka.

Mereka berondong-bondong menyambut kedatangan beliau secara bergelombang, kelompok demi kelompok, disela-sela mereka ada sekumpulan anak-anak yang tak kalah bersemangat, wajah-wajah mereka dihiasi kebahagiaan dan menyatu dengan hati kecil mereka serta yang penuh suka cita memenuhi jiwa mereka yang jernih.

Di barisan depan anak-anak tersebut adalah Anas bin Malik al-Anshari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shahabatnya ash-Shiddiq datang, keduanya berjalan di antara kumpulan orang-orang dewasa dan anak-anak dalam rombongan yang besar.

Adapun kaum wanita dan gadis-gadis remaja yang biasa tinggal di rumah, mereka naik ke atap-atap rumah, mereka ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bergumam, “Yang Mana dia? Yang mana dia?”.

Hari itu adalah hari yang tidak terlupakan. Anas bin Malik senantiasa mengingatnya sampai dia berumur seratus tahun lebih.

Tidak lama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah, al-Ghumaisha binti Milhan, datang kepada beliau dengan disertai Anak anak laki-lakinya yang masih kanak-kanak, anak laki-laki itu berlarian di depan ibunya dengan ujung rambut yang jatuh di keningnya.

Al-Ghumaisha mengucapkan salam kepada Nabi dan dia berkata, “Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semua laki-laki dan wanita dari Anshar telah memberimu hadiah, tetapi aku tidak mempunyai apa pun yang bisa aku jadikan hadiah untukmu selain anak laki-lakiku ini. Terimalah dia, dan dia akan berkhidmat kepadamu sesuai dengan apa yang engkau inginkan.”

Nabi berbahagia, beliau memandang anak muda ini dengan wajah berseri-seri, beliau mengusap kepalanya dengan tangan beliau yang mulia, menyentuh ujung rambutya dengan jari-jemari beliau yang lembut dan beliau menganggapnya sebagai keluarga.

Anas bin Malik atau Unais (Anak kecil), begitu terkadang mereka memanggilnya sebagai ungkapan sayang kepadanya, berumur sepuluh tahun manakala dia berbahagia bisa berkhidmat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anas hidup di samping Nabi dan berada di bawah bimbingan beliau sampai Nabi berpulang ke ar-Rafiq al-A’la yaitu selama kurang lebih 10 tahun.

Selama itu Anas memperoleh bimbingan dari Nabi yang dengannya dia menyucikan jiwanya, mwmahami hadits beliau yang memenuhi dadanya, mengenal akhlak beliau yang agung, rahasia-rahasia dan sifat-sifat terpuji beliau yang tidak dikenal oleh orang lain.

Anas bin Malik mendapatkan perlakuan yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah diperoleh oleh seorang anak dari bapaknya. Mengenyam keluhuran perangai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keangungan sifat-sifatnya yang membuat dunia patut untuk iri kepadanya.

Biarkanlah Anas sendiri yang menyampaikan sebagian lembaran cemerlang dari perlakuan mulia yang dia dapatkan di bawah naungan seorang nabi yang pemurah dan berhati mulia, karena Anas lebih tahu tentangnya dan lebih berhak untuk menceritakannya.

Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan melaksanakan tugas Rasul, aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tersenyum, beliau bersabda, “Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Maka aku pun salah tingkah aku menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Demi Allah, aku telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku lakukan, “Mengapa kamu melakukan ini?” Beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku tinggalkan, “Mengapa kamu tinggalkan ini?”

Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Anas, terkadang beliau memanggilnya dengan Unais sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang, dan di lain waktu Nabi memanggilnya, Wahai anakku.

Nabi memberikan nasihat-nasihat dan petuah-petuah beliau yang memenuhi hati dan jiwanya.

Di antara nasihat-nasihat itu adalah sabda Nabi kepadanya:

“Wahai anakku, jika kamu mampu mendapatkan pagi dan petang sementara hatimu tidak membawa kebencian kepada seseorang, maka lakukanlah. Wahai anakku, sesungguhnya hal itu termasuk sunahku, barangsiapa menghidupkan sunahku maka dia mencintaiku. Barangsiapa mecintaiku maka berarti dia bersamaku di surga. Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, karena ia merupakan keberkahan bagimu dan keluargamu.”

Anas bin Malik hidup setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat selama delapan puluh tahun lebih, selama itu Anas mengisi dada umat dengan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung dan menumbuhkan akal pikiran mereka dengan fikih kenabian.

Selama itu Anas menghidupkan hati umat dengan petunjuk Nabi yang dia sebarkan diantara para sahabat dan tabiin, dengan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berharga dan perbuatan-perbuatan beliau yang mulia yang dia tebarkan di antara manusia.

Dengan umurnya yang panjang, Anas menjadi rujukan bagi kaum muslimin di masa hidupnya, mereka bertanya kepada Anas tentang hal itu, Anas pun berkata, “Aku tidak pernah menyangka akan bisa hidup sehingga aku melihat orang-orang seperti kalian yang berdebat dalam perkara telaga Nabi, sungguh aku telah meninggalkan wanita-wanita tua di belakangku, setiap dari mereka tidak melakukan shalat terkecuali dia memohon kepada Allah agar memberinya minum dari telaga Nabi.

Anas bin Malik terus hidup bersama kenangannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama kehidupan berlangsung.

Dia sangat berbahagia pada hari pertemuannya dengan beliau, sangat bersedih di hari perpisahannya dengan beliau, sangat sering mengulang-ulang sabda beliau.

Dia sangat bersungguh-sungguh untuk mengikuti beliau dalam sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau, mecintai apa yang beliau cintai, membenci apa yang beliau benci. Dua hari yang paling diingat oleh Anas dalam hidupnya: Hari pertama kali pertemuannya dengan Nabi dan hari perpisahannya dengan beliau untuk terakhir kali.

Bila Anas teringat hari pertama, maka dia berbahagia dan bersuka cita, namun jika hari kedua terlintas di benaknya maka dia menangis berduka, membuat orang-orang yang di sekelilingnya ikut menangis.

Anas sering berkata, “Sungguh aku telah melihat hari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami dan aku juga melihat hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami. Aku tidak melihat dua hari yang menyerupai keduanya. Hari kedatangan belau di Madinah, segala sesuatu di sana bercahaya. Tetapi di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir menghadap kepada Rabbya, segala sesuatu terasa gelap gulita.

Pandangan terakhirku kepada beliau terjadi di hari Senin, ketika kain penutup kamar beliau dibuka, aku melihat wajah beliau seperti kertas mushaf, pada saat itu banyak orang berdiri di belakang, Abu Bakar memberi isyarat kepada mereka agar tetap berada di tempat.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di pagi hari itu. Kami tidak pernah melihat suatu pemandangan yang paling kami kagumi daripada wajah beliau manakala kami memasukkan tanah ke kubur beliau.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk Anas bin Malik lebih dari sekali.

Di antara doa Nabi untuknya:

“Ya Allah, limpahkanlah harta dan anak kepadanya, berkahilah dia padanya.”

Allah Ta’ala mengabulkan doa Nabi. Anas menjadi orang Anshar yang palik banyak hartanya, paling banyak keturunannya, sampai-sampai dia melihat anak-anak dan keturunannya melebihi angka seratus.

Allah Ta’ala memberkahi umurnya sehingga dia hidup selama 103 tahun.

Anas sangat berharap mendapatkan syafaat Nabi di hari Kiamat, Anas sering berkata, “Sesungguhnya aku berharap bisa bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Kiamat, lalu aku berkata kepada beliau, “Aku adalah pelayan kecilmu, Unais.”

Ketika Anas sakit, sebelum wafatnya, dia berkata kepada keluarganya, “Talqinlah aku dengan Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadur Rasulullaah.” Maka Anas senantiasa mengucapkannya sampai dia meninggal.

Anas mewasiatkan agar mengubur tongkat kecil milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersamanya, maka tongkat itu diletakkan disampingnya.

Selamat untuk Anas bin Malik al-Anshari yang telah mendapatkan limpahan kebaikan dari Allah. Dia hidup dalam bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung selama sepuluh tahun sempurna.

Dia adalah orang ketiga setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah membalasnya dan membalas ibunya atas apa yang dia berikan untuk Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baiknya balasan.

Kenikmatan Untuk Anas Bin Malik

Anas (bin Malik) berkata;
.
Pada suatu hari saya bersama ibuku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibuku menyelimutiku dengan separuh kerudungnya dan separuhnya lagi untuk menyelendangi saya.
.
Ibuku berkata; ‘Ya Rasulullah, inilah Unais (panggilan Anas ketika masih kecil), putra saya. Saya ajak ia kemari agar kelak membantu engkau. Oleh karena itu, doakanlah untuknya!
.
Kemudian Rasulullah berdoa untuk Anas; “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya!”
.
Di kemudian hari Anas berkata; Demi Allah, harta saya sekarang sungguh banyak sekali, anak dan cucu saya kini telah mencapai seratus orang lebih.”
.
(HR.Muslim)

Exemplary Mother Anas bin Malik

Who among us knows Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, a loyal aide of the Prophet sallallaahu‘ alaihi wa sallam and one of his close friends?

Anas is one of the seven friends who most narrated the hadith of the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam. He is the last friend who died in Basra after more than a hundred years.

Like a college, Anas bin Malik has “graduated” great scholars in history. For example, Hasan Al-Basri, Ibn Sirin, Ash-Sya’bi, Abu Qilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Thabit Al-Bunani, Ibn Shihab Az-Zuhri, Qatadah As-Sadusi, and others.

Since his first meeting with the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam, Anas immediately became his closest person. He was not merely a loyal servant of the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam. More than that, he seemed to be his “personal assistant”. As a personal assistant, surely the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam specialized Anas in certain problems unknown to other friends.

Anas is a lucky friend thanks to the prayer of the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam. He prayed, “O God, multiply the wealth and offspring, and extend his age.” Armed with the Prophet’s prayer, he gathered several features: longevity, many children, abundant wealth, and extensive knowledge.

That said, he reached 103 years old. His descendants reach hundreds of people. In fact, according to the narrative of one of his daughters named Umainah, since his father had descended until he arrived at Hajjaj bin Yusuf in Basrah, 129 of his grandchildren had been buried.

Regarding his wealth, it is narrated that Anas had a garden that produced fruit twice a year, even though other gardens were only once. In addition, the garden also gives off a fragrant scent of musk.

One of his closest students, Tsabit Al-Bunani, said, “There is someone who wants to assess Anas’s land. So the person asked, “Did your land experience drought?” But without saying much, Anas immediately stepped into a field. He then prayed then raised his hands while praying to Allah. Then immediately a giant cloud appeared that covered the ground. A moment later the rain fell so hard that Anas’s oasis was filled with water, even though it was the dry season. Anas then sent a portion of his family to check to what extent the area affected by the rain. It turned out that the rain barely exceeded his own land. “

Obviously, this is God’s word for Anas, and this story is true because it is narrated from two different paths and both are authentic. As stated by Adz-Dzahabi in his Siyar.

Behind him is Ummu Sulaim, his mother

Children are not born from a hemisphere. His intelligence does not just appear. There was a big role from Ummu Sulaim, the mother of Anas bin Malik, who colored the character’s life. In his Siyar, Adz-Dzahabi narrates with his sanad from Anas.

He said, “Once the Prophet visited Umm Sulaim’s house. As soon as my mother found out about the visit of the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam, he immediately presented him dates and samin oil. ‘Just return your dates and samin oil to where they were, because I was fasting, ‘said the Prophet sallallaahu‘ alaihi wa sallam to my mother. After that, the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam rose to one side of my house, then prayed the two rak’ah sunnah and prayed for the good of Umm Sulaim and his family.

So, the mother said to her, ai O Messenger of Allah, I have a special gift for you. ‘What is that?’ Asked the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam. ‘People who are ready to help you, Anas, ‘answered the mother.

Immediately it was the Prophet sallallaahu aih alaihi wa sallam offering prayers for me, so that there was not a single one left from the kebab world and the hereafter but he prayed for me. ‘O Allah, gift him wealth and offspring, and bless both of them for him, ‘said the Prophet sallallaahu‘ alaihi wa sallam in his prayer. Thanks to this prayer, I became the most wealthy Ansar, “Anas said, ending his story.

In another narrative, Anas bin Malik recounts, “When the Prophet sallallaahu‘ alaihi wa sallam arrived in Medina I was only eight years old. At that time, the mother led me to face the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam while saying,‘ O Messenger of Allah, there is no remaining Ansar unless it comes to you with a special gift. However, I can’t give you a present except my son, so take him and have him help you whenever you want. ‘

It was also told that at that time, Umm Sulaim had covered Anas with half his headscarf, and had partially wrapped it in his gown, then presented it to the Messenger of Allah.

Allah is the Greatest!! How great his love for the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam was that he was willing to present his baby who was only eight years old. Really, his attitude is a valuable lesson for everyone who preaches “love the Apostle”, but is reluctant to sacrifice for him. May Allah bless you, O Ummul Sulaim.

Get to know Umm Sulaim

Ibn Abdil Barr said that historians differed on the actual name of Um Sulaim, whether his name was Sahlah, Rumailah, Rumaitsah, Unaifah, or Mulaikah? However, what is clear is that the nickname is Rumaisha or Ghumaisha.

He is one of the inhabitants of Jannah, as implied in the following hadith,

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال قال النبي صلى الله عليه وسلم رأيتني دخلت الجنة فإذا أنا بالرميصاء امرأة أبي طلحة

From Jabir, that the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam said,” When I entered jannah, I suddenly saw there was Rumaisha ‘, wife of Abu Talha. “(Narrated by Al-Bukhari).

وعن ثابت عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال دخلت الجنة فسمعت خشفة فقلت من هذا قالوا هذه الغميصاء بنت ملحان أم أنس بن مالك

In the hadith of Anas it is said, that when entering jannah, the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam heard the sound of someone’s uncomplicated. “Whose voice is this?” He asked. The angels said, “That’s the voice of Ghumaisha ‘binti Milhan, mother of Anas bin Malik.” (Narrated by Muslim).

Umm Sulaim is a brilliant woman. Besides being smart, he is also patient and courageous. These three noble qualities declined to Anas and colored his temperament later on. Yes, intelligence usually produces intelligence, patience gives birth to patience, and courage gives birth to courage.

Before marrying Abu Talha, her husband was Malik bin Nadhar, Anas’s father. When Islamic da’wah was heard by Ummul Sulaim, he and his people immediately declared their Islam. Umm Sulaim then offered Islam to her husband who was still idolatrous. But unexpectedly, Malik was angry with him and left him. Malik finally went to the land of Syria and died there.

Intelligence of Umm Sulaim

After his first husband died, Umm Sulaim married Abu Talha. When asking for his hand, Abu Talha was still in a state of idolatry. So that Ummul Sulaim refused his proposal until Abu Talha wanted to convert to Islam. Anas tells this story from his mother.

“It’s really inappropriate for a polytheist to marry me. Do you not know, O Abu Talha, that your idols are carved by slaves from my tribe, “Ummul Sulaim sneered. “Even if you flare with fire, he will burn,” he continued again.

So Abu Talha turned to his house. However, the words of Ummul Sulaim were deeply imprinted on his heart. “That’s true,” he murmured. Shortly thereafter, Abu Talha declared his Islam. “I have accepted the religion that you offer,” Abu Talha said to Umm Sulaim. Then their marriage took place. “And Um Sulaim did not ask for anything dowry besides the Islamic nature of Abu Talha,” said Anas.

The fortitude of Um Sulaim

From his marriage to Ummul Sulaim, Abu Talha was blessed with two children. One of them he admired very much, his name was Abu ‘Umair. But unfortunately, Abu ‘Umair did not live long. He was called by God when he was a child.

Anas said, “Once, Abu‘ Umair was seriously ill. When the call to prayer reverberates, Abu Talha usually goes to the mosque. On the way to the mosque, his son (Abu ‘Umair) was called by Allah.

Ummul Sulaim quickly dressed the body of his son, then laid him on the bed. He advised Anas not to tell Abu Talha about the death of his favorite child. Then, he prepared a dinner meal for her husband.

After returning from the mosque, as usual Abu Talha ate his dinner and then married his wife. At the end of the night, Ummul Sulaim said to her husband, “What do you think about the Fulan family, they borrow something from other people, but when asked, they do not want to return it, object to the withdrawal of the loan.”

“They have acted unfairly,” Abu Talha said.

“Know, in fact your son is a loan from God, and now God has taken it back,” Umul Sulaim said softly.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un … All praise be to you, O God, “Abu Talha said with resignation.

Blessed descendants

After delivering the departure of his baby, the next day Abu Talhah faced the Messenger of Allah sallallaahu ‘alaihi wa sallam. When he met him face to face, he said, “May Allah bless you both tonight.” So, that night Umm Sulaim was pregnant again, containing Abdullah bin Abu Talha.

After giving birth to her baby, Umm Sulaim told Anas to meet the Prophet by carrying the tiny baby while carrying a few dates ma ajwah. Anas said, “When I arrived at the house of the Prophet sallallaahu aih alaihi wa sallam, I found that he was giving the camel a stamp.”

“O Messenger of Allah, last night Um Sulaim gave birth to his child,” I said. So he picked up the dates that I brought and chewed with his saliva, then fed the baby. The little baby suck the date with the tip of her tongue. So the Prophet smiled while saying, “Indeed, the favorite food of the Ansar is dates.”

“Name him, O Messenger of God,” I told him.

“His name is Abdullah,” replied the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam.

The Prophet’s prayer to Abu Talha turned out to not only make him have children. However, the child (Abdullah) later grew into a righteous child who was blessed with seven descendants who were righteous. According to the narrator of one narrator named ‘Abayah, the seven sons of Abdullah bin Abi Talhah had observed the Koran when they were little.

Courage of Ms. Sulaim

The figure of a woman like Umm Sulaim is difficult to match. Besides being intelligent and patient, he is also a brave man. Anas relates that one day Abu Talha passed Umm Sulaim during the Hunain war. He saw that there was a knife in his hand, then Abu Talha immediately reported to the Prophet about Ummul Sulaim, “O Messenger of Allah, see Ummul Sulaim out of the house carrying a knife,” Abu Talha said.

“O Messenger of Allah, I prepared this knife to tear the idolaters who dare to approach me,” replied Um Sulaim.

According to Adz-Dhahabi, Umm Sulaim also took part in the battle of Uhud with the Prophet. At that time he was also found carrying a knife.

The love of Umm Sulaim towards the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam

As mentioned earlier, Ummul Sulaim presented his son Anas to the Prophet sallallaahu aih alaihi wa sallam, even though he was only eight or ten years old. This was clearly encouraged by his great love for the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam.

On another occasion, once upon a time, the Messenger of Allaah alaihi wa sallam took a nap at the home of Ummul Sulaim. Because Umm Sulaim is a modest woman, she only has a leather mat as the bedspread of the Prophet. Because of the heat, the Prophet sallallaahu aih alaihi wa sallam sweated to wet the mat, then he woke up. Seeing the sweaty mat earlier, immediately Umm Sulaim took a bottle and then painstakingly squeezed the mat and collected the Nabawi sweat in the bottle.

Seeing his actions, the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam asked in amazement,” What are you doing? “

“I am taking blessings that come out of your body,” replied Um Sulaim.

It is reported that Umm Sulaim then mixed the Prophet’s sweat in his fragrance.

Anas said that the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam had never entered the house of another woman besides Umm Sulaim. When asked, he said that he was sorry for Umm Sulaim, because his siblings were killed in a war with him.

Adz-Dzahabi mentioned that his sibling was named Haram bin Milhan who was martyred in the Bi’r Ma’unah tragedy. He was the one who said, “By God, I’m lucky!” When he was stabbed by the spear from behind to penetrate his chest.

One time, the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam entered the home of Umm Sulaim. There, he saw a flurry of water hanging on the wall, then he drank it while standing. So immediately Umm Sulaim took the flurry and cut the geriba’s mouth in contact with the mouth of the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam, then saved it.

Look at how his love for the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam, until he did not waste anything related to his noble body.

The same thing happened to his son, Anas. Once upon a time, Anas said, “I never missed one night, but I dreamed of meeting my beloved (the Prophet sallallaahu aih alaihi wa sallam).” Then, tears widened.

It is also reported that Anas wears a ring engraved on him, ‘Muhammadun Rasulullah’. So every time I want to defecate, the ring is released.

Ummul Sulaim’s Scientific Heritage

According to Adz-Dhahabi, Um Sulaim narrated fourteen hadith from the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam. One of them is muttafaq ‘alaih, one special hadith narrated by al-Bukhari, and two hadiths by Muslims.

Umm Sulaim died at the time of the Caliphate of Uthman ibn Affan. May Allah bless him and place him in the highest paradise, along with the Prophets, Siddiqin, martyrdom, and piety.

Kisah Teladan Ibunda Anas Bin Malik

Dear #Lovalia yuk kita kenali ibunya Anas bin Malik, .
Anas Bin Malik adalah sahabat terakhirnya Rasulullah yang telah banyak me”luluskan” para ulama-ulama hebat dalam sejarah
.
Dibalik kecerdasannya Anas Bin Malik ada
peran besar dari Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik, yang mewarnai kehidupan sang tokoh. Dalam Siyar-nya, Adz-Dzahabi meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas.
.
Katanya, “Suatu ketika Nabi berkunjung ke rumah Ummu Sulaim. Begitu ibuku tahu akan kunjungan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia segera menyuguhkan kepadanya kurma dan minyak samin. ‘Kembalikan saja kurma dan minyak saminmu ke tempatnya semula, karena aku sedang berpuasa,’ kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ibuku. Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit menuju salah satu sisi rumahku, kemudian shalat sunnah dua rakaat dan mendoakan kebaikan bagi Ummu Sulaim dan keluarganya.
.
Maka, ibu berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki hadiah khusus bagimu.’ ‘Apa itu?’ tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Orang yang siap membantumu, Anas,’ jawab ibu.
.
Seketika itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan doa-doa untukku, hingga tak tersisa satu pun dari kebikan dunia dan akhirat melainkan beliau doakan bagiku. ‘Ya Allah, karuniailah ia harta dan anak keturunan, serta berkahilah keduanya baginya,’ kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doanya. Berkat doa inilah, aku menjadi orang Anshar yang paling banyak hartanya,” kata Anas mengakhiri kisahnya
.
Ummu Sulaim cerdas
Setelah suami pertamanya mangkat, Ummu Sulaim menikah dengan Abu Thalhah. Ketika meminangnya, Abu Thalhah masih dalam keadaan musyrik. Sehingga Ummu Sulaim menolak pinangannya tersebut sampai Abu Thalhah mau masuk Islam. Anas mengisahkan cerita ini dari ibunya.
.
“Sungguh tidak pantas seorang musyrik menikahiku. Tidakkah engkau tahu, wahai Abu Thalhah, bahwa berhala-berhala sesembahanmu itu dipahat oleh budak dari suku anu,” sindir Ummu Sulaim. “Jika kau sulut dengan api pun, ia akan terbakar,” lanjutnya lagi.
.
Maka Abu Thalhah berpaling ke rumahnya. Akan tetapi, kata-kata Ummu Sulaim tadi amat membekas di hatinya. “Benar juga,” gumamnya. Tak lama kemudian, Abu Thalhah menyatakan keislamannya. “Aku telah menerima agama yang kau tawarkan,” kata Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim. Maka berlangsunglah pernikahan mereka berdua. “Dan Ummu Sulaim tak meminta mahar apa pun selain keislaman Abu Thalhah,” kata Anas.
.
Ketabahan Ummu Sulaim
.
Dari pernikahannya dengan Ummu Sulaim, Abu Thalhah dikaruniai dua orang anak. Satu di antaranya amat ia kagumi, namanya Abu ‘Umair. Namun sayang, Abu ‘Umair tak berumur panjang. Ia dipanggil oleh Allah ketika masih kanak-kanak.
.
Anas bercerita, “Suatu ketika, Abu ‘Umair sakit parah. Tatkala azan isya berkumandang, seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke mesjid. Dalam perjalanan ke mesjid, anaknya (Abu ‘Umair) dipanggil oleh Allah.
.
Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani jenazah anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. Ia berpesan kepada Anas agar tidak memberi tahu Abu Thalhah tentang kematian anak kesayangannya itu. Kemudian, ia pun menyiapkan hidangan makan malam untuk suaminya.
.
Sepulangnya dari mesjid, seperti biasa Abu Thalhah menyantap makan malamnya kemudian menggauli istrinya. Di akhir malam, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, “Bagaimana menurutmu tentang keluarga si fulan, mereka meminjam sesuatu dari orang lain, tetapi ketika diminta, mereka tidak mau mengembalikannya, merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.”
“Mereka telah berlaku tidak adil,” kata Abu Thalhah.
.
“Ketahuilah, sesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali,” kata Ummu Sulaim lirih.
.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…. Segala puji bagi-Mu, ya Allah,” ucap Abu Thalhah dengan pasrah.
.
Keturunan yang diberkati
.
Selepas mengantarkan kepergian buah hatinya, keesokan harinya Abu Thalhah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala bertatap muka dengannya, beliau mengatakan, “Semoga Allah memberkati kalian berdua nanti malam.” Maka, malam itu juga Ummu Sulaim hamil lagi, mengandung Abdullah bin Abu Thalhah.
.
Setelah melahirkan bayinya, Ummu Sulaim menyuruh Anas menghadap Rasulullah dengan menggendong bayi mungil itu sambil membawa beberapa butir kurma ‘ajwah. Kata Anas, “Sesampaiku di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kudapati beliau sedang memberi cap pada untanya.”
.
“Wahai Rasulullah, semalam Ummu Sulaim melahirkan anaknya,” kataku. Maka beliau memungut kurma yang kubawa lalu mengunyahnya dengan air liur beliau, kemudian menyuapkan kepada si bayi. Bayi mungil itu mengulum kurma tadi dengan ujung lidahnya. Maka Rasulullah tersenyum sembari berkata, “Memang, makanan kesukaan orang Anshar adalah kurma.”
.
“Namailah dia, wahai Rasulullah,” pintaku kepadanya.
“Namanya Abdullah,” jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Doa Rasulullah kepada Abu Thalhah ternyata tak sekadar menjadikannya punya anak. Akan tetapi, anak itu (Abdullah) kemudian tumbuh menjadi anak shalih yang dikaruniai tujuh orang keturunan yang shalih-shalih pula. Menurut penuturan salah seorang perawi yang bernama ‘Abayah, ketujuh anak Abdullah bin Abi Thalhah tadi telah khatam Al-Quran sewaktu masih kecil.
.
Keberanian Ummu Sulaim
.
Sosok wanita seperti Ummu Sulaim sulit dicari tandingannya. Selain cerdas dan penyabar, ia juga seorang pemberani. Anas menceritakan, bahwa suatu ketika Abu Thalhah berpapasan dengan Ummu Sulaim ketika perang Hunain. Ia melihat bahwa di tangannya ada sebilah pisau, maka Abu Thalhah segera melaporkan kepada Rasulullah perihal Ummu Sulaim, “Wahai Rasulullah, lihatlah Ummu Sulaim keluar rumah sambil membawa pisau,” kata Abu Thalhah.
.
“Wahai Rasulullah, pisau ini sengaja kusiapkan untuk merobek perut orang musyrik yang berani mendekatiku,” jawab Ummu Sulaim.
.
Menurut Adz-Dzahabi, Ummu Sulaim juga ikut terjun dalam perang Uhud bersama Rasulullah. Ketika itu ia juga kedapatan membawa sebilah pisau.
.
Belajarlah menjadi wanita muslimah seperti Ummu sulaim yang menginspirasi 😇
.